Nahas, antara Mitos dan Modernitas

Para Pemeran Nahas. (foto: afifah,iqbal)

Nuansa Online – Teater Tangga UMY kembali mempersembahkan sebuah pementasan teater bertajuk ‘Nahas’. Pementasan tersebut berlangsung selama 2 hari, Jum’at dan Sabtu malam (15-16/12) di Pendhapa Art Space, Sewon, Bantul.

Dalam pementasan teater ini tidak ada yang menjadi pemeran utama dikarenakan teater ini merupakan cerita surealis yaitu kebebasan yang melampaui batas logika (tidak real). Empat orang diantara para pemain teater Nahas ini adalah para aktor yang lulus seleksi open cast, sedangkan pemain lainnya adalah aktor perwakilan dari setiap divisi yang ada di struktur Teater Tangga itu sendiri.

Membicarakan mitos, modernitas, dan manusia di zaman sekarang, pementasan yang disutradarai oleh Nabila Purnama Anugrah ini berusaha menyadarkan kita yaitu manusia sebagai subjek dan objek dari modernitas juga mitos. Dituturkan, sebuah mitos lahir  dari rasa terpesona, lalu berkembang menjadi cerita yang menjelaskan dan memiliki tujuan untuk memberi makna pada keberadaan manusia. Ketika mitos–mitos disekitar kita mulai disalahgunakan untuk suatu kepentingan tertentu, modernitas muncul sebagai penghapus mitos dari dunia kita.

Pementasan ini diselingi beberapa cerita–cerita pendek yang masih berkaitan dengan inti tema, seperti hantu sundel bolong yang muncul dimalam hari, ibu yang menciptakan mitos larangan keluar rumah saat magrib karena akan ada roh jahat yang menculik anak–anak kecil, bahkan berita video hoax tentang alien pun juga dimasukkan ke dalam pementasan ini. “Pembawa batu alien di 

Kaliurang, pembawa mitos yang yang berbentuk benda, dan benda yang memiliki mitos dijadikan tempat ‘jual belidipertontonkan dengan cara kita membayarnya atau halusnya tempat wisata yang memiliki kisah, contohnya Prambanan dengan kisahnya Roro Jonggrang,” tutur Arif Billah pemeran alien dalam pentas teater Nahas ini. Ia menjelaskan bahwa benda yang memiliki mitos kemudian dijadikan tempat untuk meraih keuntungan.


“Setidak-tidaknya, Eve, mitos masih bersama matahari sampai nanti, dengan sinarnya yang pas, tidak kurang tidak lebih, dan tidak diperdagangkan, di dunia yang tukang dagang ini,” – Nahas. (afifah,iqbal)
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar