Tanggapi Kondisi Etnis Rohingya, MER-C dan HI UMY Gelar Seminar

Rahmawati Hussein, Vice Chair Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC), memaparkan peran yang telah dilakukan Muhammadiyah dalam menanggapi isu Rohingya kepada peserta seminar (11/9). (Foto: NUANSA/Adel)

Nuansa Online - Medical Emergency Rescue Committe (MER-C) bekerjasama dengan Prodi Ilmu Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (HI UMY) mengadakan Seminar tentang krisis kemanusiaan rohingya yang bertema Humanity for Peace, Pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Rakhine State, Myanmar pada Senin (11/09) bertempat di Gedung KH. Ibrahim lantai 5. Pembicara pada seminar tersebut yaitu Arief Rahman, Presidium MER-C Indonesia; Rahmawati Hussein, Vice Chair Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC); Ali Muhammad, dosen HI UMY; Sidik Jatmika, dosen HI UMY dan dimoderatori oleh Nur Azizah, Ketua Prodi Ilmu Hubungan Internasional.

Wakil Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIPOL) UMY, Husni Amriyanto, dalam sambutannya mengungkapkan harapan melalui seminar ini dapat berkontribusi memecahkan beberapa permasalahan dalam penanganan krisis kemanusiaan yang dialami etnis Rohingya. “Tentu ini adalah persoalan-persoalan yang tidak gampang untuk kita masuk begitu saja, ASEAN (Red: Association of South East Asia Nation) sendiri punya prinsip non intervensi dan ada pula prinsip-prinsip PBB (Red: Perserikatan Bangsa-Bangsa yang harus kita hormati disana, jelas Husni.

Rohingya merupakan salah satu etnis yang tinggal di daerah Rakhine, negara bagian dari Myanmar yang terletak di sebelah barat dan berbatasan langsung dengan Bangladesh. Sidik Jatmika, pembicara pertama dalam seminar, mengungkapkan mengapa pemerintah Myanmar tidak mengakui Rohingnya karena beberapa faktor yang diterapkan oleh pemerintah. “Pemerintah Myanmar tidak mengakui Rohingnya karena beberapa faktor yang diterapkan oleh pemerintah Myanmar diantaranya praetorianisme, ultra etno-nasionalisme, sentralisme, dan autarki,” ujar Sidik.

Arief Rahman, pembicara dari MER-C, menjelaskan bahwa bantuan untuk suku Rohingya sudah diberikan sejak tahun 2012. Sementara bantuan berupa rumah sakit yang saat ini sedang dibangun di Rakhine akan menjadi neutral zone bagi etnis rohingya dan diharapkan dapat mempermudah komunikasi dan keberlangsungan hidup mereka. “Kita tidak perlu takut apakah kita akan tertangkap, karena ini zona netral, melalui ini kita mencoba untuk berkomunikasi dengan negara tersebut, sehingga dari berkomunikasi bisa menjadi gesekan untuk membawa resolusi ke permukaan dan perdamaian akan tercipta di negara ini,” jelas Arief.

Sementara itu, dosen HI UMY, Ali Muhammad, berpendapat bahwa yang terjadi di Myanmar saat ini yaitu pembersihan etnis. “Pemerintah Myanmar mengatakan suku Rohingya merupakan pendatang haram yang harus dibersihkan. Bangsa yang paling teraniaya di dunia karena kebijakan pemerintah yang sangat diskriminatif, paparnya.

Ali Muhammad juga menjelaskan tentang respon komunitas internasional terhadap kekerasan yang terjadi di Myanmar, salah satunya yaitu ASEAN. Dalam presentasinya, ia menjelaskan bahwa ASEAN tidak mampu berbuat banyak ketika muncul persoalan kemanusiaan yang terjadi di dalam batas negara masing-masing anggota karena menganut prinsip non-intervensi. Sehingga intervensi yang dilakukan oleh Indonesia dilakukan sebagai sahabat yang meminta menghentikan kekerasan, serta akses untuk bantuan kemanusiaan.

Presidium MER-C bersama Kepala Jurusan HI UMY setelah penandatanganan MoU (11/9). (Foto: NUANSA/Adel)

Rahmawati Hussein, sebagi salah satu aktivis yang turun langsung ke Rakhine, menjelaskan peran Muhammadiyah melalui MDMC dalam kasus Rohingya. Rahmawati menjelaskan bahwa MDMC telah membantu pengungsi di rumah detensi imigrasi Belawan
sebanyak 258 orang dan penampungan Padang Bulan di Setambi Medan sebanyak 36 orang sejak awal 2013. Selain itu juga telah membatu pengungsi rohingya yang terdampar di Aceh Utara, Aceh Tamiang, dan Sumatera Utara pada tahun 2015. Beliau berharap dengan adanya bantuan dapat mendorong upaya diplomasi untuk membantu Rohingnya.


Selain seminar, sebuah Memorandum of Understanding (MoU) juga ditandatangani oleh MER-C dan HI UMY. Kerjasama tersebut berbentuk dibukanya kesempatan magang bagi mahasiswa HI UMY di MER-C, serta dihadirkannya aktivis MER-C untuk mengajar di HI UMY sebagai dosen tamu terkait masalah-masalah kemanusiaan. (enr, sih)
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar