Perang Tagar di Tahun Politik

Sumber: https://locita.co/esai/tarung-jokowi-vs-prabowo-di-panggung-medsos


Nuansa Online - Masih sering kita lihat dan kita dengar gerakan tagar politik yang bertajuk #2019GantiPresiden. Tagar tersebut sering kita jumpai  dalam bentuk kaus, spanduk, dan bahkan kini sudah ada versi lagunya. Tagar #2019GantiPresiden diperkenalkan oleh politikus dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yaitu Mardani Ali Sera dengan tujuan untuk memberikan pendidikan politik kepada masyarakat, setidaknya begitulah alasan yang pernah disampaikannya. Kita semua tahu bahwa gerakan tagar politik ini digalakkan oleh kubu oposisi dari rezim yang tengah berkuasa saat ini.

Gerakan tagar politik ini muncul bebarengan dengan momentum dimana mayoritas generasi milenial mulai menggunakan hak politiknya untuk pertama kalinya. Nampaknya kubu oposisi cukup jeli dalam  memanfaatkan peluang politik dengan memanfaatkan media sosial yang di dalamnya terdapat dunia para kaum milenial sebagai media dalam melakukan kampanye terselubung.

Fenomena seperti ini cukup menarik untuk kita amati karena perang tagar ini sebenarnya merujuk pada laga kedua pertarungan antara Jokowi dengan lawan politik terkuatnya yang tidak lain adalah Prabowo. Nampaknya atmosfer pertarungan keduanya di Pilpres 2014 silam belum usai karena selama masa pemerintahan Jokowi kubu Prabowo tak jarang memberikan kritikan-kritikan pedas pada beberapa kebijakan yang dilakukan oleh Pemerintahan Jokowi. Hal ini tidak hanya terjadi di kalangan elit politik saja, masyarakat dari berbagai latar belakang baru-baru ini juga mulai menyatakan dukungannya kepada salah satu kubu melalui media sosial Facebook, Twitter, dan Instagram.

Dukungan yang disuarakan dalam media sosial pun bermacam-macam. Secara garis besar dukungan mereka dapat dikelompokkan menjadi 2 tagar, yaitu #2019GantiPresiden untuk pendukung Prabowo dan #Jokowi2Periode untuk pendukung Jokowi. Namun sayangnya,  dari sekian banyak dukungan dari kedua kubu yang diunggah ke media sosial malah bukan berupa dukungan melainkan berita bohong. Parahnya lagi sebagian besar berita bohong ini disebarkan oleh akun buzzer. Seperti yang disampaikan oleh Viyasa Rahyaputra selaku peneliti Center for Digital Society (CfDs) Fisipol UGM. ”Menjelang pilkada dan pilpres jumlah akun buzzer dan akun robot semakin banyak bermunculan. Umumnya akun ini menanggapi soal berita politik dengan mengutip sumber berita yang tidak jelas. Oleh karena itu, warga internet (warganet) diharapkan lebih peka dalam merespons akun semacam ini sehingga diperlukan sikap lebih bijak dalam menerima, memproses, mengolah serta membagikan infomasi ke media sosial.” Hal tersebut dikemukakan saat penyampaian hasil penelitiannya mengenai sentimen warganet terhadap isu UU MD3 di twitter dan portal Berita Daring.

Hal semacam ini semakin mudah terjadi karena minat baca di Indonesia yang bisa dibilang masih sangat rendah. Sebagian orang hanya menangkap informasi berdasarkan ‘katanya’ dan lebih memilih untuk langsung mempercayai sebuah informasi yang baru saja didapatkan daripada mencari kebenaran informasi tersebut. Tidak cukup sampai disitu, orang-orang yang mudah percaya ini pun kadang turut serta menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya sehingga informasi tersebut makin meluas sebelum dikonfirmasi kebenarannya.

Antusiasme masyarakat dalam meramaikan pesta demokrasi terbesar republik ini perlu diapresiasi, akan tetapi hal tersebut alangkah baiknya juga diimbangi dengan antusiasme dalam bidang membaca. Jika antusiasme dalam bidang membaca juga baik maka informasi yang beredar dapat difilterisasi terlebih dahulu sehingga kedepannya diharapkan penyebaran berita bohong dapat diminimalisasi. (koho)
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar