Berbakti kepada Kedua Orangtua

Sumber foto: https://sayyidlover.blogspot.co.id

Alkisah ketika Zaman Nabi Muhammad SAW terjadi sebuah peristiwa yang menunjukkan betapa pentingnya berbakti kepada orangtua. Diceritakan bahwa dahulu ada seorang lelaki yang semasa hidupnya begitu taat beribadah kepada Allah, namun mengalami sakaratul maut yang begitu sulit dikarenakan semasa hidup ia menomor duakan ibunya dan memprioritaskan istrinya, hal tersebut pun kemudian membuat ibunya sakit hati. Jalan yang ditempuh untuk memudahkan sakaratul lelaki tersebut adalah dengan meminta ibunya untuk memaafkan segala perbuatannya yang menyakiti hati ibunya. Meskipun sempat enggan memaafkan perbuatan lelaki tersebut, akhirnya ibu lelaki itu memaafkan anaknya setelah Nabi Muhammad SAW berencana membakar lelaki tersebut agar lebih dulu merasakan siksa api dunia sebelum api neraka. Berkat ampunan dari ibunyalah, lelaki tersebut dapat menjalani sakaratul maut dengan mudah dan meninggal dengan keadaan khusnul khotimah.

Dari cerita tersebut memiliki makna bahwa, setiap anak harus berhati-hati dalam memperlakukan orangtuanya, mereka harus melayani orangtuanya sebaik mungkin dan menjaga perasaan orangtuanya agar tidak tersakiti hati mereka yang semuanya terbungkus dalam kegiatan berbakti kepada orangtua.

Hukum berbakti kepada orangtua (dalam bahasa arab birrul walidain) bersifat wajib bagi setiap anak karena ridho Allah SWT adalah dari ridho orang tua. Orangtua juga telah merawat dan memberikan kasih sayang sedari dalam kandungan hingga setiap anak tumbuh besar bahkan mereka akan terus memberikan kasih sayang hingga mereka menutup usia. Meskipun semua pengorbanan orangtua tidak dapat sepenuhnya dibalas, setiap anak harus, setidaknya sedikit, membalas pengorbanan tersebut dengan cara berbakti kepada mereka. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam Al-Quran Surah Al-Ahqaf ayat 15 yang berbunyi :

“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: "Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri".

Berbakti kepada orangtua yang masih hidup dapat dilakukan dengan cara mengunjungi mereka, tidak melawan perkataan mereka, tidak berbicara kasar terhadap mereka, memberikan pelayanan yang terbaik terhadap mereka. Sementara terhadap orangtua yang sudah meninggal, setiap anak tetap berkewajiban untuk berbakti dengan cara mendoakan mereka, beristigfar untuk mereka, melakukan kebaikan-kebaikan atas nama orangtua, dan menyambung silaturahmi dengan sahabat-sahabat orang tua.

Balasan bagi setiap anak yang berbakti kepada orangtua adalah terampuninya dosa-dosa dan jalan masuk kedalam surga Allah SWT. Betapapun shalehnya seorang anak jika ia menyakiti hati orangtuanya baik secara sengaja maupun tidak sengaja, maka ia akan tetap mendapatkan kesusahan dalam hidup maupun menjelang kematiannya. Hal ini sesuai dengan hadist riwayat Muslim yang berbunyi :

Rasulullah SAW bersabda, “Sungguh kasihan, sungguh kasian, sungguh kasian.” Salah seorang sahabat bertanya, “Siapa yang kasihan, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab “Orang yang sempat berjumpa dengan orangtuanya, kedua-duanya, atau salah seorang diantara keduanya, saat umur mereka sudah tua, namun tidak dapat membuatnya masuk surga.”

(SKA)


Rujukan : Ceramah Habib Al-Kaff dalam program Damai Indonesiaku TV One pada 22 Juni 2017
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar