Pemira 2018: Antusiasme Mahasiswa Tidak Menyeluruh



Nuansa Online - Proses pemungutan suara Pemilihan Umum Raya (Pemira) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) dilaksanakan mempertemukan dua kubu Calon Anggota Dewan Permusyaratan Mahasiswa (DPM) dan Calon Presiden (Capres)-Wakil Presiden (Wapres) Mahasiswa dari Partai Jas Merah (PJM) nomor urut 1 dan Partai Islam Progresif (PIP) nomor urut 3. Tempat Pemungutan Suara (TPS) tersebar di seluruh fakultas pada lingkungan kampus terpadu UMY, buka dari 8.00 sampai 17.00 WIB, dan mendapat respon antusiasme yang beragam dari mahasiswa setempat.

Bima Kuntarajati, Ketua Komisi Pemilihan Umum Mahasiswa (KPUM), mengakui antusiasme mahasiswa UMY tidak tersebar secara menyeluruh, terbukti dari beberapa titik TPS yang masih terbilang sepi seperti di Fakultas Pendidikan Bahasa (FPB). Menanggapi masalah tersebut, sejumpah komisioner dan staf diturunkan untuk mengajak mahasiswa UMY berpatisipasi dalam Pemira melalui media sosial dan secara langsung di lobi setiap fakultas.

Sementara itu, antusiasme pemilih justru sebagian muncul dari fakultas asal para Capres dan Wapres. “Target pemilih dalam Pemira ini sudah memenuhi estimasinya, dan sudah melampaui jumlah pemilih tahun lalu yang berjumlah 5600-an pemilih dari Daftar Pemilih Tetap (DPT) sebanyak 19000 pemilih,” lanjutnya Bima.

Menjelang penutupan TPS, Nuansa mendapati adanya kericuhan di Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB). Kericuhan bermula dari pemungutan suara yang dilakukan melampaui batas waktu. Salah satu partai meminta tambahan waktu karena keterlambatan pembukaan TPS di FEB sehingga waktu pemilihan terpotong. Sementara partai lain yang mengetahuinya tidak terima akan hal tersebut. Ditemui di lokasi menjelang magrib, Ketua Banwaslu, Febriza Kurniawan, mengakui tidak tahu detail kejadiannya. “Tadi saya sedang presentasi, jadi belum sampai kesana,” ucapnya.

Tidak Dirasakan Semua Mahasiswa

Berlangsungnya Pemira masih belum dirasakan oleh semua mahasiswa UMY secara menyeluruh. Hasan Sunar, mahasiswa Hubungan Internasional (HI), menilai panitia kurang memaparkan secara jelas mengenai calon serta kurangnya keterbukaan informasi. “Pemira tahun ini kurang terasa dibanding pemira tahun 2017. Pemira kali ini seolah-olah hanya diikuti oleh partai-partai yang ikut serta dan hanya sebatas seremonial saja untuk mereka,” ungkapnya.

Senada dengan hal itu, sosialisasi politik yang kurang dari pihak-pihak terkait disesalkan oleh mahasiswa. Esti Erianti misalnya, mahasiswa Fakultas Pendidikan Bahasa (FPB) mengakui minim pengetahuan terkait Pemira dan calon-calon yang akan dipilih. “Saya bahkan tidak tahu bahwa hari ini ada acara Pemira. Saya tidak tahu juga mengenai calonnya karena publikasi baru disebar tiga hari sebelum Pemira. Saya rasa hal ini dikarenakan publikasi dari panitia kurang terasa dan kurang menyeluruh sehingga hanya fakultas tertentu saja yang tahu akan hal ini,” ujarnya. (kd, ska)

Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar