Mataf HI 2017: Memberdayakan Pemuda untuk Idealis Terhadap Isu Lingkungan

Suasana Mataf HI 2017. (foto: Enrika)

Prodi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (HI UMY) melaksanakan Masa Ta’aruf Hubungan Internasional 2017 (Mataf HI 2017) yang bertempat di Lantai Dasar Masjid K.H. Ahmad Dahlan pada Rabu (23/8).

Mataf HI 2017 bertemakan “Empowering Youth Towards Global Environmental Issues in International Relations”. Maulana Ibrahim selaku Ketua Panitia Mataf HI 2017 menjelaskan bahwa isu-isu lingkungan sangat penting di jurusan HI. “Karena HI itu nggak melulu soal urusan antar negara, isu lingkungan pun termasuk urusan negara juga sebenarnya, jadi isu lingkungan pun sangat penting di jurusan HI, kemudian kita menekankan HI itu nggak melulu tentang diplomat tetapi ada NGO aktornya masyarakat transnasional, pelaku bisnis ada MNC, jadi kita mngambil dari sisi NGOnya justru kita mengundang dari pihak greenpeace indonesia biar sesuai dengan tema,” jelas Maulana.

Menurut Wita Agil Ananda selaku Ketua Korps Hubungan Internasional (Komahi) mengatakan bahwa Mataf HI 2017 ini unik karena mengambil tema tentang isu lingkungan. “Untuk tahun ini Mataf HI itu emang unik karena dari tahun ke tahun kita mengambil tema itu high politics atau  hubungan antar negara dan politik, untuk tahun ini mengambil lingkungan kemudian kita mix untuk sekarang, biasanya kelompoknya menurut negara sekarang, ada LSM seperti Greenpeace dan WWF, jadi ini lebih mengenalkan HI yang membumi karena HI yang modern itu dimana masyarakat LSM lebih aktif dalam bergerak di hubungan internasional dan ada andil dalam hubungan internasional,”ujar Wita.

Dalam rangkaian Mataf HI 2017 diawali dengan sambutan-sambutan oleh Ketua Panita Mataf HI 2017 dan Ketua Komahi. Kemudian acara dilanjutkan dengan pengenalan Dosen HI UMY dan kurikulum HI UMY dengan tujuan mengenalkan kepada mahasiswa baru tentang proses perkuliahan di HI UMY.

Sesuai dengan tema tentang isu lingkungan, pembicara pada Mataf HI 2017 adalah Fauzi selaku Public Engagement Campaigner Greenpeace Indonesia menjelaskan bagaimana peran Greenpeace sebagai NGO di Indonesia. “Secara garis besar NGO bisa menjadi jembatan antara masyarakat dan pemerintah yang punya kebijakan karena ada beberapa kebijakan-kebijakan yang dibuat sama pemerintah yang ini tidak pro terhadap lingkungan sekitar, jadi NGO ini bisa menjadi corong atau jembatan aspirasi apalagi sekarang sudah zamannya demokrasi jadi NGO bisa menjadi corong aspirasi antara masyarakat dan pemerintah,” jelas Fauzi.

Fauzi juga berharap kepada para pemuda untuk memiliki idealis yang tinggi terhadap lingkungan. “Harapanya adalah mulai sekarang teman-teman memiliki idealis yang tinggi terhadap lingkungan dan teman-teman bisa menjaga ritme idealis teman-teman nanti kedepan dan mengambil peran penting karena teman-teman bisa masuk dalam dunia kerja, ya teman teman bisa mengambil kebijakan kebijakan yang pro terhadap lingkungan karena yang saya tahu HI ini belajar banyak hal seperti pendidikan hukum dan lain-lain,”ujar Fauzi ketika menyampaikan materi pada Mataf HI 2017.

Mataf HI 2017 diikuti sekitar 400 mahasiswa baru HI UMY. Shafira Embun sebagai salah satu mahasiswa baru HI UMY mengaku dengan adanya Mataf HI 2017 bisa menambah wawasan. “Seru sih kaya jelasin satu-satu nggak langsung begitu saja, terus ada pengenalan dosen-dosen juga jadi kami bisa tau dosen-dosen di HI dan menambah wawasan apalagi dengan pembicara dari Greenpeace jadi bisa menambah ilmu,” ujar Shafira.

(ENR/LIS)
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar