Ini Negeriku, Negeri Kamu, Negeri Kita

Sumber foto: http://2.bp.blogspot.com/--nImUitYI5U/UK1yMgbuKZI/AAAAAAAAAUU/gFl2iIk5Ink/s1600/socialjustice.jpg

Keadilan merupakan sebuah kata yang sering terdengar di telinga setiap kalangan. Pertanyaan terkait keadilan tersebut selalu muncul dalam setiap benak masyarakat atau bahkan benak seorang mahasiswa seperti saya. Apakah keadilan hanya milik segelintir orang? Apakah keadilan hanya bisa didapatkan oleh orang yang memiliki uang dan kekusaan?

Seperti yang kita ketahui, banyak kasus tentang keadilan yang hanya didapatkan oleh orang yang memiliki banyak ‘duit’. Pejabat negara yang melakukan kesalahan besar dapat bebas dari hukum dalam hitungan jam. Hanya karena mereka adalah seorang pejabat yang memiliki posisi penting dalam kenegaraan. Tidak hanya itu, tetapi juga hanya karena memiliki uang yang cukup pun mereka dapat bebas dari jeratan hukum. Apakah semudah itu, hukum dapat dipatahkan hanya dengan uang dan kekuasaan?

Pejabat negara yang memilki uang dan kekuasaan bisa saja diadili dan akan mendapatkan hukuman 5 sampai 10 tahun penjara atau bahkan beserta denda yang besarnya milyaran rupiah. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa bisa saja para pejabat tersebut mendapatkan perlakuan yang sangat istimewa ketika berada didalam jeruji besi. Penderitaan yang seharusnya mereka rasakan tidak mereka rasakan. Bahkan rasa bersalah pun tidak terlihat di wajah mereka. Sebenarnya apa yang dilakukan mereka bersama para aparat penegak hukum? Bisa saja saling berdiskusi untuk saling membantu dalam hal negatif hanya dengan ‘iming-iming’ uang dan kekuasaan.

Sementara, seorang nenek yang hanya mencuri roti di supermarket untuk cucunya yang lagi kelaparan misalnya, mendapatkan hukuman yang sebenarnya tidak sesuai dengan apa yang dia lakukan. Seorang nenek yang hanya mencuri roti di supermarket akan mendapatkan perlakuan hukum yang tidak seharusnya. Tidak hanya itu, seseorang yang tidak memiliki uang dan kekuasaan akan menghadapi proses hukum yang panjang. Sementara pejabat negara yang melakukan kesalahan luar biasa hanya mendapatkan perlakuan hukum yang biasa saja. Bahkan proses hukum yang mereka hadapi sangat singkat.

Seseorang yang tidak memiliki uang dan kekuasaan bisa dengan mudahnya dijatuhkan dan dibodohi oleh orang-orang yang tidak memilki rasa kemanusiaan. Bahkan meraka yang tidak memiliki apapun diperlakukan seperti halnya tidak memiliki rasa kesatuan. Bhinneka Tunggal Ika, apakah arti sebuah semboyan yang memiliki makna berbeda-beda tetapi tetap satu. Semboyan yang seharusnya dipegang teguh oelh seluruh masyarakat Indonesia. Namun, apakah semboyan Bhinneka Tunggal Ika telah tercatat didalam otak para pejabat negara dan aparat penegak hukum? Kita memang berbeda dalam hal pangkat dan kekuassan. Namun, kita adalah satu, warga negara Indonesia.

Indonesia adalah negara hukum. Bahkan seluruh lapisan masyarakat Indonesia sudah mengetahui bahwa Indonesia adalah negara hukum. Namun, apakah keadilan dalam sebuah hukum negara sudah dapat dirasakan oleh seluruh masyarakat Indonesia? saya rasa tidak, karena keadilan hukum dalam Negara Republik Indonesia hanya dirasakan oleh kalangan yang memiliki uang dan kekuasaan.

Keadilan dalam sebuah hukum di negeri ini harus segera ditegakkan dan tidak membiarkan keadilan dan hukum itu dijatuhkan hanya dengan uang dan kekuasaan. Mahasiswa dan para pemuda bisa saja melakukan sebuah perubahan. Namun, hal itu seakan percuma jika tidak ada kesadaran dan perubahan dalam diri para majelis hukum negara. Mahasiswa seperti saya hanya bisa berharap para penegak hukum agar cepat tersadar dan mengingat sebuah janji yang pernah diucapkan sebelum mengabdi untuk negeri ini.


Sepertinya tidak semua pejabat melakukan hal seperti itu, namun beberapa diantara pejabat  negara pernah membeli keadilan dengan uang dan kekuasaan yang mereka miliki. (Selma)
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar