Terakreditasi A, Program Magister Ilmu Pemerintahan Lebih Percaya Diri



Setelah melalui persiapan selama kurang lebih satu tahun, Program Studi Magister Ilmu Pemerintahan (MIP) resmi berakreditasi A pada tanggal 27 Desember 2016 lalu dan berlaku hingga 2022 nanti. Untuk mencapai akreditasi A banyak dokumen-dokumen yang harus dipersiapkan, mancakup visi misi, sumber daya baik dosen maupun mahasiswa, iklim akademik, dan infrastruktur dari program studi sendiri.

Dari segi dosen, MIP sudah mencapai batas minimal Akreditasi A, yaitu tujuh dosen dengan gelar doktor. Dari segi mahasiswa, adanya 3 mahasiswa asing dari Filipina, Thailand, dan Malaysia yang aktif dalam kegiatan perkuliahan membantu proses akreditasi. Adanya kerja sama internasional seperti student exchange, kolaborasi research, dan konferensi internasional juga menjadi pendukung penilaian. Beberapa universitas yang sudah menjalin kerja sama dengan MIP adalah Universiti Sains Malaysia, University of The Philippines, National University of Singapore, dan Thammasat University.

Keunggulan dari MIP UMY sendiri adalah pengkajian baik research maupun pengajaran yang mengandung perspektif keislaman. Hal inilah yang tidak dimiliki oleh prodi MIP di universitas lain. Selain itu, dalam pembelajarannya MIP juga melakukan komparasi praktik-praktik manajemen publik dan politik Indonesia dengan negara lain.

Akreditasi A membuat MIP lebih percaya diri untuk terjun dalam persaingan internasional, minimal Asia Pasifik. “Dosen dan mahasiswa kami dorong untuk turun di kancah internasional. Tentunya dibarengi dengan upgrade kemampuan baik dari bahasa, research, dan pengajaran. Akreditasi A otaknya ya harus A juga. Semuanya termasuk pengelola staf, dosen, dan mahasiswa,” ucap Zuli Qodir selaku Sekretaris Prodi MIP.

Perubahan setelah MIP terakreditasi A juga dirasakan oleh mahasiswa MIP terutama dari iklim akademik. “Semakin sering kajian-kajian akademik di luar perkuliahan. Kami juga lebih percaya diri untuk ikut agenda-agenda kemahasiswaan call for paper dan lain sebagainya. Karena kita yakin dalam bersaing dan lebih unggul dari program master lainnya,” ujar M. Quránul Karim, mahasiswa MIP 2016.

Kendala yang dihadapi dalam proses akreditasi ini salah satunya ialah pendanaan. Untuk keperluan fotokopi dokumen saja mencapai 20 juta karena harus melalui proses jilid, kirim, koreksi berulangkali. “Pendanaan tidak diperhatikan dengan baik. Dari universitas diberikan dana 25 juta, namun tak disangka pengeluaran mencapai 100 juta. Akhirnya kami mengajukan dana tambahan kepada universitas. Kalau mau maksimal ya dananya diperbanyak,” ujar Zuli.

Beliau menambahkan program master UMY harus diberi perhatian khusus, jangan disamakan dengan S1. Tidak akan berkembang apabila diperlakukan sama yang jelas jumlah mahasiswanya lebih sedikit. Nantinya akan berpengaruh juga ketika proses akreditasi berlangsung.

MIP berupaya menjalankan apa yang sudah direncanakan demi mempertahankan Akreditasi A yang sudah didapatkan. Semua ditingkatkan kualitasnya dari segi research, pengajaran, dan publikasi melalui jurnal. Bahkan MIP memiliki jurnal tersendiri untuk mewadahi penulis-penulis dari MIP dan dari luar. Prodi MIP juga mendorong iklim akademik untuk lebih berkultur internasional.


Bertambah banyaknya kerja sama seperti konferensi, kolaborasi research, dan program exchange dengan universitas asing juga diharapkan oleh MIP. “Kalau sekarang dari National University of Singapore, Thammasat University belum ada mahasiswa yang kuliah disini. Karena kalau mahasiswa mau kuliah di sini liat grade-nya, grade mereka kan lebih tinggi. Tapi dosen sana yang mengajar di sini sudah ada, dosen kita yang sekolah di sana juga ada,” ujar Zuli. (SRS)
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar