Memadukan Kopi dan Wisata Museum

Capt: Pengunjung Museum Sono Budoyo menjajal kopi di salah satu stan warung kopi.


Nuansa Online - Ada yang berbeda di Museum Sono Budoyo pada Ahad pagi (4/3). Aroma kopi bersama alunan musik gamelan disuguhkan dalam museum yang berdiri sejak tahun 1935 dan terlengkap ke-2 di Indnesia ini.

Martina Shinta Kristanti, Ketua Pelaksana agenda ‘Ngopi di Museum,’ sengaja memadukan antara kopi dan museum untuk menarik minat masyarakat berkunjung ke museum. “Kami dari pihak museum sejak tahun 2017 memang ingin membuat museum tidak hanya dikunjungi sebagai wisata sejarah saja, akan tetapi juga ada kegiatan inovatif disana seperti gayung bersambut. Jadi penikmat kopi bisa suka museum dan sebaliknya pecinta museum bisa menikmati kopi. Dengan demikian jumlah pengunjung Museum Sono Budoyo kedepannya bisa meningkat,” ujarnya.

Pengunjung yang hadir di Museum Sono Budoyo pada hari itu, diakui Martina, yang juga Duta Museum Sono Budoyo, berhasil melebihi ekspektasi awal. “Target pengunjung hari ini sebenarnya 200 orang, akan tetapi yang datang malah lebih dari 700 orang, jadi kita harus melakukan sistem buka tutup pintu masuk agar suasana di dalam tidak terlalu panas,” ungkapnya.

Kegiatan bertajuk ‘Ngopi di Museum’ ini disemarakkan oleh 12 stan yang terdiri dari 11 stan coffee shop dan 1 stan makanan. Rencananya kegiatan ini akan diadakan sebanyak 4 kali di sepanjang tahun 2018 di 4 museum yang berbeda.

Firmansyah atau yang biasa dikenal sebagai Mas Pepeng, pemilik coffee shop Klinik Kopi yang turut berpartisipasi Ahad lalu, mengungkapkan salah satu motivasi diselenggarakannya kegiatan ini untuk memperkenalkan bervariasinya jenis-jenis kopi kepada para penikmat. “Awalnya sih sederhana aja, kami pengen penikmat warung kopi A dan penikmat warung kopi B itu saling ketemu dan bisa tahu warung kopi lainnya di waktu yang bersamaan, jadi mereka bisa tahu biji kopi yang sama kalau orang yang ngolah beda itu hasilnya bisa beda dan pengunjung itu tahu kalau kopi di Indonesia sebenarnya banyak banget dan macam-macam karakternya,” jelasnya.

Inovasi dengan menawarkan beragam kopi dalam museum juga mendapat sambutan positif dari masyarakat Jogja yang hadir, salah satunya Molly, salah seorang pengunjung yang kesehariannya berprofesi sebagai barista di salah satu warung kopi. ““Bagus juga acara ini, kita jadi tahu beans baru dan kita jadi bisa minum kopi sekaligus belajar sejarah dan budaya, secara minum kopi itu kan juga merupakan salah satu budaya di Indonesia. Harapannya acara ini bisa diadakan lebih sering jadi bisa lebih mengedukasi masyarakat tentang kopi, sejarah dan budaya,” ujarnya. (sigit hartanto)

Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar