Tanggung Jawab Siapa Indonesia?

Sumber foto : http://www.gurupendidikan.com

Indonesia seperti yang dikemukakan oleh Prof. Dr. M Dawam Rahardjo adalah sebuah negara outsourcing. Apabila merujuk pada Undang-undang no 13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan, Outsourcing (Alih Daya) dikenal sebagai penyediaan jasa tenaga kerja. Dapat dikatakan bahwa karyawan outsourcing adalah karyawan kontrak yang dipasok dari perusahaan penyedia jasa tenaga kerja outsourcing. Kalau Indonesia dikatakan sebagai negara outsourcing berarti Indonesia adalah sebuah negara yang hanya mampu memasok tenaga kerja. Jadi, Indonesia tidak melakukan industrialisasi karena Indonesia hanya melaksanakan penyelenggaraan pendirian pabrik milik asing. Mulai dari sini timbul beberapa opini yang mengatakan kemana perginya mahasiswa ketika nasib Indonesia sedang sekarat. Kenapa hanya ada segelintir manusia yang melakukan pergerakan untuk membentuk Indonesia yang berkemajuan.

Masalah pada era ini harus ditangani secara berbeda dengan zaman dahulu. Contohnya pada saat era Soeharto dimana mahasiswa ikut berperan penting dalam menurunkan kepemimpinannya. Pada saat itu banyak yang menganggap bahwa pemimpin negara bersifat otoriter maka dari itu terdapat target yang jelas yaitu pimpinan negara. Bagaimana dengan kondisi saat ini? Saat ini dapat dikatakan sisi gelap Soeharto telah menjelma diberbagai elemen masyarakat. Lalu bagaimana mahasiswa harus bertindak? Apabila mahasiswa diposisikan sebagai pembela kebenaran timbul pertanyaan apakah pembela kebenaran dalam tokoh-tokoh perfilman pernah kalah? Tidak ada tokoh pembela kebenaran yang mati pada akhir cerita. Bahkan ketika mati dipertengahan akan hidup kembali. Dari hal tersebut dapat di simpulkan bahwa membela kebenaran tidak hanya perlu mengetahui mana yang salah dan mana yang benar namun juga perlu mempertimbangkan keselamatan. Sedangkan saat ini banyak sekali pemberitaan yang sangat luar biasa ketika terdapat permasalahan kecil nyawa menjadi taruhan, tidak nyawa namun rasa ketakutan terus menaungi. Ketika kebenaran belum mampu untuk dipertahankan sedangkan keselamatan sudah hancur jika dikisahkan akan menjadi sebuah film yang cukup mengecewakan bagi penonton.

Pendidikan mahasiswa saat ini dan zaman dahulu ketika mahasiswa menjadi sosok yang luar biasapun berbeda. Saat ini menurut Dr. Revrisond Baswir banyak perguruan tinggi yang mencerminkan neo-colonialism. Jangan-jangan ada kemungkinan bahwa perguruan tinggi adalah pusat pengkaderan agen kolonialisme. Neokolonialisme sendiri dapat dikatakan sebagai pengembangan kekuasaan sebuah negara atas wilayah dan manusia diluar batas negaranya, yang seringkali digunakan untuk mencari dominasi ekonomi dari sumber daya, tenaga kerja, dan pasar wilayah tersebut. Indonesia saat ini tidak berdaulat dalam pangan, tidak berdaulat dalam industri, tidak berdaulat dalam energi, tidak berdaulat dalam obat. Lalu siapakah yang bertanggung jawab atas kondisi ini? Kondisi dimana mahasiswa tidak sadar akan betapa malunya kehilangan kedaulatan. Apakah mahasiswa ataukah sang pendidik?

Salah satu yang perlu untuk ditumbuhkan adalah masalah integritas. Tak hanya mahasiswa, masyarakatpun banyak yang belum memahami integritas. Mahasiswa dikatakan berintegritas, ketika mahasiswa kembali menumbuhkan hati nurani mereka. Karena disitulah kejujuran yang akan bicara, nilai-nilai dan keputusan-keputusan mulai akan muncul. Permasalahan ego, kepentingan, nafsu, kedudukan akan  tersingkir. Apabila ini tidak dipersiapkan maka mahasiswa hanya akan menjadi terbelenggu oleh kekuasaan dan politik akan mudah dimanfaatkan dan dikaderisasi mengenai hal-hal yang menyimpang.

Pada sisi yang lain masyarakat Indonesia saat ini menjadi masyarakat yang mudah terprovokasi terhadap informasi yang memang belum jelas kebenarannya. Ibaratnya informasi itu ada beberapa jenis. Yaitu informasi benih, informasi padi, informasi nasi, dan informasi keron (nasi yang mongering). Informasi yang bisa langsung dikonsumsi adalah informasi nasi itupun perlu dicerna terlebih dahulu. Sedangkan informasi padi dan benih adalah jenis informasi yang perlu untuk dikaji terlebih dahulu kebenarannya dan perlu diketahui berasal dari mana sumber informasi tersebut. Selain itu bagi seluruh masyarakat Indonesia marilah tumbuhkan rasa persaudaraan yang mampu untuk memberikan efek keamanan dan kecukupan. Serta mulailah untuk mencoba membimbing bukan lagi menyalah-nyalahkan tanpa memberikan solusi.

(MUZK)
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar