Dilema Pendidikan Indonesia : Ilmunya atau Ijazahnya?

Sumbergambar:
 http://4.bp.blogspot.com/-2S4HugBt6Cw/Uh7hrhng7kI/AAAAAAAAASk/ig_vEDe20nY/s1600/pendidikan.jpg

Pendidikan merupakan hal penting yang harus dimiliki oleh setiap manusia. Ada berbagai macam jenis dari pendidikan tersebut, contohnya seperti pendidikan terkait agama, ataupun pendidkan yang masih bersifat umum. Setiap negara pasti memiliki sistem pendidikan yang berbeda. Seperti halnya di Indonesia, sistem pendidikan di Indonesia bisa dikatakan baik ataupun buruk tergantung dari sudut pandang setiap orang, khususnya pandangan orang tua maupun pandangan siswa-siswi itu sendiri.

Pendidikan di Indonesia, diwajibkan untuk anak bersekolah maksimal 12 tahun. Artinya, seorang anak harus bersekolah maksimal sampai jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA). Namun, tidak jarang masih banyak anak-anak yang hanya bersekolah sampai jenjang Sekolah Dasar (SD) karena tidak adanya biaya untuk melanjutkan ke jenjang selanjutnya.

Permasalahan pendidikan di Indonesia bukan hanya karena banyaknya para generasi muda yang tidak melanjutkan pendidikannya dikarenakan biaya. Tetapi juga, pendidikan di Indonesia saat ini, seolah-olah hanya fokus mengejar selembar ijazah. Para pelajar SD hingga SMA rela untuk melakukan berbagai cara untuk dapat lulus dengan nilai yang memuaskan dan mendapatkan selembar ijazah. Walaupun itu dengan cara tidak jujur sekalipun. Jika cara tidak jujur dilakukan oleh para siswa-siswi, itu berarti apa yang telah dipelajari seakan percuma karena tidak adanya ouput yang didapatkan dengan cara yang jujur.

Peran orang tua dalam mengawasi anak harus ditingkatkan lagi ketika ujian nasional akan tiba. Orang tua harus selalu mendampingi anak-anak ketika belajar ataupun mengerjakan tugas. Orang tua, khususnya ibu merupakan madrasah pertama bagi seluruh anak. Namun, saat ini banyak para orang tua yang hanya terfokus pada pekerjaannya saja dan meninggalkan tugas mereka sebagai orang tua yang harus selalu mengawasi gerak-gerik sang anak ketika tumbuh dewasa.

Bimbingan dari orang tua dapat membantu sang anak untuk tetap fokus ketika mendapat tugas dari sekolah. Hal ini dikarenakan sang anak telah dirangkul oleh orang tuanya untuk tetap semangat dalam menghadapi apapun yang terjadi. Semangat dan rangkulan dari orang tua juga dapat sedikit demi sedikit mengurangi niat curang anak-anak ketika ujian nasional akan tiba. Khususnya untuk anak-anak jenjang SD yang masih butuh bimbingan untuk selalu mengerjakan sesuatu hal dengan cara yang jujur.

Untuk selanjutnya yaitu peran guru juga diharapkan dapat memberikan pengertian lebih kepada siswa-siswi terkait ujian nasional yang dilaksanakan sebagai penentu kelulusan siswa-siswi. Seorang guru harus selalu memberikan bekal kepada siswa-sisiwi untuk menghadapi ujian nasional. Pemantauan guru harus lebih tajam terhadap siswa-siswi daripada pemantauan orang tua terhadap siswa-siswi saat berada dirumah. Hal ini dikarenakan banyaknya siswa-siswi yang harus dipantau oleh guru disekolah.

Bimbingan seorang guru memang tidak selamanya dapat dipahami dan didengarkan oleh siswa-siswi baik SD hingga SMA. Namun, sekolah merupakan wadah seorang anak untuk mendapatkan pendidikan yang sebenanrnya. Sekolah merupakan wadah seorang anak untuk bertemu dengan teman sebayanya dan belajar bersama dengan teman sebayanya. Bersama teman sebayanya inilah, seorang anak bisa meniru ataupun tidak perilaku dan sikap teman sebayanya. Untuk itu, pendidikan tentang sikap dan tingkah laku, pendidikan terkait agama, ataupun pendidikan umum harus diajarkan oleh guru untuk melanjutkan bimbingan orang tua dirumah.

Ketika peran orang tua dan peran guru untuk merangkul siswa-siswi sudah dilaksanakan, hal ini juga tidak terlepas dari peran pemerintah yang harus bersikap konsisten terhadap konsep seperti apa yang akan digunakan sebagai penentu kelulusan siswa-siswi SD hingga SMA. pemerintah harus mengkonsepkan penentu kelulusan siswa-siswi tidak terfokus hanya untuk mengejar selembar ijazah. Namun, bagaimana caranya siswa-siswi dapat mengaplikasikan ilmu-ilmu yang telah didapatkan dibangku sekolah.


Pemerintah harus fokus terhadap dua hal yaitu pendidikan bagi generasi muda yang tidak mampu dan meningkatkan kualitas sistem pendidikan agar siswa-siswi dapat merasakan kenyamanan dengan sistem pendidikan Indonesia. pemerintah harus mulai merencanakan sistem pendidikan apa yang diinginkan tanpa melakukan perubahan berkali-kali dan tanpa menjadikan siswa-siswi sebagai kelinci percobaan. Persaingan globalisasi yang semakin berkembang harus dapat dijadikan acuan untuk meningkatkan kualitas sistem pendidikan yang lebih baik bagi generasi muda Indonesia. (Selma)
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar