Anjing

Sumber : CentroOne


Disudut desa rumah kedua setelah rumah kosong itu, tepat jam 9 malam atau jam 6 pagi. Kau akan menemui Anjing. Menyalak kepada siapapun yang lewat tanpa membunyikan klakson ataupun sekedar mengucap salam. Kalau kau sudah bertegur sapa, mereka dengan senang hati akan mengikutimu higga tujuanmu. Tapi, di atas jam 9, baik orang desa maupun orang asing akan di kejarnya. 

Entah sejak kapan mereka datang ke desa ini, berkembang biak dengan pesat. Bahkan mungkin jumlahnya hampir sama dengan jumlah orang di desa itu. Rumah kedua di sudut desa adalah markasnya setiap malam. Anjing anjing akan berkeliaran di siang hari dan akan berjaga di malam hari untuk menyalak. Namun ada yang berbeda. Mereka begitu akrab bermain dan bercanda dengan orang-orang desa ini. 

Tapi, hari ini begitu lucu. Orang oraang berjalan dengan muka hampa. Tak ada anjing yang menyalak. Desa sepi, jalanan lenggang. Benar benar sesuatu yang mustahil  

Malam ini, jam 9 kurang 10 menit. Bersama Fifi, sepulang dari gladi bersih pementasan teater besok malam bersepeda melalui sudut desa itu. Menyiapkan keberanian yang lebih, jika saja 5 menit lagi belum melewati rumah kedua itu, tentu anjing-anjing itu akan mengejar seperti dulu.
“Assalamu’alaikum, ndherek langkung,” teriak kami kencang
Namun seketika hening, tak ada anjing yang mengikuti atau bahkan menyahutpun.
Tumben sepi ya Fi,”
“Kamu merasa ada yang aneh?”
“Entahlah, aku hanya merasa ada yang kurang sejak berangkat sekolah tadi pagi,”
Dingin malam semakin menyeruak. Tak ada anjing yang mengikutiku hingga rumah. Bahkan jangkrikpun enggan bersuara. Kedekatanku sejak kecil dengan binatang membuatku paham bahwa cinta sejati justru ada pada jiwa mereka. Mereka lebih harmonis, mereka saling mencinta. Bahkan perkelahian selalu berakhir dangan pelukan, bukan pembunuhan seperti yang dilakukan oleh manusia. Manusia memang lebih binatang daripada binatang. 
 
Setelah berpisah dengan Fifi di persimpangan, aku semakin merenung. Tak ada orang yang keluar sama sekali. Lampu lampu rumah telah berganti menjadi lentera di pojokan. Hingga tiba di rumah paling ujung, aku berbelok. Mengetuk pintu dan mengucap salam.
“Assalamu’alaikum, bu aku pulang,” ucapku
“Wa’alaikumsalam, seger makan lalu istirahat!”
“Iya bu. Oh ya, hari ini kenapa aneh sekali. Aku tak menemui satupun Anjing sejak pagi. Bahkan waktu aku mengucap salam saja mereka tak ada yang menyahut,” aduku
“Nanti kamu juga tahu penyebabnya,”
“Memangnya kenapa bu?”
“Semua anjing di tangkap tentara. Dibuang di hutan sebelah utara desa, mungkin di bunuh atau dimusnakan,”
“Kenapa mereka di tangkap bu?”
“Tadi pagi, DPR digigit Bromo,”
“Bromo? Anjingnya pak DPR? Anjing yang galak itu?”
 “Dia memang anjing yang galak, semua orang yang pernah berkunjung di rumahnya, pasti kena gigit,”

“Makanya kalau jadi orang harus menjaga lisannya. Tidak berkata ngawur seenak jidat. Pak DPR kan gudangnya kata kata kasar,” ucap Ayah. 

Kini akupun paham apa yang dimaksud oleh Ayah. Tapi kenapa bukan DPR yang dibuang di hutan, kenapa malah anjing anjing yang dijadikan korban. Bukankah semua ini kibat ulah mulut DPR sendiri. 

Paginya, aku berangkat sekolah. Kali ini aku sendirian, Fifi diantar orang tuanya. Keluar rumah suasana sangat ramai. Anjing anjing keliaran di jalan. Apa yang terjadi? Mereka berlipat ganda. Orang orang bercanda ria. Apakah yang kulihat ini nyata? Aku melihat anjing anjing keluar dari mulut orang desa.
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar