Jingga untuk Senja

Sumber gambar: https://www.hipwee.com/wp-content/uploads/2016/10/hipwee-seorang-gadis-di-dalam-senja-750x422.jpg

Oleh: Lia Sofyah Lubis

Nuansa Sastra ~ Aku Jingga, usia 17 tahun, dan masih bersekolah dibangku SMA kelas 2 semester 2. Kulit ku sawo matang, mataku sedikit sipit, hidungku mancung dan tinggiku 175 cm. Aku tidak terlalu pandai di sekolah dan aku juga tidak terlalu pandai memikat hati wanita. Aktivitas ku di sekolah lebih banyak ku habiskan duduk diperpustakaan  (lebih tepatnya pojok rak buku perpustakaan dekat jendela), menulis puisi setiap jam istirahat. Dan aku lebih suka menulis puisi tentang dia. Orang yang selalu ku lihat dari jendela perpustakaan sekolah ku. Aku bisa melihat kelasnya dari jendela perpustakaan ini, dan dia lebih sering bercengkerama dengan teman-temannya di depan kelasnya. Gadis yang sederhana, cantik, dan menyenangkan. Orang-orang sangat menyukainya. Aku mengenalnya sejak SMP, karena dulu kami satu sekolah dan sekarang juga. Rumah kami juga berdekatan. Hanya perlu melewati delapan rumah dari rumah ku untuk sampai ke rumahnya. Orangtuanya orang terpandang di kompleks perumahan kami. Padahal, orangtuanya tidak kaya dan rumah mereka juga tidak besar. Mereka hidup dalam kesederhanaan. Tapi, karena kesopan-santunan, cara berbicara mereka yang menyenangkan, serta kesederhanaan merekalah yang membuat mereka terpandang di kompleks perumahan kami. Mungkin hal itu diwarisinya dari orangtuanya. Seperti yang orang bilang, buah jatuh tak jauh dari pohonnya.

Aku mengenalnya di bus trans kota, saat pulang sekolah. Waktu itu adalah hari pertama ku sekolah di kota tempat tinggalku yang baru. Dan aku harus pulang dengan bus trans kota yang aku tidak tahu harus naik trayek nomor berapa untuk sampai di halte dekat perumahan dimana aku tinggal sekarang. Perkenalan pun dimulai saat itu.

“Kamu orang yang baru pindahan kemarin, kan? Perumahan Centaka Mulia?” ujarnya.

“Iya, kak”. Jawab ku.

“Aku Senja. Jangan panggil kakak ya”. Dia tersenyum kepada ku. Amboy, senyumannya, matanya, bagai bidadari surga. Ah, padahal aku tak tahu seperti apa bidadari surga itu. Aku langsung teranjak dari pandanganku dan mengangguk bingung serta menggaruk kepala ku yang tidak gatal. Aku bingung kenapa ia tak mau dipanggil kakak, padahal simbol di bajunya menunjukkan kalau dia adalah kakak kelas ku. Waktu itu aku kelas 1 dan dia kelas 2 SMP. Tinggi ku dulu belum seperti yang sekarang. Waktu itu tinggiku hanya 110 cm dan badan ku kurus. Sangat tidak cocok untuk ukuran anak SMP.

Hari-hari terus berjalan, dia kelas 3 dan aku kelas 2 SMP. Tingginya bertambah, kurang lebih menjadi 157 cm dan tinggi ku bertambah. Hampir mendekati dia. Tinggiku bertambah menjadi 145 cm. Sejak pertemuan pertama kami, kami sering pulang bareng, main bareng, bahkan dia lebih sering datang ke rumah ku hanya untuk mengajari ku pelajaran yang ada di sekolah dan membantuku menyelesaikan pr-pr ku. Terkadang kami juga suka ke jembatan dekat perumahan, bahkan kami memiliki jadwal rutin ke jembatan yaitu setiap hari Minggu. Tidak banyak yang kami lakukan di jembatan, hanya sekedar duduk-duduk dipinggiran kali, menceritakan apapun, menceritakan hal-hal yang telah dilalui selama seminggu lalu, tertawa, makan dipinggiran kali, berdua. Ah, indah sekali menurut ku. Tapi, aku tak tahu menurutnya. Aku tak tahu apakah ia merasakan hal yang sama? Entahlah.

Waktu itu, tiba jadwal rutin kami ke jembatan. Kami membawa bekal tak seperti biasa. Kali ini lebih sederhana. Hanya roti dan susu. Tak mengapa bagiku. Bagiku yang apa-apa adalah kebersamaan kami. Aku hanya suka kebersamaannya aku hanya suka mendengarkannya bercerita dan melihat senyumnya. Dan aku hanya suka perhatiannya ketika mendengarkan aku berbicara.

“Ga, kamu suka senja?”

“Uhuk…uhuk…uhuk…”. Aku tersedak oleh susu yang baru saja sampai dimulutku.

“Pelan-pelan Ga minumnya. Kamu suka senja atau engga? Kalau aku sih, suka. Senja itu indah. Ia melengkapi langit kalau di sore hari, seperti sekarang ini. Percaya atau engga Ga, kalau senja itu ibarat pakaian sorenya langit?” ia mengucapkan kalimat itu sambil tertawa kecil. “Dan… satu lagi. Jingga adalah salah satu warna dari warna senja. Jingga adalah warna yang menemani senja sebelum merah”. Ia menatapku, tersenyum, dan beranjak dari duduknya. Mengajak untuk pulang.

Setelah hari itu, libur tiba. Dia harus mempersiapkan diri untuk masuk ke SMA favoritnya. Kami tidak pernah lagi bermain bersama dan melakukan rutinitas seperti biasanya. Hingga ia keterima di SMA favoritnya. Kami tak pernah lagi bersama. Aku enggan untuk mengajaknya melakukan rutinitas kami. Aku takut mengganggu kesibukannya. Aku hanya bisa melihatnya dari jauh. Ia tambah cantik, masih dengan mata dan senyumnya yang indah, tingginya juga masih sama seperti terakhir kali kami ke jembatan. Hanya aku yang bertambah tinggi, tinggiku 175 cm dan aku kelas 2 SMA. Sementara dia, kelas 3 SMA.

Mungkin, ada merah yang lebih membuat ia nyaman. Yang bisa membuatnya nyaman dibandingkan jingga. Mungkin aku tidak bisa menjadi jingga untuknya. Ah, sudahlah.

Hari ini setelah pulang sekolah, aku ingin ke jembatan dekat perumahan. Sudah hampir tiga tahun aku tak kesana. Aku ingin menikmati sore bersama senja yang menjadi pakaian langit itu. Dan mungkin ini akan menjadi perpisahan ku dengan jembatan dan pinggiran kali. Aku berniat untuk tidak ingin ke sana lagi setelah ini. Dan kini, aku sudah ditempat kami yang dulu sering kami kunjungi. Aku duduk dipinggiran kali. Masih mengenakan seragam sekolah. Kuletakkan tas ku di sampingku. Ku pandangi langit. Aku menunggu senja muncul. Aku menunggu langit memakai pakaian sorenya.

“Sudah lama ya Ga”.

Suara itu. Aku tak berani menoleh. Mungkin ini hanya imajinasiku saja. Aku berdiri tapi tak menoleh ke sumber suara.

“Kamu sekarang lebih tinggi dari aku ya. Anak kecil yang engga tahu harus naik trayek apa untuk sampai ke rumahnya sekarang sudah setinggi ini”.
Benar. Itu Senja. Itu suara senja. Akhirnya aku memberanikan diri untuk berbalik badan. Matanya kini berkaca-kaca.

“Terima kasih ya Ga, ternyata kamu engga melupakan tempat ini. Hari ini aku ingin pamit sama tempat ini. Aku akan pergi. Aku berharap kamu menjadi Jingga seperti jingga di atas sana, yang menemani senja sebelum merah. Yang berusaha untuk menjadi warna pertama yang menemani senja. Senja di atas sana akan selalu hadir di setiap sore bersama jingga. Tapi,  Senja yang ini tak tahu kapan akan hadir lagi di sini menemui Jingganya. Dan Senja yang ini berharap bisa bertemu Jingganya di sini, suatu saat nanti”.

Setelah kalimat itu, aku melihat ia menitiskan air matanya. Ia mengusapnya. Tersenyum kepada ku. Dan pergi meninggalkan ku.
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar