Menghadapi Darurat Moral di Indonesia



Nuansa Online - “Negara kita memang lagi darurat moral, ada sesuatu yang salah dalam negeri kita,” ungkap Handy Bonny, da’i asal Bandung, Jawa Barat, dalam ceramahnya di Masjid K. H. Ahmad Dahlan, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Rabu petang (18/4). Dalam ceramah yang berbentuk Tabligh Akbar sebagai rangkaian dari Milad Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIPOL) ke-37 tersebut, Bonny, sapaan akrabnya, mengungkapkan pengamatannya terkait kondisi masyarakat yang kini mengalami kemunduran dimana semangat gotong royong, kebersamaan dan nilai-nilai sosial sudah tidak hidup lagi, bahkan dalam unsur terkecil pun, seperti saling sapa, sudah tidak berkembang di masyarakat.

Salah satu penyebab kondisi darurat tersebut menurutnya adalah adanya degradasi moral para pemuda, dengan maraknya kelakuan maksiat utamanya melalui pacaran. “Pacaran itu termasuk yang namanya degradasi moral, kehancuran moral dari bangsa kita,” jelas Bonny.
Bonny memaparkan data-data dari Komisi Nasional (Komnas) Perempuan dan Komnas Perlindungan Anak yang semuanya menunjukkan fakta bahwa korban utama dari segala masalah cinta adalah perempuan. Pacaran akan membuat kehidupan perempuan dan bangsa menjadi hancur. “Seandainya engkau ingin menghancurkan peradaban suatu bangsa maka hancurkanlah wanita, hinakanlah wanita, tapi seandainya engkau ingin memajukan peradaban suatu bangsa maka muliakanlah wanita,” tuturnya mengutip pendapat seorang ulama.

Maka dari itu, menurut Bonny, revolusi moral akan terwujud ketika perubahan tersebut menghasilkan etika. Dalam Islam, tambahnya, etika disebut dengan akhlak, yangmana sesuai dengan penciptanya yakni Allah SWT, dan sesuatu yang dianggap baik menurut Allah pasti baik manusia.

Persatuan di Indonesia tidak bisa tercapai jika manusianya tidak adil dan beradab, dan adil dan beradabnya manusia tidak pernah bisa tanpa adanya Ketuhanan yang Maha Esa,” jelas Bonny dalam memberikan solusi menghadapi darurat moral di Indonesia. Menurutnya calon generasi penerus Bangsa Indonesia tidak perlu menjadi seorang rising star, tapi cukup menjadi orang yang terbaik di hadapan Allah SWT.

Diakhir ceramahnya, Bonny menjelaskan revolusi moral dimulai dari diri masing-masing individu dengan melakukan perubahan diri, menanamkan dan meningkatkan keimanan tiap-tiap pribadi. “Yang harus kita lakukan adalah laksanakan yang wajib, mulai kerjakan yang sunah. Yang wajib itu jangan tinggalkan sholat yang lima, kalau seseorang tidak beres sholatnya tidak akan beres hidupnya. Apapun masalahnya, yang bisa menyelesaikan semua itu hanyalah Allah SWT. Dahulukan tobat sebelum obat itu yang paling utama, tiap masalah tobat dulu, itu adalah obat,” tutupnya. (nis, ska)

Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar