Sadarkan Solidaritas Kemanusiaan, Dukung Pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Rakhine

Foto: MER-C memperkenalkan rencana pembangunan rumah sakit di Rakhine kepada jama'ah Masjid Nurul Asri, Deresan, Sleman (19/11). (Foto: NUANSA/Selma)

Nuansa Online - Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) menggelar talkshow bertajuk “Krisis Kemanusiaan Rohingya” di Masjid Nurul ‘Ashri, Depok, Sleman (19/11). Talkshow pada pagi hari ini merupakan salah satu upaya MER-C menyadarkan masyarakat perlunya solidaritas kemanusiaan kepada Muslim Rohingya yang mengalami persekusi di Myanmar.

Surardi Syahuri, salah satu pembicara dari tokoh agama, dalam ceramahnya turut mendukung upaya MER-C untuk membantu Muslim Rohingya salah satunya dengan pembangunan rumah sakit di Rakhine, Myanmar. Segala perbuatan baik kita, diketahui oleh Allah. Saya men-support pembangunan Rumah Sakit dan menjamin Program MER-C akan berhasil,” ungkapnya.

Terkait dengan permasalahan yang terjadi di Rakhine, Myanmar, Surardi menyayangkan ketidakmampuan pemerintah Myanmar dalam melindungi masyarakat minoritas. “Negara-negara dengan mayoritas muslim hampir tidak pernah terjadi pembantaian terhadap pemeluk agama lain tetapi tidak dengan sebaliknya, dimana-mana negara yang muslim menjadi minoritas dibantai,” tuturnya.

Surardi menghimbau kepada masyarakat yang hadir untuk dengan ikhlas ikut berkontribusi menolong Muslim Rohingya, salah satunya dengan bersedekah dalam misi pembangunan rumah sakit oleh MER-C. “Biayai kepentingan umat dan dukung misi kemanusiaan dalam mempererat persaudaraan muslim,” himbaunya.

Arif Rahman, dokter spesialis radiologi yang juga anggota MER-C, mengungkapkan melalui pembangunan rumah sakit, pihaknya bukan memberikan bantuan jangka pendek melainkan jangka panjang. “Bantun bersifat jangka panjang, faktornya jarak yang jauh dan perizinan yang tidak sebentar, ungkapnya.

Saat ini, proses pembangunan Rumah Sakit Indonesia (RSI) oleh MER-C di Myanmar telah memasuki tahap perancangan desain. Arif melaporkan masih terjadi pembahasan dengan pemerintah setempat terkait konsep desain RSI, setelah desain modern yang ditawarkan oleh MER-C tidak diterima dengan dalih tidak sesuai standar pemerintah Myanmar.

Arif juga mengungkapkan terdapat pelayanan yang berbeda oleh pemerintah setempat kepada korban atau pengungsi. Korban dengan identias muslim diberikan fasilitas kesehatan yang sangat memprihatinkan, sedangan korban beridentitas Budha mendapat pelayanan lebih baik. Hal ini menurutnya juga menjadi salah satu faktor sulitnya akses bantuan dari MER-C kepada masyarakat Muslim Rohingya di Rakhine, Myanmar saat pemerintah Myanmar mengetahui tim MER-C beragama Islam.


Menurut Arif, jika berhasil dibangun RSI akan menjadi sebuah jangkar untuk mempermudah masuknya bantuan kemanusiaan dari Indonesia. Keinginan MER-C untuk membangun RSI di Myanmar tidak lepas dari keberhasilan mereka sebelumnya dalam membangun konsep rumah sakit yang sama di Gaza, Palestina. (fnd, sih)
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar