Mataf IP 2017, Talkshow tentang Keberagaman dan Kesatuan

Acara talkshow Mataf IP 2017. (foto: Niar

Nuansa Online - Program Studi Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) menyelenggarakan Masa Ta’aruf Jurusan tahun 2017 dengan tema “Membangun Generasi Pemersatu Negeri”, di Lapangan Bintang UMY, pada Rabu (23/8).

Puncak acara ini adalah talkshow yang bertemakan “Keberagaman sebagai Barometer Persatuan” dan mengundang tiga pembicara, yakni Zuly Qodir yaitu dosen jurusan Ilmu Pemerintahan dan Staf Unit Kerja Pembantu Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP), Hamim Ilyas yaitu Guru Besar Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, dan Dyah Puspitarini yaitu Ketua Umum PP Nasyiatul Aisyiyah periode 2016-2020.

Salah satu panitia acara, Nanang Yuliya Pranata, saat ditemui Nuansa mengungkapkan latar belakang pemilihan tema acara tersebut. “Sebelumnya kita buat kajian, kajian antar panitia, itu isu-isu yang masih hangat sekarang, dimana zaman sekarang pemuda bukannya mempertahankan keberagaman tapi menjadi pemuda milenial yang kurang  memanfaatkan situasi yang sudah ada, zaman sudah canggih tapi kebawa arus yang banyak ke arah negatif bukannya kearah yang posistif, jadi kami mengambil tema tersebut, bagaimana caranya kita sebagai pemuda menyatukan antar pulau antar bangsa antar suku, yang ada di Indonesia,” jelasnya.

Talkshow Keberagaman dan Kesatuan

Zuly Qodir, dalam kesempatannya sebagai pembicara pertama, menjelaskan sebuah alasan mengapa masyarakat Indonesia harus menghargai dan menghormati keberagaman yang ada di Indonesia, 

“Kenapa kita harus menghargai, menghormati keberagaman yang ada di Indonesia, karena kita dimerdekakan oleh berbagai suku bangsa, berbagai agama, berbagai kelas sosial, keputusan untuk menghilangkan kalimat ‘kewajiban  menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya’ dalam Pancasila adalah pertanda jiwa besar umat Islam agar Indonesia bersatu, bukan suatu kekalahan umat Islam,” ungkapnya.

Zuly Qodir menekankan bahwa Pancasila itu bukan kitab suci yang mengajarkan anda untuk masuk surga atau masuk neraka, pancasila adalah landasan kita untuk bernegara dan berbangsa, tapi nilainya tidak bertentangan dengan agama Islam.

Selanjutnya, Dyah Puspitarini sebagai pembicara kedua menjelaskan bahwa pemuda saat ini telah kehilangan nilai-nilai kebhinekaan dikalahkan oleh media sosial, “Satu hal yang membuat saya miris akhir-akhir ini adalah kemana nilai kebhinekaan kita yang seolah-olah absurd dan hilang dikalahkan oleh media sosial,”

Dyah juga mengungkapkan bahwa disintegrasi bangsa bisa dimulai dari menyebarluasnya hoax atau informasi-informasi yang tidak benar, “Karena ternyata disintegrasi bangsa bisa dimulai dari hoax. Hoax ini yang kemudian malah menjungkirbalikkan pikiran kita, ternyata perpecahan itu bukan lagi karena perbedaan ras, bukan karena perbedaan agama juga,” ungkapnya.

Lain halnya dengan kedua pembicara sebelumnya yang mengangkat topik keberagaman secara keseluruhan, pembicara ketiga, Hamim Ilyas, berbicara tentang keberagaman dalam perspektif Muhammadiyah. Hamim menegaskan bahwa Muhammadiyah dikenali dari identitasnya sebagai gerakan Islam yang didasarkan pada Alquran dan Hadist sehingga Muhammadiyah memandang keberagaman itu positif karena untuk saling mengisi bukan untuk saling memusuhi.


(RAN/JIH)
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar