FISIPOL 2017 : Perkuat Keyakinan Muslim Dalam Kebangsaan

Acara talk show Mataf Fisipol 2017. (foto: Caito)

Nuansa Online-Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIPOL) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) kembali menggelar Masa Taaruf (Mataf) untuk mahasiswa baru 2017 bertempat di Lantai dasar Masjid K.H Ahmad Dahlan, Selasa (22/8) dengan jumlah mahasiswa 924 orang, FISIPOL menjadi fakultas dengan jumlah mahasiswa terbanyak kedua setelah Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB).

Dengan mengusung tema “Keyakinan Muslim Sebagai Poros Kebangkitan Bangsa”, Ketua Panitia Mataf Fisipol, Faisal Muhammad Amanullah menyatakan ada dua hal yang ingin disampaikan. “Yang pertama adalah keyakinan muslim, karena kita berhubungan dengan background UMY dan nilai-nilai Muhammadiyah. Kedua kebangkitan bangsa yang dijadikan akan acuan sebagai Agen of Change. Karena Indonesia saat ini mudah dipropagandakan melalui isu-isu yang mengacu pada Islam,” paparnya dalam sambutan.

Pada mataf kali ini, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FISIPOL telah mengundang empat pembicara dengan sudut pandang yang berbeda. Sudut pandang kebangsaan dari Amien Rais, Keyakinan Muslim dari Komarrudin Hidayat, Politik Kebangsaan dari Muhammad Zainul Majdi, dan Orasi Kebangsaan dari Inu Kencana Syafiie. Namun karena ada beberapa hal, Amien Rais dan Muhammad Zainul Majdi tidak bisa menghadiri Mataf FISIPOL 2017.

Mataf dibuka dengan pemukulan gong oleh Bambang Wahyu Nugroho, selaku Wakil Dekan II FISIPOL. Bahkan ia sempat memukau para peserta Mataf dengan menyanyikan lagu Indonesia Pusaka menggunakan bahasa inggris.

Orasi  Kebangsaan yang dibawakan oleh Inu Kencana Syafiie selaku dosen tetap pada prodi Ilmu Pemerintah sekaligus mantan guru pamong Institut Pemerintahan Dalam Negri (IPDN).  Orasi dibuka dengan video aksinya dalam mengungkapkan kekerasan pada IPDN hingga video proklamasi 1945. “Orang berani belum tentu jujur namun orang jujur sudah pasti berani. Bapak sebenarnya penakut hanya saja Bapak ingin berbuat jujur,” jawabnya saat salah satu mahasiswa bertanya apa yang membuatnya berani mengungkapkan kekerasan di IPDN.

Selain itu, pada pemateri kedua, Komarrudin Hidayat selaku Rektor Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta pada periode 2006-2010 dan 2010-2015 menyampaikan ‘Bagaimana Memandang Islam Dalam Konteks KeIndonesiaan’. “Islam pada masa dulu adalah Fight Again yang artinya merebut kembali sedangkan Islam saat ini adalah Fight For yang artinya Islam yang membangun,” ungkapnya.

(JIH)
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar