Pentas Teater Tangga “Ben Go Tun”: Dunia Ini Sudah Gila

Seorang majikan sedang dimintai keterangan wartawan dalam adegan teater "Ben Go Tun". foto/Gumido WR

Kehidupan masyarakat tahun 1970an yang penuh remeh-temeh kembali disajikan dalam pementasan teater oleh Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Teater Tangga UMY. Penampilan teater berjudul “Ben Go Tun”, dilaksanakan di halaman parkir Student Center (SC), pada Rabu (15/3) malam. Kegiatan ini merupakan acara pentas pamit yang merupakan kegiatan wajib sebelum pementasan besar diselenggarakan di Gedung Societed Taman Budaya Yogyakarta (TBY), pada Sabtu (18/3), kemarin.

Pementasan ini merupakan kegiatan rutin di awal rangkaian open reqruitment anggota Teater Tangga. Selain bertujuan menghibur penonton, acara pementasan juga bertujuan memberi ruang bagi anggota baru Teater Tangga untuk berlatih teater maupun produksinya. Sebab dari total sebelas aktor yang berperan, hampir semua aktor merupakan anggota baru.

Menurut Agam Satya, state manajer produksi, saat pentas pamit, Bahasa Cina dalam kata GO TUN mempunyai arti nilai besaran Lima Rupiah. Besaran nilai itu sebagai penafsiran bahwa kehidupan di tahun 70-an penuh dengan teka-teki dan kebohongan. Peran pemain menyampaikan sebuah pesan yang mengingatkan kembali kemasa lampau mengenai profesi seseorang yang dimanfaatkan untuk saling menipu.

Mengadaptasi dari cerita "Ben Go Tun" sebuah karya milik Saini K.M. tim Teater Tangga berupaya untuk memberikan penampilan menarik yang cukup ringan untuk dinikmati. Cerita ini dipilih karena dirasa memenuhi kriteria yang diinginkan oleh tim Teater Tangga, yaitu ringan untuk pembelajaran anak-anak muda. Selain itu, pementasan cerita ini juga bertujuan agar penonton dapat merefleksi sendiri kehidupan manusia saat ini.

"Ya memang yang masuk dalam kriteria kita dan apa yang mau kita tuju ya memang ini Ben Go Tun, gitu, dan untuk pembelajaran anak baru itu nggak berat juga," jelas Rahayu Williyanti, Pimpinan Produksi.

Penampilan teater berdurasi satu setengah jam tersebut menceritakan tentang suatu kehidupan masyarakat dan polemiknya dalam keseharian. Cerita dimulai dari seorang pembantu rumah tangga dengan kehidupannya yang penuh tekanan karena majikannya. Ia memiliki seorang majikan yang galak, licik, dan ingin dikenal sebagai seorang veteran yang baik. Segala cara dilakukan majikannya tersebut termasuk memanggil wartawan untuk membuat berita baik tentangnya.

Sayangnya wartawan yang bekerjasama dengan seniman justru ingin memeras majikan itu dengan mengeluarkan fakta bahwa ia adalah pembohong. Tak habis pikir, sang majikan meminta bantuan seorang dukun untuk menghilangkan berita buruk tentangnya. Sungguh disayangkan lagi ternyata dukun tersebut juga bekerjasama dengan pemuda untuk memeras majikan itu.

Cerita diakhiri dengan klimaks penangkapan majikan tersebut oleh seorang jenderal yang ternyata adalah pasien rumah sakit jiwa. Dalam cerita tersebut juga dibumbui dengan adegan sehari-hari masyarakat seperti kehidupan penjahit, pemain musik, dan pedagang warung yang menambah suasana cerita.

Pada akhir cerita si pembantu berkata bahwa dunia ini sudah gila. Kata-kata terakhir tersebut yang sekaligus menutup pementasan cerita Ben Go Tun disambut meriah oleh penonton. Semua penonton dengan berbagai pantaran usia memeriahkan ruangan pementasan dengan tepuk tangannya.

Pesan yang disampaikan dalam pementasan ini cukup ringan ditangkap oleh penonton, termasuk anak-anak muda. Cerita yang ditampilkan pun juga diisi dengan beberapa adegan komedi yang membuat penonton tidak bosan untuk melihatnya. Hal tersebut dirasakan oleh salah satu mahasiswa yang menonton acara tersebut. "Kesannya itu banyak banget yang didapat, ada unsur komedinya aja yang bikin ceritanya nggak jadi ngebosenin," ungkap Ilham. [RHN, ALF, GWR]
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar