GERAM


Nuansa Online - Pepatah Melayu mengatakan “Dimana bumi di pijak disitu langit di junjung” Sebuah gambaran bagaimana seseorang yang merantau berada di suatu wilayah untuk menghormati norma-norma  yang berlaku dan melakukan tindakan yang dapat memicu perselisihan. Yogyakarta merupakan kota pelajar sehingga mendapatkan julukan Kota pelajar. Namun, terdapat berbagai macam gerakan-gerakan berbau provokatif yang dilakukan mahasiswa yang berlajar di sana. Salah satunya yang pernah terjadi akhir tahun 2015 dimana  segelintir oknum mendeklarasikan dukungan untuk terciptanya Negara Papua Merdeka. Hal Tersebut memicu kegaduhan di Yogyakarta sendiri terlebih lagi respon-respon dari ormas-ormas yang cinta terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Namun kasus tersebut telah berakhir, kini muncul lagi kasus baru yaitu kericuhan pada aksi May Day di Yogyakarta.

Aksi Peringatan May Day atau Hari buruh Internasional di pertigaan UIN Sunan Kalijaga yang dilakukan oleh Gerakan Aliansi Mahasiswa 1 Mei (GERAM) mendapatkan Respon negatif dari masyarakat sekitar dan masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta. Pasalnya mereka melakukan aksi-aksi provokatif seperti membakar pos polisi dan melakukan aksi vandalisme di tembok-tembok dan berbagai fasilitas umum. Namun ada satu hal yang menarik dari sekian banyak tuntutan dari Gerakan Aliansi Mahasiswa 1 Mei tersebut ialah Hapus Foedalis Jogja. Dan di perparah dengan aksi-aksi vandalisme berbau provokatis “Bunuh Sultan”. Hal ini dapat memicu kemarahan masyarakat Jogja terhadap gerakan-gerakan yang menggunakan embel-embel mahasiswa. Efek paling buruk dari gerakan ini ialah timbul kecurigaan di masyarakat terhadap mahasiswa yang menuntut ilmu di Daerah Istimewa dan terciptanya gesekan antar golongan. Mengingat Sultan sendiri merupakan Raja bagi masyarakat Yogyakarta, pasti di hormati dan di tinggikan oleh rakyatnya bahkan rela mati untuk membela sang raja. Sungguh tidak rasional.

Semua sepakat Indonesia merupakan negara Demokrasi, salah satu cara menyampaikan aspirasi dengan melakukan aksi demo. Tapi apakah setiap tuntutan yang tidak objektif dan rasional dapat dipenuhi atau apakah layak untuk di bicarakan?. Mungkin saja banyak mahasiswa yang tidak tergabung dengan aksi tersebut menertawakan perihal tuntutan mereka. Mungkin aksi-aksi seperti ini masih belum ber-effect terhadap golongan lain tapi bisa saja suatu saat akan pecah dan berakibat pada hal-hal yang tidak di inginkan. Ya walaupun Sultan sendiri sudah memaafkan dan meminta rakyatnya untuk menahan diri bukan tidak mungkin bila ada kegiatan yang serupa dan mengancam kami yang merantau di tanah istimewa ini bukan?. (Muh. Fahrulrozzi Iriasnyah
Hubungan Internasional 2016)

Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar