Dokumenter, Dari Hulu ke Hilir



Nuansa Online - PARADOK (Parade Dokumenter) memang didesain sebagai mata kuliah yang mensimulasi pembuatan karya dari hulu sampai hilir, maksudnya yaitu dari membuat sebuah film hingga bagaimana film tersebut dapat dipertontonkan,” jelas Budi Dwi Arifianto, Dosen Ilmu Komunikasi (IK) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Penjelasan Budi tersebut mengantar penayangan 7 buah karya mahasiswa IK UMY konsentrasi Broadcasting dalam PARADOK, Rabu petang (8/5), di Taman Budaya Yogyakarta (TBY), Kota Yogyakarta.

Film pertama berjudul ANTARA’, menceritakan tentang Pasar Srowolan, yang disebut juga sebagai pasar perjuangan, karena menjadi tempat para pejuang mendapatkan bekal untuk berperang melawan penjajah.

Film kedua berjudul SEALING DEALING, mengisahkan tentang kehidupan seorang pedagang bernama Pak Laksono, yang berdagang dengan cara unik yaitu melelang barangnya.

Film ketiga yaitu SIMBIOSIS’, mengungkapkan tentang kebijakan pemerintah yang sering sekali merugikan nelayan tradisional.

Film keempat dengan judul WARISAN’, mengisahkan tentang akulturasi agama yang berpengaruh terhadap racikan daging kerbau pada Soto Kudus.

Film kelima, SINAWANG, menggambarkan perspektif masyarakat di Bibis, Bantul tentang Presiden Soeharto.

Film keenam, SAMAR’, mengisahkan tentang Lia, berkerja sebagai buruh suara pada tempat hiburan malam di Selatan Kota Bantul. Lia dihadapkan pada situasi sulit, tempatnya menggantungkan nasib akan ditutup oleh pemerintah karena statusnya yang illegal, sementara dia seorang single parent, harus menghidupi anak dan orang tuanya di rumah.

Film terakhir, ‘SEMPRIT, mengisahkan tentang Heni, perempuan yang berprofesi sebagai polisi cepek di perempatan Jalan Kronggohan, Triharjo, Sleman. Heni adalah perempuan dengan kepribadian kuat, selalu teguh pada pendiriannya. Baginya, lalu lintas yang lancar adalah hal utama ketimbang uang yang ia dapatkan. Ia tidak segan untuk memberi peringatan keras bagi pengendara yang tidak mematuhi arahannya. Dibalik ketegasannya, Heni tetaplah manusia biasa.

PARADOK, seperti yang diungkapkan Ricki Harahap, Ketua Pelaksana, menjadi ajang memperkenalkan dan mengajak masyarakat umum untuk turut memberi apresiasi kepada dokumenter. “PARADOK adalah output dari mata kuliah Film Dokumenter yang sudah dikerjakan selama dua semester. Hal yang paling sulit dari pembuatan flm dokumenter adalah proses riset, karena jika salah dalam melakukannya akan berdampak fatal bagi produksi,” ungkapnya.

Film dokumenter, selain memberikan nilai hiburan, juga dapat menambah wawasan baru, hal ini dirasakan oleh masyarakat yang hadir, salah satunya Kirani, siswa Sekolah Menengah Atas (SMA). “Kami datang ke sini niatnya untuk menambah ilmu dan wawasan , karena kami masih belum mengetahui banyak hal tentang dunia film, ujarnya. (elvia, sigit)

Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar