Ketimpangan Gender di Bumi Pertiwi

Sumber gambar : https://i2.wp.com/nowgrenada.com/wp-content/uploads/2015/03/gender_0.jpg?fit=620%2C620

Beberapa waktu yang lalu, tepatnya pada (4/4) di Jakarta. Ratusan orang berkumpul untuk menyuarakan tuntutan - tuntutan mereka mengenai kesetaraan gender dalam aksi Women’s March. Bukan hanya kaum perempuan yang datang untuk menyuarakan aspirasinya namun kaum lelaki juga turut  berunjuk rasa karena adanya perasaan sadar akan pentingnya kesetaraan gender. 

Walau banyak masyarakat Indonesia yang telah sadar akan pentingnya kesetaraan gender baik untuk kaum perempuan maupun laki - laki. Namun sayangnya masih banyak juga pihak -pihak yang mengabaikan bahkan menutup mata dari kenyataan bahwa ketimpangan gender itu memang ada dan sedang terjadi. Mereka menganggap bahwa aksi Woman’s March tersebut tidak sesuai dengan budaya Indonesia dan dianggap sebagai suatu aksi ikut - ikutan tanpa ada tujuan yang jelas.

Cukup miris mendengar pernyataan tersebut, terutama ketika Women’s March merupakan suatu aksi yang bertujuan untuk meningkatkan kepekaan dan kesadaran bahwa ketimpangan gender itu nyata adanya dan harus dihentikan. Aksi  tersebut juga merupakan aksi pembelaan bagi kaum - kaum yang merasakan adanya penindasan dari ketimpangan gender. Karena kenyataannya awal dari permasalahan seperti pelecehan seksual, pemerkosaan, diskriminasi perempuan dalam pekerjaan, pendidikan, politik, dan lain-lain yang terjadi sekarang ini adalah ketika peristiwa tersebut tidak dilihat sebagai suatu masalah yang serius. Seperti yang terjadi di Indonesia, hukum dan penegak hukum dalam kasus-kasus pelecehan seksual hampir tidak pernah berpihak pada perempuan. Hal tersebut yang kemudian berakar mendalam dalam struktur dan kultur masyarakat yang memuat ketidakadilan gender.


Selain itu, masih banyak masyarakat Indonesia yang memiliki pemahaman - pemahaman keliru mengenai konsep dan tujuan feminisme. Banyak yang mengira untuk mencapai kesetaraan, perempuan harus berada diatas laki - laki. Walaupun dalam mencapai kesetaraan gender memang harus melalui dekonstruksi maskulinitas, namun feminisme seharusnya berperan dalam memperbaiki relasi gender, bukan memperkuat salah satu jenis kelamin dengan mengorbankan yang lain. Feminisme selama ini juga dianggap sebagai suatu gerakan yang hanya membela kaum perempuan, hal tersebut merupakan anggapan yang salah karena gerakan ini juga membebaskan kaum laki-laki dengan memutus standar-standar yang diberikan masyarakat pada kaum perempuan dan laki-laki.

Ketimpangan gender yang sedang terjadi di seluruh penjuru dunia dan persoalannya bukan lagi tentang kontradiksi antara laki - laki dan perempuan. Namun, memang berasal dari ketidakadilan yang berakar dari ketidakadilan gender. Salah satu cara mengehentikannya adalah dengan berhenti untuk menutup mata dan telinga mengenai masalah ketimpangan gender yang ada didepan kita. Ignorance and intolerance is also a part of the reason why inequality happen. Semoga setelah ini masyarakat Indonesia dapat semakin sadar akan pentingnya kesetaraan gender sehingga korban – korban dari ketimpangan gender akan semakin berkurang.

(MRW)
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar