The Way You Remember Me

Sumber gambar:  http://anguerde.com/TTF-322278-lovely.html

Oleh: Putri Kesumadila

Nuansa Sastra ~ “Pasti akan ada jalan untuk mengobatinya, ia masih terlalu kecil untuk ini. Aku mohon temukanlah cara Dokter.” Seorang ibu menangis dan memohon untuk putrinya.
“Maaf kan aku Carla, kau juga tau tidak ada obat untuk penyakit ini. Yang bisa aku lakukan adalah memberi terapi agar keadaannya tidak memburuk.” Dokter Harly terus meyakinkan ibuku.
“Kau harus membuatnya pulih Harly, aku tau kau bisa. Bukankah kita berteman sudah lama? Ia masih berumur 10 tahun untuk di vonis memiliki penyakit Alzaimer.” Ibuku berteriak pada Dokter Harly dan itu membuatku takut, di balik pintu aku mencoba melihat kesedihan di wajah ibuku.
“Jangan takut sayang, semuanya akan baik-baik saja.” Ayah menggendongku dan melihat ibu dengan jelas begitupun denganku.
Ibu tersenyum sambil meneteskan air mata, lalu tak lama kemudian ia menangis dan memalingkan wajahnya dariku.
“Ayah, kenapa ibu menangis? Apa aku tidak akan sembuh? Memangnya aku sakit apa?” Ayah masih terlihat begitu tenang seperti biasanya lalu ia mencium keningku.
“Semuanya akan baik-baik saja sayang, ayah berjanji padamu.” Ia tersenyum tapi aku melihat air mata yang tergenang dimatanya. Tak lama kemudian ia meninggalkanku dikamar dan membiarkanku tidur.
“Halo aku Sthephany William, aku berumur 19 tahun dan aku mengikuti kursus melukis untuk menambah pengalaman dan rutinitasku. Terima kasih” aku harap aku memperkenalkan diriku dengan baik.
“Baik semua, apa ada pertanyaan untuk Sthepy?” Miss Raina membuka sesi Tanya jawab.
Aku pikir takan ada yang bertanya sampai seorang gadis mengangkat tangannya. “Hi Sthepy, aku Noela. Apa sebelumnya kau pernah mengikuti kursus lainnya selain melukis?”
“Aku masih mengikuti kelas piano dan balet saat ini dan sebelumnya aku mengikuti kelas berkuda dan vocal.”
Kira-kira 20 kepala yang ada di sini tertegun melihatku. Ada yang menatapku dengan kagum dan ada juga yang menatapku dengan tidak percaya.
Terlihat dari luar kalau ada tamu di rumah, tidak seperti biasanya.
“Aku pulang,” dan aku dikejutkan oleh sosok yang aku kenali “Paman Harly.”
“Hi sayangku,” paman Harly yang juga dokterku menyambutku dengan pelukan hangat “bagaimana kabarmu gadis manis paman?”
“Aku baik,” lalu aku melihat pria yang sebaya denganku di sampingnya “siapa dia paman?” aku menoleh kearahnya dan ia tampak kebingungan.
“Sthepy, ini aku Tio. Kita berteman dari tk hingga sekolah dasar sebelum ayahku mengirim ku ke Canada.” Ia meregangkan tangannya, “Apa aku terlalu Nampak berbeda hingga kau tak mengenaliku?”
Aku tidak mengingatnya meski namanya tidak terasa asing bagiku, aku tersenyum dan meninggalkannya beserta semua orang menuju kamarku di lantai atas.

Pagi yang baru datang padaku, melakukan rutinitas harianku bukanlah sesuatu yang sulit bagiku karena itu telah menjadi kebiasaan yang akan aku lakukan sendiri tanpa mengingatnya. Hanya saja ada sesuatu yang ganjil pagi ini, yaitu ibuku yang datang dengan wajah girang karena Tio mengajakku pergi.
“Sayang, cepatlah bersiap-siap. Kau ada kencan hari ini.”
“Ibu, ini bukan kencan. Kami hanya jalan bersama saja,” terkadang ibu lupa kalau aku masih bisa mengingat kejadian dengan rentan waktu yang cukup panjang karena terapi-terapi yang aku jalani selama ini.
“Ibu akan membantumu bersiap sayang, tenang saja.”
Meski risih aku tak mau menolaknya, aku tak ingin senyuman ibuku hilang hari ini.
Tio sudah sampai 15 menit lebih cepat. Hari ini ia memakai t-shirt casual berwarna putih senada denganku ditambah blazer hitam yang lengannya di tarik keatas menjadi ¾.
“Kita sudah sampai,” ia membantuku melepaskan sabuk pengaman “jangan terlalu jauh dariku karena kau pasti akan menghipnotis semua pria di dalam untuk mendekatimu.
Kami memasuki café bersama dan bertemu dengan teman-teman Tio yang sedang bersiap untuk tampil hari ini.
“Ini teman-temanku,” dia memperkanalkan teman-temannya padaku “dan sobat ini Sthepy, sahabatku.”
“Benarkah? Kenapa kau tidak mengenalkannya pada kami sedari dulu?” ia memukul pundak Tio “
“Lalu yang ini,” belum sempat ia memperkenalkan yang lain Tio langsung menyelanya.
“Kenapa kalian belum tampil? Apa ada masalah?”
“Patrick belum datang Tio, tanpa dia kami bukan sebuah band yang lengkap. Kamipun tidak ingin gadis-gadis yang datang menyoraki kami karena idola mereka tidak ada di panggung.”
“Benarkah? Kalau begitu kami duduk dulu sambil menunggu band ini lengkap, ok.”
“Baiklah, silahkan.”
Aku dan Tio duduk di meja depan agar kami dapat menikmati penampilan mereka dengan nyaman.
Aku pun pergi ke toilet hanya ingin berkaca, dan mencuci tanganku yang sebenarnya tidak kotor. Saat keluar dari toilet aku melihat pasangan yang tengah bertengkar, bagaimana aku bisa lewat? Apa aku tunggu saja sampai mereka selesai.
“Aku mencintaimu, tidakah kau tau itu?” gadis itu memohon, pada kekasihnya.
“Benarkah? Bagaimana jika aku tidak mencintaimu?”
“Kenapa kau sejahat ini, apa kurangnya aku?”
“Kau kurang menarik bagiku. Pergilah, jangan membuat dirimu lebih malu dari ini.” Dan dengan cepatnya wanita itu menampar prianya.
“Kau akan menyesalinya.”
Lalu dengan menangis ia pergi meninggalkan pria itu sendirian, aku bahkan bisa melihat pipi pria itu memerah dan ia juga pasti merasa kesakitan.
“Keluarlah, pertunjukan telah selesai. Apa kau ingin menambahkan garam di atas lukaku.” Apa dia tau kalau aku melihatnya.
“A-aku tidak bermaksud. Maaf.”
Ia tersenyum, “Jika saja aku tidak sedang buru-buru, mungkin kita bisa minum bersama.” Dan dia meninggalkanku begitu saja.
Dia cukup tampan untuk bersikap seperti itu, gayanya yang cool dan casual menambah daya tariknya, ternyata orang-orang benar akan satu hal. Setiap perempuan pasti lebih menyukai bad boy dibandingkan good boy. Karena dibanding Tio yang bergaya rapi aku lebih menyukai pria tadi, lucunya aku.
“Tio maafkan aku meninggalkan mu cukup lama.”
“Tidak masalah Sthepy, kau datang di waktu yang tepat. Patric baru saja datang, lihat lah dia yang menjadi vokalis sekaligus gitaris.”
“Dia,” itukan pemuda yang tadi.
“Kau mengenalnya?”
“Tidak, aku hanya terkejut melihat penampilannya.”
“Semua wanita sama saja,” Tio tersenyum “tapi jangan tertipu dengan wajahnya yang tampan dan penampilannya, ia sedikit suka mempermainkan wanita.”
Sepertinya memang begitu, apalagi setelah aku melihat pertengkarannya tadi. Aku hanya berharap kalau ia takan mengecewakan penonton yang telah lama menunggu penampilannya dan band nya.
Penampilannya di mulai dengan petikan gitar yang menggetarkan, sebagai orang yang tidak buta terhadap music aku tau ia termasuk sangat mahir memainkan gitar. Dan saat ia mulai bernyanyi dengan iringan band nya yang bergendre pop rock sangat membuat ku terpana.  
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar