"Jogja Menjerit Panas"


Foto: http://www.info-jogja.com.com/2014/11/sumber-polusi-terbesar-di-jogja-berasal.html
Oleh: Divisi Penelitian KOMAHI UMY

Nuansa Online - Banyak mahasiswa menganggap kota Yogyakarta itu aman, nyaman, dan sejuk. Hal itu terbesit dalam pikiran Susan (nama samaran) asal Sumatera, yang beranggapan bahwa Yogyakarta itu lebih sejuk daripada kota asalnya di Sumatera. Namun harapan itu tidak sesuai dengan ekspetasinya. Pohon-pohon rindang yang dibayangkan selama ini hanyalah sebatas asa, hanya semilir angin dari pohon cemara yang bisa ia nikmati. Rindangnya pohon cemara itu tetap saja tidak mampu melindunginya dari terik matahari di Yogyakarta.

Kota Yogyakarta makin panas dari hari ke hari.
Bumi kian terasa panas dari tahun ke tahun akibat CO2 yang terperangkap di atmosfer. Panasnya bumi ini terasa di seluruh dunia, bahkan perubahan iklim telah dirasakan sekitar empat puluh persen kota di dunia, khusunya Yogyakarta. Kota Yogyakarta telah mengalami kenaikan suhu udara yang tinggi, terutama pada tahun 2013 hingga 2014.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Dosen Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada, Retnadi Heru Jatmiko, kenaikan suhu di kota Yogyakarta dipicu oleh padatnya bangunan dalam kota, sementara vegetasi  yang ada hanya sedikit. Berdasarkan hasil penggunaan citra saluran inframerah termal terhadap perubahan iklim perkotaan Yogyakarta sepanjang tahun 2013 dan 2014, suhu tinggi berada di pusat perkotaan. Kondisi ini disebabkan lahan yang tertutup oleh bangunan, aspal, dan atap di pusat Kota Yogyakarta memiliki temperatur lebih tinggi (Riyandi, 2016). Suhu merupakan parameter kedua yang terdampak oleh perubahan iklim perkotaan setelah bencana alam.

Sedangkan keadaan sebaliknya terjadi di luar pusat kota Yogyakarta. Pada wilayah yang berada di pinggiran hingga jauh dari kota tidak mengalami kenaikan suhu dan cenderung lebih dingin. Hal tersebut disebabkan vegetasi lahan terbuka yang berada di wilayah tersebut cukup banyak.  

Selain perubahan suhu di pusat kota, daerah Yogyakarta lainnya pun mengalami dampak perubahan iklim dari badai El Nino. Badai tersebut mengakibatkan kesulitan air meskipun saat musim hujan. Hal itu sangat dirasakan oleh para petani di daerah Bantul yang jauh dari aliran sungai dan terpaksa harus memakai pompa disel yang mengakibatkan biaya produksi meningkat (Harry, 2016).

Matikan lampu selama 60 menit dapat merubah dunia.
Karena fenomena perubahan iklim ini, banyak organisasi ataupun instansi di bidang lingkungan yang tergerak untuk mencoba menanggulangi-nya. Earth Hour adalah salah satunya, sebuah organisasi yang berada di bawah World Wide Fund for Nature Perserikatan Bangsa-Bangsa. Earth Hour tidak hanya terpusat di Jakarta, namun juga ada di Yogyakarta. Organisasi ini tekenal dengan aksinya untuk menanggulangi perubahan iklim dan lingkungan.

Salah satu bentuk aksi Earth Hour untuk mengurangi perubahan iklim yaitu dengan cara menggelar kampanye untuk mematikan lampu secara serentak dalam waktu 60 menit setiap tahunnya, dari pukul 20.30–21.30 WIB. Hal ini dimaksudkan karena sumber pembangkit listrik yang saat ini dipakai adalah batu bara. Limbah hasil pengolahan batu bara untuk menjadi listrik sendiri memiliki dampak yang mencemarkan udara. Sehingga mematikan lampu secara serentak di seluruh kota-kota di dunia selama satu jam, akan menghemat listrik dan mengurangi jumlah batu bara yang dibutuhkan untuk pembangkit listrik.

Di samping itu, Earth Hour juga turut mempengaruhi pembuatan kebijakan yang dibuat oleh pemerintah Yogyakarta, salah satu-nya ialah Malioboro Car Free Night. Kebijakan ini dibuat karena melihat masalah kemacetan dan tingkat polusi yang tinggi pada hari Sabtu dan Minggu, sehingga Earth Hour berkoordinasi dengan pemerintah untuk membuatnya, namun hingga saat ini masih belum dapat dilaksanakan.

Selain itu, Earth Hour juga melakukan street camping sebagai bentuk keresahan kurangnya lahan hijau di Yogyakarta. Pemerintah sendiri mengapresiasi hal tersebut dengan membuat suatu konsep taman di Yogyakarta. Program-program yang dilakukan Earth Hour sebagian dibantu melalui dana yang diberikan oleh korporasi. Kemudian atas bantuan Sultan, pemerintah juga memberikan ‘surat sakti yang dapat mempermudah program Earth Hour untuk mendapatkan akses ke berbagai tempat.

Oleh karena itu, diharapkan pemerintah Yogyakarta bisa mengambil andil lebih banyak lagi dari aksi-aksi yang dilakukan oleh Earth Hour untuk mengurangi dampak perubahan iklim yang terjadi di Yogyakarta. Akhirnya, akan tercipta lingkungan yang lebih baik di Yogyakarta dan sekitarnya yang tentu saja bisa menjadi inspirasi bagi wilayah lain untuk lebih sadar merawat bumi dari hal-hal yang kecil maupun besar.
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

2 comments:

  1. Sip. Mulailah dari diri sendiri untuk menjaga bumi. Artikel yg bermanfaat. Nuwun informasinya

    BalasHapus
  2. Sip. Mulailah dari diri sendiri untuk menjaga bumi. Artikel yg bermanfaat. Nuwun informasinya

    BalasHapus