Perkokoh 4 Konsesus Dasar Menghadapi Permasalahan Bangsa

Husni Amriyanto, salah satu pembicara pada Sosialisasi 4 Konsensus Dasar Berbangsa dan Bernegara, tengah menyampaikan materinya di Sportorium UMY (20/11). (Foto: NUANSA/Surya)

Nuansa Online - Forum Komunikasi dan Kerjasama Mahasiswa Ilmu Pemerintahan Indonesia (FOKKERMAPI) melaksanakan Sosialisasi 4 Konsensus Dasar Kehidupan Berbangsa dan Bernegara di Gedung Sportorium, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) pada Senin (20/11). Dibuka dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dalam tiga versi musik yang berbeda, sosialisasi ini diisi Muhammad Afnan Hadikusumo, anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) dan Husni Amriyanto, Dosen Ilmu Hubungan Internasional UMY.

“Saat Ini bukan Empat Pilar Bangsa lagi, namun menjadi Empat Konsensus Dasar Kehidupan Berbangsa dan Bernegara. Empat Pilar itu dulu,” jelas Muhammad Afnan Hadikusumo membuka pembicaraan. Ia juga menerangkan bahwasanya yang dimaksud dalam empat konsensus dasar kehidupan berbangsa dan bernegara ialah Pancasila, UUD 1945, NKRI serta Bhineka Tunggal Ika.

Dalam kesempatan ini Afnan juga menyampaikan banyak permasalahan bangsa yang mengancam keempat konsensus tersebut. “Persoalan-persoalan terbesar negeri ini ialah para pejabat yang kurang terintegrasi, kudeta jabatan, keterbatasan anggaran, serta sistem politik yang terlalu liberal,” ungkapnya.

Lebih lanjut ia menyatakan bahwa hutang indonesia telah mencapai 3200 Triliun. Apabila hutang tersebut terus bertambah ditakutkan Indonesia tidak dapat membayar hutangnya, seperti negara Spanyol, Sri Lanka, serta Venezuela. Selain itu, permasalahan sistem politik. Sistem pemilihannya selama ini terlalu liberal hingga mengakibatkan maraknya money politic. Pemilihan secara langsung ada dampak positifnya serta banyak buruknya. Menurutnya, pemilihan secara langsung ini sebenarnya belum tepat jika diterapkan di Indonesia karena perekonomian negara kita belum stabil. “Penyakit terbesar bangsa kita bukan kekurangan orang pintar namun orang jujur yang amanah”, tutur Ane Permatasari, Dosen Ilmu Pemerintah UMY yang menjadi moderator dalam sosialisasi, menyimpulkan.

Husni Amriyanto, pembicara selanjutnya, juga mengungkapkan hal yang senada. “PR (red: Pekerjaan Rumah) untuk generasi mendatang ialah memikirkan bagaimana cara membayar hutang bangsa ini,” ungkapnya.

Selain itu, Husni juga mengajak untuk mengingat kembali kasus lepasnya Sepadan dan Ligitan sebagai bahan pembelajaran bagi generasi muda. Indonesia yang memiliki wilayah yang sangat luas seharusnya kita mampu memanfaatkannya dengan baik. Namun, pada nyatanya terdapat 9000 pulau yang belum diberi nama dan 52 pulau tidak dihuni,” ungkapnya.

Ia juga menambahkan persoalan-persoalan mengenai perbatasan laut ini juga menjadi masalah yang sangat serius serta perlu mendapat perhatian lebih. Kita sebagai generasi penerus bangsa seharusnya lebih peduli lagi terhadap kekayaan alam karunia Tuhan yang dilimpahkan pada bangsa ini,” tutupnya dalam penyampaian seminar.

Sosialisasi Empat Konsensus Berbangsa dan Bernegara yang diselenggarakan oleh FOKKERMAPI merupakan bagian dari Kongres Nasional mahasiswa Ilmu Pemerintahan se-Indonesia. Muhammad Akbar Hidayatullah, mahasiswa semester 5 Universitas Lampung Mangkurat berharap kegiatan ini terus berlanjut dengan pembahasan pembahasan yang membuat pikiran kita terbuka atas hal-hal yang sedang terjadi saat ini. (mhr, usw)
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar