Realita dan Idealita Indonesia sebagai Lumbung Pangan Dunia


Nuansa Online - Menanggapi visi Indonesia menjadi lumbung pangan dunia pada tahun 2045, Himpunan Keluarga Tani Indonesia (HKTI) menilai berkurangnya lahan pertanian di tengah meningkatnya laju penduduk menjadi hambatan utama. Pemerintah seharusnya memberikan penekanan terhadap area pertanian khususnya di luar Jawa, perlu ada keseimbangan pembangunan antara infrastruktur dan perluasan lahan pertanian,” jelas Siswono Yudo Husodo, Ketua Umum HKTI periode 2016, dalam seminar nasional ‘Agrotalk’ yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Agroteknologi (HIMAGRO) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) pada Sabtu (14/4).

Lanjut, Siswono menambahkan, walaupun upaya pemerintah dalam meningkatkan pertanian nasional sangat besar, seperti misalnya anggaran untuk pertanian adalah yang terbesar keempat, masih ada sektor lain yang perlu dibenahi, salah satunya pada peralatan penunjang pertanian. “Ketenagakerjaan terkait pertanian terbilang cukup banyak, namun sekitar 45% petani di Indonesia masih menggunakan pacul yang tentunya akan menghabiskan waktu lama dan produksi terbatas. Apabila para petani menggunakan traktor maka selain mempersingkat waktu, hasil yang diproduksi tentunya akan semakin besar,” jelasnya.

Sementara itu, Hasil Sembiring, peneliti dan Ketua International Rice Research Institute Indonesia, dalam pemaparan materinya mengungkap peluang Indonesia menjadi lumbung pangan dunia sangat mungkin diwujudkan karena banyak jenis pangan dari Indonesia yang diekspor ke berbagai negara. “Asalkan konsisten untuk saling men-support dalam jangka panjang sangat mungkin bila Indonesia menjadi lumbung pangan dunia walaupun sekarang kita harus idealis dulu baru nanti realistis,” ungkapnya.
Di sisi lain, Gunawan Budianto, Rektor UMY yang juga akademisi di bidang Pertanian, menanggapi visi Indonesia menjadi lumbung pangan dunia pada 2045, dalam penyampaiannya sebagai pengisi seminar mengungkapkan harus adanya optimisme di satu sisi, dan realistis di sisi lain. “Sebelum Indonesia bermimpi menjadi lumbung pangan dunia ada hal yang harus diperhatikan terkait sistem pangan lokal yang berkelanjutan yaitu produksi, proses distribusi, akses produksi, konsumsi, sumber produksi dan pemulihan sampah,” tanggapnya.

Tambah Gunawan, ia juga berpesan kepada mahasiswa pertanian untuk lebih aktif terjun ke lapangan seperti yang telah dilakukan oleh Muhammadiyah. “Muhammadiyah sudah banyak membina petani untuk mengurusi masalah lumbung pangan, banyak sekali lahan yang digunakan untuk berkebun, maka daripada itu layaknya pelajar pertanian harus pintar dan mulai banyak turun terjun ke lapangan,” lanjutnya.
Seminar nasional ‘Agrotalk’ yang mengangkat tema ‘Mewujudkan Indonesia sebagai Lumbung Pangan Dunia, Idealis atau Realistis,’ merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Agrotech Fair oleh HIMAGRO UMY. Abdi Nugroho, Ketua Pelaksana kegiatan, menyebutkan bahwa tujuan diadakannya acara ini guna mewujudkan proram pemerintah khususnya di bidang pertanian, sehingga memberi inspirasi bagi mahasiswa pertanian untuk bisa berinovasi dan berkreasi. (az, andini s. 
x
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar