PALASTRI : Pesona dari Sebuah Karya Seni

Pengunjung sedang melihat foto dalam acara PALASTRI (foto:henok)

Nuansa Online - Kegiatan bertajuk ‘Dibalik Keindahan’ mengangkat ‘PALASTRI’ sebagai judul besar tahun ini dalam acara Pameran Fotografi Pendidikan Lanjutan Fotografi Komunikasi 053 Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (FOTKA 053 UMY). Kegiatan ini berlangsung di Melting Pot Cafe Yogyakarta dari tanggal 16-18 Desember 2017.
“Tema pameran ini sebenarnya Dibalik Keindahan dan jadi dari kami ini tu kami kerucutkan lagi, kami ambil nama Palastri. Palastri sendiri berasal dari bahasa Kawi. Nama Palastri sendiri nampak elegan karena biasanya dari kata lastri biasanya dipakai untuk nama anak perempuan. Dari situ kami ingin menunjukkan sebuah kesan atau pesona yang timbul dari foto foto yang kami pamerkan,” ungkap Sultan Saalahuddin Habibillah sebagai Ketua Pameran.

Sultan menambahkan bahwa kata Palastri adalah bahasa yang umum dipakai di masa kerajaan Hindu-Buddha. Bahasa tersebut biasanya dipakai untuk para prawi atau para seniman untuk membuat kreasi. Biasanya menjadi sebuah kesusastraan Kawi. “Dan disitu kami ingin menunjukkan bahwasanya kami memiliki 3 pesona  yang dapat kami kreasikan. Ketiga pesona tersebut itu ada berjuang, melestarikan, dan merawat,” sambungnya.

Acara ini dimentori oleh Anggertimur yakni seorang Creative Storyteller. Kegiatan ini berlangsung selama tiga hari berturut-turut dengan rangkaian acara yang berbeda. Hari pertama khusus untuk pembukaan pameran itu sendiri. Hari kedua yakni sarasehan, ketika para pameris memperbincangkan karya-karyanya. “Kita mempertanggungjawabkan karya yang udah kita pajang. Jadi apapun ceritanya tetap harus kita buktikan, kita coba perjelas lagi bagaimana ketika seni atau karya yang kita buat itu bisa dirasakan oleh orang lain dan orang lain paham akan hal tersebut,” ungkap Sultan ketika ditanyai mengenai sarasehan. Hari terakhir ditutup dengan workshop bersama Yanuar Surya seorang Tropical Strobist Photographer.

Acara yang diadakan setiap satu kali dalam setahun ini ternyata mengalami beberapa kendala. “Yang pertama, proses pendekatan karena kita sendiri termasuk awam dalam melakukan pendekatan untuk memotret. Lalu yang kedua, teknis acara, ribetnya itu di bagian mounting lalu pajang karya itu cukup rumit untuk kami. Terus pengsingkronan antara visual foto dengan narasi yang kami gagas seapik mungkin dan itu proses yang cukup memakan waktu bagi kami para pameris,” pungkas Sultan. (qholiva)
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar