Memasuki Semester Baru, SAC UMY Mengistirahatkan Diri

Seorang mahasiswa sedang membaca poster yang tertempel di depan ruangan SAC (16/9). Kini ruangan tersebut digunakan sebagai ruang kelas mata kuliah yang berada di bawah Pusat Pelatihan Bahasa. (Foto: NUANSA/Adel)

Nuansa Online - Memasuki periode perkuliahan semester ganjil tahun ajaran 2017-2018, Self-Acces Center atau yang biasa dikenal dengan SAC, secara resmi vakum dari aktivitas rutinnya membuka kelas bahasa asing. Hal tersebut dapat dilihat dari beberapa kalimat perpisahan yang disampaikan melalui akun media social resmi SAC.

Berhentinya aktivitas SAC untuk semester ini bukan tanpa alasan. Saat ditemui oleh reporter Nuansa pada Selasa (12/09), Pratama Adi selaku student staff dan penanggung jawab utama SAC menuturkan bahwa ada perubahan terkait status SAC saat ini. “SAC ini awalnya berstatus sebagai Unit Pelaksana Teknis (UPT) yang bertransformasi menjadi Unit Bisnis,” ungkap Pratama.

Ia juga melanjutkan bahwa ada beberapa kebijakan kampus yang turut memberi pengaruh terkait kevakuman SAC. “Sudah sejak tanggal 7 September kemarin beberapa karyawan tetap Pusat Pelatihan Bahasa (PPB) ditarik ke universitas sehingga hanya menyisakan karyawan yang dikontrak khusus oleh PPB sendiri,” lanjutnya. Menurut Pratama, kebijakan penarikan karyawan tetap inilah yang akhirnya menyebabkan adanya vaccum of position dalam kepengurusan SAC yang biasanya dipegang oleh staff khusus dan student staff.

Ditanya mengenai rentang waktu hiatus, Pratama Adi mengaku masih belum mengetahui secara pasti. “Pada dasarnya SAC punya agenda utama, yaitu DIC. Kegiatan itulah yang sebenarnya diistirahatkan. Untuk waktu kevakuman yang saya dengar baru untuk semester ini. Semoga kedepannya dapat dibuka lagi,” ujarnya kemudian.

Kembali ia menjelaskan bahwa sedang ada pembicaraan antara Kepala Perpustakaan dengan Kepala PPB terkait wacana untuk menggabungkan SAC dengan perpustakaan menjadi satu. “Kalau yang ini masih ada diskusi lebih lanjut dari pihak atasan. Status kepemilikan SAC masih belum fix.”

Namun, Pratama Adi mengaku bahwa dirinya menyayangkan adanya tindak pengistirahatan SAC dan agenda DIC untuk semester ini. Menurutnya DIC banyak memberikan banyak manfaat bagi mahasiswa UMY. “Kalau bisa jangan dihilangkan. Kegiatan DIC ini menambah nilai buat mahasiswa dari sisi akademis. Mereka kan bisa dapat tambahan nilai untuk kelas PPB. Selain itu, mereka juga bisa mendapat ilmu dari sajian berbagai bahasa yang variatif, yang mana tidak mereka dapat pada kelas-kelas reguler.”

Hal senada juga disuarakan oleh Candra Lasmana, selaku salah satu pengajar Bahasa Thailand di SAC. “Kalau hiatus seperti ini ya saya juga sedih. Karena menurut saya SAC mempunyai program-program bagus untuk menambah wawasan bahasa dan budaya asing dengan cuma-cuma,” ungkapnya.

Hal yang sama kembali diungkapkan oleh mahasiswa yang pernah mengikuti kegiatan dari SAC. “Melihat fungsi SAC sebagai platform mahasiswa belajar bahasa asing secara cuma-cuma, dan ditiadakan oleh pihak kampus menurut saya akan sangat mengecewakan bagi para mahasiswa terutama yang mempunyai minat tinggi dalam pembelajaran bahasa,” ungkap Barry Sandria, mahasiswa dari jurusan Hubungan Internasional.

Enny Dhiya Ghina, mahasiswi dari Hubungan Internasional juga mengaku bahwa kegiatan SAC sangat memberikan vibrasi positif bagi para mahasiswa. “Daripada kita ngambil les bahasa mahal-mahal mending kita belajar disitu. SAC bisa juga kita bilang sebagai tolak ukur untuk branding kualitas, karena dapat menyediakan fasilitas belajar bahasa gratis dengan varian yang sangat banyak,” ujarnya kemudian. (aml, az)
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar