Pelantikan BEM dan DPM KM UMY: Sinergisitas Pemerintahan Mahasiswa di Kampus

Suasana Pelantikan DPM KM UMY oleh Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan Bapak Hilman Latief di Ruang Amphitheatre Gedung Pascasarjana lantai 4 UMY (13/07). (Foto : NUANSA/ Monika)

Nuansa Online - Komisi Pemilihan Umum dan Badan Pengawas Pemilu Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (KPU dan Bawaslu UMY) telah selesai dalam menyelenggarakan Pemilihan Umum Raya (Pemira) di UMY pada bulan Mei lalu dengan terpilihnya Affan Ghaffar Fadilah dan Hilmy Priliadi sebagai Presiden dan Wakil Presiden UMY. Pelantikan Badan Eksekutif Mahasiswa dan Dewan Perwakilan Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (BEM dan DPM UMY) ini diselenggarakan di Ruang Amphitheatre Gedung Pascasarjana lantai 4 UMY pada Jumat, 13 Juli 2018. Pelantikan ini dihadiri oleh Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan Bapak Hilman Latief yang sekaligus melantik Presiden dan Wakil Presiden serta pengurus BEM dan DPM yang baru. Selain itu, pelantikan juga dihadiri oleh perwakilan LPKA Bapak Sobar serta tamu undangan dari keluarga BEM Universitas lain seperti BEM UAD.

Rangkaian acara pelantikan ini diantaranya selain melantik pengurus BEM dan DPM KM UMY yang baru juga sekaligus serah terima jabatan dari Presiden BEM yang lama (Febi) ke Presiden BEM yang baru (Affan) serta Ketua DPM yang lama (Rofiq) ke Ketua DPM yang baru (Rammadhany) dengan dilanjutkan sambutan ketua lama dan ketua baru. Pelantikan diawali dengan melantik pengurus DPM yang diketuai oleh Rammadhany dan wakilnya Muhammad Fauzan Ramadana serta Komisinya (Komisi 1-Komisi 4) disusul dengan pelantikan pengurusan BEM Presiden dan Wakil Presiden serta para Menterinya (Menteri Dalam Negeri, Menteri Luar Negeri, Menteri Kajian Isu Strategis dan Advokasi, Menteri Pendidikan Budaya dan Olahraga, Menteri Agama, Menteri Sosial Masyarakat, Menteri Kesehatan, Menteri Teknologi Informasi dan Komunikasi, dan Menteri Keuangan).
Serah Terima Jabatan Presiden Mahasiswa UMY 2017 Febi Fauzan Azmi ke Presiden Mahasiswa UMY 2018 Affan Ghaffar Fadilah di Ruang Amphitheatre Gedung Pascasarjana lantai 4 UMY (13/07). (Foto : NUANSA/ Amanda) 

“Utamakan prioritas, tidak perlu banyak tetapi ada beberapa program atau kegiatan yang diunggulkan bisa terlaksana serta Anda harus bisa memfungsikan diri sebagai Pemerintahan Nasional di UMY yang harus bisa berkoordinasi dan bersinergi dengan Gubernur yang secara struktur pemerintahannya di bawah Anda dan tentu akan kita lihat banyak program-program yang bisa disinergikan,” tutur Bapak Hilman selaku Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dalam sambutannya. Program maupun kegiatan yang akan dilaksanakan diusahakan untuk melakukan koordinasi dengan BEM Fakultas maupun Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) tingkat jurusan agar menjadikan sinergi. BEM maupun DPM bisa berperan sebagai pier dimana banyak program di UMY yang harus melibatkan mahasiswa khususnya dekat dengan banyak isu di kampus.


“BEM harus mampu menjadi jembatan antara mahasiswa dan birokrat kampus dan kemudian mampu menjadi fasilitator, makna eksekutif disini bukan menciptakan tetapi untuk kemudian memberikan ruang bagi mahasiswa. Fungsi BEM sebagai penyambung untuk mewadahi mahasiswa yang sekiranya memiliki porosnya masing-masing seperti poros literasi, poros diskusi, dan poros wirausaha yang dimana kementerian-kementeriannya harus mampu menyediakan ruang-ruang itu agar kemudian kita semua memiliki sinergisitas itu sendiri” ucap Affan selaku Presiden Mahasiswa UMY.  Tim Kabinet Berkemajuan dalam mensosialisasikan program akan segera merancang rakernya. Masa Ta’aruf (Mataf) merupakan gerbang utama untuk kemudian BEM KM UMY bisa dekat dengan BEM Fakultas, lembaga di jurusan, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di UMY dan mahasiswa lainnya dalam hubungan kultural maupun emosional.

“Peran DPM terutama untuk penyalur aspirasi mahasiswa sendiri seperti parkiran motor yang ada di UMY, aspirasi itu akan kita tampung dan kita diskusikan dengan Rektorat  atau Pimpinan Universitas. Kalau yang dibentuk dari DPM tahun ini adalah membangun nalar kritis mahasiswa, dimana mahasiswa terutama mahasiswa baru bisa membangun nalar kritisnya sejak dini terkait dengan dosen, pendidikan, kuliah dan lainnya itu harus dibangun nalar kritisnya,” ungkap Rammadhany selaku Ketua DPM KM UMY. Melihat dari keresahan mahasiswa menjadikan peran penting serta tugas dari DPM untuk bicara dengan Pimpinan Universitas. Salah satu contoh agenda dari DPM mengadakan Public Hearing satu hari bersama Rektor dan di dalamnya ada BEM, DPM serta lembaga lainnya untuk memfasilitasi aspirasi mahasiswa agar langsung tersampaikan kepada Pimpinan Universitas.

Dilantiknya BEM dan DPM periode ini tentu menaruh harapan besar dari segenap mahasiswa UMY maupun civitas akademik nya. Seperti yang diungkapkan Sobar Jauhari selaku kepala divisi minat dan bakat LPKA (Lembaga Pengembangan Kemahasiswaan dan Alumni), “Saya harap BEM dan DPM Universitas ini dapat mempresentasikan bahwa mereka itu betul-betul sebagai agen perubahan kampus yang menginspirasi mahasiswa untuk berguna bagi orang di sekelilingnya. Kemudian, pembagian peran penting posisi BEM di universitas dan di fakultas. Kalau merujuk di pemerintahan mahasiswa, itu kan seharusnya ada konektivitas antara BEM universitas dan BEM-BEM fakultas. Sehingga kegiatannya itu sinergi. Dan ingat, BEM Universitas merupakan representasi dari pemerintahan mahasiswa di UMY jadi harus bisa berperan penting sebagai corong perwakilan negara untuk keluar universitas. Untuk DPM, diharapkan DPM dapat berperan pro aktif terhadap mahasiswa. Menerima segala aspirasi mahasiswa. Lebih tegas lagi dalam mengevaluasi kinerja-kinerja BEM termasuk kebijakan-kebijakan ketika ada agenda kegiatan. Agar terciptanya keseimbangan dalam pemerintahan mahasiswa di UMY.” (aci,ypm)
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar