Kinedoskop 2017 Laksanakan Agenda Pemutaran Film Beraroma Indonesia

Suasana Kineidoskop 2017.

Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) MM Kine Club melaksanakan Kineidoskop 2017 pada hari Rabu (17/5). Acara yang bertajuk “Simfoni Sinema Indonesia” ini digelar di Institut Fran├žais Indonesia – Lembaga Indonesia Perancis (IFI-LIP) Yogyakarta. Kineidoskop merupakan kegiatan launching dan screening film produksi MM Kine Club.
Nada Nadia, selaku ketua panitia pelaksana kegiatan, mengungkapkan bahwa Kineidoskop merupakan kegiatan tahunan MM Kine Club dibawah program kerja Divisi Apresiasi. Tujuan dari kegiatan screening dan launching ini sebenarnya adalah untuk memberikan apresiasi yang layak terhadap sineas muda dalam membuat film-film yang berkualitas. Ia juga mengungkapkan bahwa Kineidoskop 2017 ini sebetulnya adalah film-film hasil karya MM Kine Club selama satu periode kepengurusan.
Kineidoskop 2017 bisa dikatakan sudah memasuki tahun penyelenggaraan yang ketiga. Pada tahun ini, MM Kine Club mengangkat tema “Simfoni Sinema Indonesia”. Menurut Nada, tema tersebut diambil karena hal ini berhubungan dengan film-film yang di-launching pada tahun ini. “Film ‘Bukan K Tapi U’ ini sendiri mulai diproduksi sekitar Bulan Juli, dimana alasan pemilihan temanya didasarkan pada pengikutsertaan film untuk Festival Kartini. Kemudian, untuk film ‘Kelingan’ itu berdasarkan pada salah satu kisah teman kami dan mulai produksi sekitar Bulan Januari 2017. Film ketiga, berjudul ‘Toedjoeh Kata’ itu memang dibuat untuk diikutkan dalam Pekan Seni Mashasiswa Perguruan Tinggi Muhammadiyah pada tanggal 8 sampai 12 Mei 2017 kemarin. Jadi bisa dilihat sih, judul-judul ini mempunyai nuansa ke-indonesia-an,” jelasnya.
Film yang berhasil di­-launching pada kegiatan ini, yaitu “Bukan K Tapi U”, sebuah film dokumenter yang menceritakan tentang kehidupan seorang “Kartini” jaman sekarang bernama Utiyah, pemilik yayasan disabilitas di Wonosobo. Film kedua, yaitu “Kelingan” sebuah film drama yang berkisah tentang seorang anak yang rindu dengan sosok Ibunya pada hari Kartini dan film terakhir, yaitu “Toedjoeh Kata”, sebuah film dokumenter drama yang berkisah tentang peran Ki Bagus Hadikusumo dalam penggantian sila pertama yang ditulis dalam Piagam Jakarta. Dalam kegiatan Kineidoskop ini juga ditampilkan pemutaran film tamu, yaitu “Turah” besutan Wicaksono Wisnu Legowo.
Dalam acara ini, beberapa peserta terlihat antusias dengan adanya agenda Kineidoskop 2017. Contohnya saja Adi Wirawan dari Vokasi Universitas Gadjah Mada yang mengaku bahwa agenda ini benar-benar menarik minatnya. “Sebenarnya saya lihat promosi dari Instagram dan kebetulan ada penayangan film Turah. Saya jadi excited sekali kepingin nonton.” Hal senada juga diungkapkan oleh Aulia Devi dari Sastra Inggris Universitas Gadjah Mada yang menyatakan bahwa agenda Kineidoskop 2017 ini cukup menyenangkan. Ia juga menambahkan dengan sedikit bercanda, “tapi mungkin tahun depan tempatnya bisa dipindah ke XXI kali ya, agar bisa lebih nyaman,” imbuhnya.

Dengan diselenggarakannya acara ini, Nada berharap dengan adanya kegiatan Kineidoskop 2017 ini dapat membuat nama MM Kine Club lebih dikenal. Selain itu, ia berharap bahwa sebagai generasi muda, sudah selayaknya untuk berkarya selain pada bidang akademik, termasuk melalui film-film ini. “mudah-mudahan juga relasi dan hubungan antar komunitas bisa berjalan dengan baik.” 
(AML, ALF)
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar