Temui Massa Aksi, UMY Menyesali Terjadinya Kekerasan Terhadap Mahasiswa

Para demonstran berunjuk rasa di depan Gedung AR B

Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Peduli Kampus (MUMY-PK) melakukan aksi dengan tajuk “Pukul Mundur Fasisme” pada Selasa (16/5). Aksi yang dilakukan di depan gedung AR. Fachruddin UMY, seperti yang tertulis dalam press released dari MUMY-PK, yakni menuntut Rektor bertanggungjawab atas tindakan represitasi dan anti demokrasi terhadap mahasiswa.

Aksi ini merupakan buntut dari terjadinya insiden kekerasan yang melibatkan massa aksi penolak kedatangan Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo di UMY dengan keamanan kampus pada Sabtu, 6 Mei 2017 lalu. Menurut Koordinator Umum (Kordum) aksi MUMY-PK, Rizki Maulana ketika ditemui oleh LPPM Nuansa pasca berlangsungnya aksi menyebutkan bahwa tindakan kekerasan yang dilakukan oleh pihak keamanan kemarin adalah sebuah bentuk fasisme.

Pihak Rektorat, diwakili oleh Wakil Rektor IV UMY, Hilman Latief menemui peserta aksi dan melakukan dialog terbuka mengungkapkan penyesalan terkait insiden yang terjadi. “Ada komunikasi yang tidak baik di dalam kampus sendiri, terlebih lagi komunikasi antara keamanan kampus dengan para mahasiswa demonstran, pihak kampus juga meyakinkan bahwa tidak akan terjadi lagi tindakan represif yang melibatkan aparat kemanan kampus,” ujar Hilman di depan peserta aksi.

Hilman mengungkapkan pihak kampus sudah berusaha untuk mengevaluasi permasalahan dan juga kedua belah pihak yang bertikai. “Evaluasi meliputi pengamanan demonstrasi, pendekatan yang bisa diterapkan terhadap pendemo, pendekatan bagaimana jangan sampai demonstrasi menjadi gesekan karena demonstrasi itu menyampaikan pendapat, suara, serta bagaimana menyikapinya, dan lain-lain,” jelasnya ketika ditemui LPPM Nuansa.
Tuntutan Demonstran yang tercantum dalam Press Released.
Rizki Maulana mengapresiasi sikap kooperatif pihak kampus walaupun belum merasa puas sebelum tuntutan massa aksi dipenuhi. “Kami belum puas dalam artian apabila hal ini belum terealisasikan, sudah ada hitam di atas putih kami bersyukur terhadap itu, namun kemudian harus ada tindak lanjut lagi kedepannya,” ungkap Rizki.


Hilman Latief, ketika ditemui LPPM Nuansa pasca aksi juga menuturkan bahwa tidak semua tuntutan massa dapat dipenuhi, salah satunya mengenai pemecatan oknum keamanan yang terlibat insiden. “Tidak semua harus dipenuhi, maksudnya tingkat kesalahannya seperti apa? Ada penugasan baru, ada acara lagi atau tidak di lapangan, direlokasi dan lain-lain, tidak langsung main pecat, sama seperti kita langsung main DO, ada demo DO, itu tidak bisa,” jelas Hilman.

(AML, MADA, APR, ASN)
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar