Mengenang Reformasi, Menolak Orde Baru



Nuansa Online - Mengenang Reformasi, pameran foto beserta diskusi lintas pergerakan bertajuk ‘Refleksi 20 Tahun Reformasi: Untuk Alasan Apapun Kami Tak Mau Kembali ke Orde Baru’ diselenggarakan aktivis mahasiswa yang tergabung dalam Persatuan Nasional Aktivis (PENA), 15-19 Mei di lobi-lobi fakultas Kampus Terpadu Universitas Muhmmadiyah Yogyakarta (UMY).

Adanya acara ini untuk merefleksikan 20 tahun Reformasi. Sebagaimana yang kita ketahui, begitu banyak pengorbanan khususnya region Jawa, Jakarta serta saudara-saudara kita (red: di daerah lain) untuk memperjuangkan dan menyusun tata negara yang lebih baik lagi pada tahun 1998,” ujar Fikri Anggriono, Ketua Koordinator Komisariat (Korkom) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) UMY saat dijumpai di lokasi pameran foto.

Pameran ini melibatkan beberapa gerakan mahasiswa di lingkungan UMY, antara lain IMM, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Solidaritas untuk Orang Pinggiran dan Perjuangan Kampus (SOPINK), Pembebasan, Rakyat Sastra, Forum Sekolah Bersama (Sekber), dan disertai Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa (BEM KM) UMY.

Foto-foto yang dipamerkan kali ini diambil dari beberapa media nasional seperti Tribun, Kompas dan beberapa media cetak dengan mendapatkan persetujuan oleh pihak yang bersangkutan. Foto yang dipamerkan banyak menunjukkan bagaimana keadaan perjuangan mahasiswa di masa Orde Baru.

Tolak Orde Baru Datang Lagi

Karena Orde Baru memiliki berbagai macam dampak negatif yang berbahaya. Bukan dari kemiskinan dan segala macam, tetapi penyeragaman pikiran dan pembatasan pergerakan rakyat. Penolakan ini terjadi karena traumatik bangsa ini terhadap rezim itu sendiri dan kita belum bisa terlepas dari rezim itu, semua tergantung bagaimana sikap para mahasiswanya sendiri, mau mendorong perubahan,” ungkap Eren Dhoehiri, Ketua SOPINK UMY.

Menurut Eren, setelah 20 tahun Indonesia mengalami Orde Reformasi, Orde Baru belum benar-benar hilang. Jiwa dan otaknya Orde Baru masih ada seperti Korupsi Kolusi dan Nepotisme (KKN), pemimpin hipokrit, dan kelompok-kelompok oportunis yang merupakan penjelmaan orde baru pada saat ini.

Hal senada juga diungkapkan oleh Fikri, dimana cita-cita Reformasi belum terwujud saat ini. Ia mencontohkan, banyaknya kaum bermodal yang mampu memberi asset namun hanya untuk keperluan pribadi.

“Dengan kita melihat kondisi bangsa yang sekarang ini, terlihat seperti orde baru akan datang lagi. Secara kecilnya dalam situasi kampus, pendidikan seperti dikomersialisasikan, aparat mendiskriminasi orang-orang dibawahnya yang menunjukkan aspirasinya. Seperti kita ingat dalam masa orde yang berani menyampaikan aspirasinya sangat dikecam,” tutur Fikri, mengungkapkan hal yang senada.

Eren berpesan untuk terus bercermin terhadap Reformasi 1998 sebagai evaluasi terhadap mahasiswa di masa sekarang. “Seperti membaca sejarah kepentingan politik bangsa, yang di mana itu menjadi salah satu cara kita mengenali diri sendiri sebagai manusia, jelasnya. (feba, putri)
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar