Perjuangan Membela Keadilan, Yang Tidak Akan Hilang

Warga membuat pagar hidup dalam aksi menolak penggusuran rumah-rumah mereka pada Senin pagi (4/12).
Nuansa Online - Pembangunan mega New Yogyakarta International Airport (NYIA) di Kecamatan Temon, Kabupaten Kulonprogo, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) telah dimulai. PT Angkasa Pura I menetapkan hari Senin (4/12) akan dilakukan pemerataan tanah dan bangunan yang masih berdiri. Terdapat sekitar 30 rumah, tersebar Desa Glagah dan Palihan yang belum digusur atau terelokasi karena pemilik rumah masih ingin menetap.

Dengan adanya Ombudsman Republik Indonesia Perwakilan DIY mereka bisa bertahan dan menjaga rumah kesayangan walaupun hanya beberapa yang masih bisa bertahan di lingkungan tersebut. Ibu Porinah salah satunya, bersama suami dan satu anak kecilnya tetap ingin bertahan dan menjaga rumahnya walaupun sudah tidak ada lagi listrik dan tetangga di sekitarnya. Pencopotan listrik disetiap rumah rumah warga telah dilakukan pada Senin (27/11) minggu lalu.

Ibu Porinah menceritakan alasannya tetap menjaga tanah dan rumahnya dikarenakan ia sudah hidup lama di rumah itu bersama para keluarganya. “Saya bikin rumah ini kan dari nol dan dari jerih payah saya sendiri. Walaupun saya tidak punya tetangga saya akan tetap bertahan dan sampai kapan pun saya tidak pernah rela bandara ini dibangun,” ucap Ibu Porinah.

Ia membangun rumah itu dengan hasil keringat bersama suaminya yang berkerja di tambak udang. Ibu Porinah bergantung hidup dengan tambak udang dan hasil tanam sayur-sayuran yang ia miliki di perkebunannya, tidak jauh dari lokasi rumah.

Bukan hanya Ibu Porinah, melainkan semua warga juga bercocok tanam dan menggantungkan kehidupanya dengan bertani. Lahan yang dibangun untuk bandara New Yogyakarta International Airport (NYIA) itu sendiri adalah lahan yang subur, perkampungan yang padat dan memilki pasokan air yang banyak. Para petani bercocok tanam dengan berbagai macam sayuran seperti cabai, melon, semangka, dan padi. “Jika mulai musim panen bisa 2000 pohon cabai yang siap dijual”, ucap suami ibu Porinah.

“Hubungan bersama keluarga tetangga sekitar sudah sangat longgar. Karena telah banyak diantara mereka yang mendukung pihak bandara dan sebelumnya banyak sekali yang menolak pembangunan bandara bersama Aliansi Wahan Tri Tunggal (red : WTT). Banyak rumah yang dirobohkan tapi belum dibayar ganti ruginya. Banyak tanah atau rumah warga yang diapresial akan tetapi belum juga dibayar oleh pihak Angkasa. Saya juga sering didatangin oleh intel intel. Mereka membujuk saya untuk menyerahkan milik saya karena sudah batas terakhir menempati”, ucap Ibu Porinah.

Kuburan yang ada disekitar daerah itu akan dipindahkan ke tempat yang lebih aman. Akan tetapi ada beberapa kuburan yang pihaknya tidak ingin dipindah. Ibu Porinah sendiri memiliki anak yang sudah meninggal dan dikuburkan di daerah yang akan dipindahkan. Akan tetapi beliau menolak untuk dipindahkan.

Dari penuturan warga, banyak janji yang diberikan kepada pihak yang menyerahkan tanahnya. Seperti akan diberikan sekolah gratis dan relevasi gratis dengan tanah 850 permeter tapi hanya hak pakai bukan selamanya. Warga juga mengungkapkan bandara masih membutuhkan sekitar 2000 hektar untuk memperluas bangunan bandara dan akan banyak lagi warga yang akan berpindah dari tanahnya. Sekolah dasar dititipkan dirumah warga yang mengontrak dan belum diganti dengan sekolah yang baru sampai saat ini.

“Saya benar benar berterima kasih kepada para mahasiswa ataupun orang luar yang masih peduli dan membantu warga disini bersama menolak pembangunan bandara. Mereka selalu memberi semangat kepada kami untuk mempertahankan dan meneruskan perjuanganya tanah ini hingga titik akhir”, tutup Ibu Porinah diakhir ceritanya. (mhr)


Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar