Internasionalisasi Mahasiswa Internasional

Suasana audiensi Mahasiswa IPIREL.

Beberapa hari belakangan ini dikalangan para mahasiswa jurusan Ilmu Hubungan Internasional program internasional atau yang disebut IPIREL khususnya yang berada di angkatan 2016 sedang mengalami kegegeran. Mereka dikejutkan dengan pengumuman bahwa mereka harus membayar sejumlah uang lagi sebagai tagihan biaya internasionalisasi. Mereka mempermasalahkan jumlah uang yang harus dibayarkan tidaklah sedikit dan tagihan ini diumumkan di akhir semester. Para mahasiswa kebingungan dan juga beberapa diantaranya tidak setuju dengan adanya tagihan ini.  Pada hari Rabu (17/05) diadakan audiensi oleh para mahasiswa IPIREL 2016 dengan presiden IPIREL Community, Muhammad Aziz. Audiensi diadakan di ruang Study Hall IPIREL pada pukul 9.00 pagi.

Muhammad Aziz dalam audiensi ini mengklarifikasi dan menjabarkan kembali mengenai transparasi dana. Ia juga menjawab beberapa pertanyaan dan keluhan dari para mahasiswa. Biaya internasionalisasi yang akan dibayarkan oleh para mahasiswa ini nantinya akan menjadi tabungan bagi mereka untuk mengikuti program pertukaran mahasiswa (exchange), international conference, dan Kuliah Kerja Nyata atau Kuliah Kerja Lapangan internasional. Ketiga hal tersebut adalah syarat wajib bagi mahasiswa program internasional 2016 untuk mengikuti yudisium. Biaya internasionalisasi dapat digunakan para mahasiswa untuk pembayaran program-program tersebut. Tidak hanya program yang diadakan oleh universitas, biaya tersebut juga bisa digunakan untuk program yang diadakan oleh luar kampus seperti misalnya program YSEALI (Young Southeast Asian Leaders). Walaupun program tersebut adalah program yang full-funded dimana semua biaya ditanggung oleh kementrian, para mahasiswa bisa ‘mengambil tabungan mereka’ dengan membawa sertifikat sebagai bukti keikutsertaan dalam program tersebut.

Adanya tagihan ini sebenarnya adalah salah satu bentuk dari kekhawatiran dari IPIREL Office. Hal yang ditakutkan adalah ketika para mahasiswa IPIREL 2016 mengalami kekurangan akses untuk exchange dengan jumlah mahasiswa yang mencapai 80 orang dan kuota exchange dari universitas yang hanya belasan disetiap semesternya. “Biaya internasionalisasi ini hanya dibayarkan sampai kalian mengikuti program di luar negeri,” ujar Muhammad Aziz. Setelah selesai mengikuti program internasional, para mahasiswa tidak lagi harus membayar biaya internasionalisasi. Hal ini juga merupakan salah satu motivasi bagi para mahasiswa untuk segera menjadi mahasiswa internasional yang sesungguhnya.

Yang menjadi pertanyaan para mahasiswa selain transparasi dana adalah mengenai pemberitaan tagihan yang dirasa terlalu mendadak serta tanpa melalui surat edaran dengan cap dari IPIREL Office. Hal ini terjadi karena keterlambatan turunnya surat keputusan dari universitas yang baru turun pada saat semester genap akan berakhir. Hal ini sangat disayangkan oleh Mahasiswa IPIREL karena seharusnya diadakan sosialisasi dulu agar para mahasiswa tidak kaget dengan adanya tagihan tersebut.


Di akhir audiensi, Muhammad Aziz berjanji akan mengusahakan agar surat edaran resmi mengenai tagihan ini disebarkan dan menyarankan agar untuk sekarang ini para mahasiswa sebaiknya mengikuti alurnya dulu. Para mahasiswa diminta untuk tidak usah merasa ragu karena biaya yang dibayarkan ini tidak akan kemana-mana dan nantinya akan kembali digunakan oleh mereka sendiri. 

(AICE)
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar