Perlunya Verifikasi untuk Melawan Hoax

Agung Purwandono, pemateri talkshow jurnalistik dari Krjogja.com menjawab pertanyaan peserta dalam rangkaian puncak acara Jurnalist Week, Sabtu, (11/3).

Praktisi jurnalistik menilai munculnya hoax disebabkan oleh kurangnya verifikasi. “Sebagian dari kita ketika mendapat berita, merekamnya kemudian menyimpulkannya sendiri-sendiri,” ungkap Agung Purwandono, Pimpinan Redaksi krjogja.com ketika menyampaikan materinya dalam talkshow bertajuk MEDIAMATTER “Mengungkap Distorsi Media Terkini” yang diselenggarakan oleh Lembaga Penerbitan dan Pers Mahasiswa (LPPM) Nuansa di Ruang Seminar Gedung KH. Ibrahim Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (11/3).

Agung juga berpendapat, mudahnya pembuatan media berbasis online, yang diidentikkan dengan kecepatan pemberitaannya, turut mempengaruhi fenomena hoax saat ini. “Semua orang bisa membuat media online tanpa syarat yang berbelit,” ujar Agung, sembari memperlihatkan data 5 media baru lahir setiap harinya pasca reformasi.  Agung juga menunjukkan dari jumlah media online di Indonesia saat ini, yaitu 43.400, yang terdaftar hanya 234 media.

Hendrawan Setriawan dari Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI) Yogyakarta, juga menyatakan hal yang serupa terkait verifikasi. “Apa yang membedakan jurnalis dengan pekerjaan lain adalah jurnalis melakukan verifikasi,” ujar Hendrawan ketika sesi pemaparan materinya di acara yang sama. Hendrawan juga menilai informasi-informasi yang beredar dari media sosial tidak bisa menjadi berita, karena belum terverifikasi.

Hendrawan sendiri membedakan antara fake news (berita rekayasa) dengan hoax (berita palsu). Kemunculan hoax sendiri, menurut Hendrawan cenderung muncul ketika terjadi 2 momen berikut, yaitu ketika terdapat isu yang menjadi perhatian publik, dan saat terjadi satu krisis. Baik fake news ataupun hoax, berbahaya jika disebar begitu saja melalui media online, terutama berbasis sosial, “Sifat media sosial saat ini mengulang-ulang, seperti menembakkan peluru, karena tidak bisa ditarik kembali,” ujar Hendrawan.

Di dalam acara yang sama, Sujarwanto Rahmat M. Arifin, Wakil Ketua Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat, menilai media berita saat ini, terutama di dunia pertelevisian, semakin terkonsolidasi. “Hal ini (red: terkonsolidasi) berdampak pada efisiensi di news room-nya,” ujar pria yang akrab disapa Rahmat ini. Rahmat memberikan contoh bagaimana MNC Grup harus membagi-bagi berita kepada ke-4 stasiun televisi yang dimilikinya.

Rahmat berpendapat, terdapat 2 tantangan yang dimiliki media saat ini, yaitu digitalisasi dan konvergensi. Tantangan yang dihadapi media berita sendiri terdapat pada konvergensi media, “Di era konvergensi media, kita harus cerdas beretika menyebarkan informasi, saat ini kita hampir muntah karena informasi,” ungkap Rahmat.


Rahmat juga mengingatkan tanggungjawab masyarakat yang harus dimiliki ketika akan membagikan berita melalui media sosial, karena media sosial adalah ruang publik. Dalam pemaparannya, Rahmat menjelaskan beberapa hal yang perlu dipertimbangkan sebelum menyebarkan berita, yatiu kebenarannya, perlu tidaknya diketahui khalayak, manfaatnya, dan penting atau tidaknya berita tersebut. (MADA)    
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar