Korban Perangai Mahasiswa Kampus

Sumber : https://indonesiantoday.id

Oleh:
Ardhia Revarti Azhar
Mahasiswa Teknik Mesin 2016

Menyapa bukan berarti kenal, tapi menyapa pasti berarti dalam. Stigma-stigma yang berkembang dan mempengaruhi kita sebagai mahasiswa ialah dogma yang susah untuk diubah pun diperbaiki meski kesempatannya mungkin 0,5 %, mengapa? Karna kita dapat lirik dari kualitas diri yang dianggap sudah meroket yang pada kenyataannya masih butuh peninjauan kembali. Begini, mahasiswa memiliki makna yang luas, dan akan menjadi sempit apabila kita cetek menggalinya. Hakikatnya makhluk sosial, kita pun perlu mengenal satu sama lain bukan? Ya bukan mengenal hanya sebatas dia kolega kita, teman satu organisasi pun teman satu kos, see. Kesenjangan yang mengakar ini akan terus bertumbuh subur apabila diberi pupuk.

Kampus sebagai wadah, ruang, lingkungan yang sangat tepat untuk pengembangan diri, tapi masih saja salah digunakan. Menjadi netral memang hanya isapan jempol belaka, banyak kalangan yang mementingkan golongannya sendiri. Kok bisa? Ya budaya, ya adat, ya kebiasaan. Susah untuk mengubah? Ya siap-siap untuk susah berkembang dan dimatikan hatinya kan ya? lingkungan terasa sempit apalagi adanya isu-isu kampus utara vs kampus selatan. Etis? Apanya! Apalagi satu kampus, buat apa kita lesatkan kepentingan golongan kita, toh jatuhnya berapriori, seperti yang kalian tau itu sama saja menghakimi sesama kita, sungguh falsifikasi yang memalukan.

Ketergerakan hati itu susah apa ya didapat? Etika pada kemana sih? Gila dengan suguhan dunia kok bangga? Malu-maluin iya, orang tua tau juga kalian yang malu ujung-ujungnya, ayolah kawan, buta untuk berusaha melihat kegelapan atau bisu untuk giat mendengar?. Lelah pada berita hoax yang menghinggut sekitar, cobalah sehat akal, cobalah terima lapang dada. Kepada kenyataan kita bersandar kepada kepalsuan kita menghindar.

Miris, masih saya ratapi, kapan kampus ideal saya jumpai? Mungkin hingga kiamat pun sulit untuk dipenuhi. Kurindu hingga ku menunggu, entah bergerak untuk mengelak? Atau bergerak untuk berakhlak? Ingat dunia hanya fana, yang nyata dan pasti adanya ya akhirat, gunakan waktu singkat ini untuk perbaiki diri dan cobalah untuk membuat setidaknya 100 orang tersenyum ikhlas lepas tanpa embel-embel karna esok aku maju.

Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar