Gengsi atau Potensi

Sumber : sunaliagus.blogspot.com
Sekarang ini memilih jurusan kuliah sudah semakin sulit, mengapa? Karena sekarang ini untuk mendapatkan pekerjaan sangat sulit dan seseorang di tuntut harus profesional dalam bidang yang di tekuninya. Belum lagi memilih jurusan dengan tekanan yang berasal dari orang tua, hal tersebut menambah permasalahan yang dihadapi oleh siswa.

Jurusan menjadi problematika yang biasa datang ketika masa transisi antara bangku SMA dan perkuliahan. Siswa dipaksa untuk menentukan arah hidupnya di usia yang bisa di bilang baru matang dan tidak menutup kemungkinan cara berpikir mereka yang masih gaya anak-anak. Belum lagi sifat anak-anak SMA yang labil masih terbawa dan berdampak pada pemilihan jurusan itu sendiri. Ada banyak permasalahan yang dialami siswa ketika memilih dan menentukan jurusan yang akan diambil. Yang pertama, bisa berupa tekanan dari orang tua. Sebagai orang tua tentu menuntun anaknya kepada jalan yang baik merupakan kewajiban, sehingga mereka berpikir bahwa memilih jurusan adalah tanggung jawab dan hak mereka. Namun perlu diingat bahwa setiap anak juga memiliki minat yang ingin di gali lebih dalam lagi, sehingga perlu diskusi antara keduanya agar orang tua tau apa yang anaknya inginkan dan apa yang ingin ditekuninya.

Permasalahnya bukan tentang itu saja, selanjutnya adalah pemilihan jurusan yang tidak sesuai dengan potensi dan bakat anak. Seseorang dilahirkan tentu memiliki potensi dan bakat yang dibawa sejak lahir. Namun tidak menutup kemungkinan bahwa anak itu tidak mengenali potensi dan bakat yang ada pada diriya, sehingga perlu untuk mengenali potensi dan menggali lebih dalam bakat yang anak miliki. ketika sudah terjun ke dunia perkuliahan tidak  akan ada lagi kata-kata salah jurusan. Permasalahan berikutnya adalah jurusan dijadikan ajang gengsi. Hal tersebut sangat berkaitan dengan status dan kelas sosial, orang tua maupun anak itu sendiri berpikir bahwa jurusan adalah ajang untuk show off  kepada orang disekitar mereka. Jika gengsi yang menjadi indikator tentu akan berdampak pada anak, Memang orang-orang akan segan namun apakah anak tersebut bisa menjalaninya dengan baik karena jika dilihat dari kemampuannya sebenarnya nihil.

Dalam hal ini peran orang tua dalam mendidik anak harus diperhatikan karena seorang anak tentu tidak akan mengutamakan gengsi jika sejak kecil tidak diajarkan untuk memandang sesuatu dari gengsi belaka. Sebaliknya, masih banyak orang tua yang menekan anaknya untuk memilih jurusan yang orang tua inginkan karena dianggap bergengsi. Gengsi boleh-boleh saja namun kembali harus diingat bahwa potensi dan kemampuan siswa itu yang nomor satu sehingga siswa akan nyaman dalam menjalani perkuliahan. Berbicara gengsi dalam memilih jurusan tentu kurang pas, gengsi dapat membunuh potensi dalam diri anak karena tidak tersalurkan semestinya. Guna mengembangkan dan mengasah potensi, minat dan bakat tentu dapat dilakukan dengan berbagai cara misalnya dengan Mengenali lebih dalam mengenai diri sendiri, berkomitmen, dan memperhatikan apakah bakat dan minat kita sesuai dengan profesi yang diinginkan.

Tidak sedikit anak yang tidak mengenali dirinya sendiri, bukan mengenal nama melainkan mengenali potensi, bakat serta minat dari anak itu sendiri. Untuk dapat mengenali diri memang butuh waktu, namun bukan berarti tidak bisa. Anak dapat menggunakan daftar kegiatan maupun aktivitas yang dilakukan sehari-hari, dari situ akan diketahui mana aktivitas dan kegiatan yang disukai maupun tidak sehingga akan memberikan gambaran baaimana kita harus melangkah kedepan.

Kembali melihat hubungan antara jurusan dan pekerjaan, memilih jurusan yang sesuai dengan diri adalah langkah yang tepat. Selain itu, harus diimbangi dengan pengetahuan apakah pekerjaan yang kita inginkan sesuai dengan minat dan bakat anak itu sendiri atau tidak. Sehingga anak akan mempunyai gambaran ke depan bagaimana pekerjaan yang akan dilakukannya pada masa yang akan datang. Selain itu, Berkomitmen juga menjadi penting untuk terus mengembangkan potensi dalam diri anak. Jika telah memilih jurusan yang sesuai, lantas yang harus dilakukan adalah menekuni. Dari situ komitmen harus dibangun di awal sehingga terjadi ikatan antara anak dan apa yang telah dipilih. Komitmen dapat membuat potensi semakin terasah dan sebaliknya tanpa komitmen apa yang menjadi bakat, minat akan luntur seiring berjalnnya waktu. (Hazlia)
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar