Perang Idealisme: Menyisakan Keberagaman yang Terbelenggu

 
sumber foto : ragil.com

Pemuda negeri merupakan cikal bakal penguasa negeri beberapa tahun yang akan datang. Ketika melihat negeri ini, sekarang kita semakin dekat berada dalam ambang kehancuran toleransi. Gejolak-gejolak suara mayoritas-minoritas seolah membelenggu jiwa-jiwa nasionalisme. Penyerangan diskriminasi atas kaum minoritas tertentu seperti sudah menjadi tontonan massa di Indonesia. Ya, Indonesia, negeri yang penuh dengan paradoks. Seolah lupa dengan ‘unity in diversity’ yang telah lama kita junjung tinggi dalam bersinergi bersama menjalani roda kehidupan. Namun, seiring pertambahan usia zaman, perang idealisme yang menganggap dirinya adalah paling benar dan merasa memiliki power semakin mencuat hingga menimbulkan perdebatan dan intoleransi. Persatuan dalam keragaman di negeri ini seperti sirna oleh waktu. 

Katanya, orang-orang di negeri ini saling menghargai. Namun, beberapa tahun belakangan hingga saat ini seolah itu semua terbalik. Wacana yang sedang mencuat diperbincangkan masyarakat akhir-akhir ini mengenai diskriminasi yang berlatar belakang agama, etnis, dan gender. Kicauan diskriminasi  tersebut semakin masif beredar melalui sosial media atau media massa hingga menimbulkan kecemasan di masyarakat. Hal tersebut juga turut mengancam nilai keberagaman, kemanusiaan, dan keadilan sosial di Indonesia seperti yang diamanatkan oleh Pancasila, khususnya sila “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab” dan sila “Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia”. 
  
Pancasila sebagai dasar negara seolah tak terhiraukan. “Kemanusiaan yang adil dan beradab, serta keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia”, kata-kata itu seakan tidak ada artinya meskipun selalu diucapkan oleh semua warga negaranya sejak dari Sekolah Dasar (SD) bahkan Taman Kanak-kanak (TK). Penguasa elit yang lahir lebih dulu dari kami, para generasi muda, pun turut mengabaikannya. Saya memandang bahwa sila ke-2 dan ke-5 Pancasila mengedepankan pada suatu keadaan bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan hak dan kesempatan yang sama tanpa memandang perbedaan agama, etnis, ras, gender, sosial, ekonomi, dan sebagainya. 

Hal yang paling dikhawatirkan adalah menguatnya sikap dan hasutan kebencian terhadap kaum minoritas di negeri ini yang mengarah kepada ancaman dan tindakan kekerasan. Sebagai contoh, seperti pemberitaan yang tidak adil dan tidak berimbang serta cenderung menghakimi di media sosial atau media massa. Kita ketahui bahwasanya saat ini peredaran informasi di media begitu deras dan tak terelakkan. Tindakan menghakimi tersebut merupakan sebuah bentuk pelanggaran terhadap nilai-nilai kemanusiaan, keadilan, kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengemukakan pendapat yang dijamin dalam UUD 1945, yaitu Pasal 28 I (2) UUD 1945, “Setiap orang bebas dari perlakuan yang bersifat diskriminatif atas dasar apapun dan berhak mendapatkan perlindungan terhadap perlakuan yang bersifat diskriminatif itu”. Serta Pasal 28 E (3) UUD 1945, “Setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat”.

Sungguh ironi memang ketika perang idealisme mulai berhamburan keluar, meyakini bahwa idealismenya paling benar sendiri tanpa mendengarkan yang lainnya. Tidak sadarkah, sebenarnya kita hidup di negara yang memiliki suku, bangsa, agama, etnis, dan karakter yang beragam. Sudah selayaknya kita memeluk semua itu dengan rasa persatuan. Serta sebagai generasi yang bijak, kita harus mampu menerima perbedaan, menggenggam erat persatuan dan kesatuan bangsa, karena kita adalah partikel kehidupan negeri di ruang yang sama. Bangsa yang rukun, damai, dan sejahtera adalah yang mampu menerima apapun tanpa diskriminatif, penolakan, dan adu kebencian.  (ASN)
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar