Yogyakarta Youth Environment Camp : Hari Pertama Seminar Environment

Suasana seminar YYEC.

Yogyakarta Youth Environtment Camp memasuki hari pertama pada Sabtu 25 Februari 2016. Seminar Environment yang diselenggarakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik ( BEM Fisipol) tesebut diselenggarakan di Gedung  Ar.Fachruddin Lantai 5 Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) dibuka oleh Dekan Fisipol, Ali Muhammad. Seminar yang mengangkat tema “Preserving Environmrnt For Sustainble Civilization” ini menghadirkan  4 pembicara, yaitu Ratri Kusumohartono dari Forest Campaigner Green Pasca Indonesia, Susamto Sonowiyarjo yang merupakan Anggota Majelis Lingkungan Hidup Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Jazaul Ikhsan yang merupakan dosen dan dekan Fakultas Teknik UMY, kemudian terakhir adalah Endro Waluyo yang merupakan wakil dari Badan Lingkungan Hidup Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Menurut Zaki, selaku Wakil Gubernur BEM Fisipol, memaparkan bahwa yang menjadi latar belakang acara YYEC ini merupakan implementasi dari salah satu visi misi Gubernur dan wakil Gubernur BEM Fisipol bahwa pada salah satu visi misi meraka berkaitan dengan isu-isu lingkungan. “Bahwa isu lingkungan ini merupakan isu yang menarik, isu central, tetapi masyarakat tidak mempedulikannya padahal hal tersebut sangat berpengaruh dalam kehidupan manusia, maka dari itu YYEC ini merupakan salah satu bentuk kontribusi kami terhadap penyelamatan lingkungan,” ungkapnya yang ditemui oleh wartawan Nuansa sesuai acara. Acara yang dibuka untuk umum ini akan diadakan sebanyak 3 tahap. Tahap pertama adalah seminar Environment yang jatuh pada hari Sabtu, kemudian hari kedua akan temu ramah dan bakti sosial pada hari Minggu bertempat di Padukuhan Kadisoro, Desa Gilangharjo, Kecamatan Pandak, Kabupaten Bantul, Kemudian penutupan akan dilakukan di dasa yang sama yang jatuh pada hari Senin. Menurut Zaki, acara ini masih menemui beberapa kendala, salah satunya adalah para mahasiswa yang seharusnya menjadi agen perubahan pada lingkungan yang ternyata masih apatis terhadap isu lingkungan. Hal tersebut dibuktikan dengan masih sedikitnya antusiasme para mahasiswa terhadap acara ini. Namun Zaki berharap agar kegiatan seperti ini dapat ditingkatkan lagi dan para mahasiswa dapat berperan banyak terhadap pelestarian lingkungan ini.

Acara yang dimoderatori oleh Anwar Cholid ini, dimulai dengn beberapa pemaparan dari Ratri, sebagai pembicara dari Forest Campaigner Greenpeace Indonesia, beliau memaparkan bahwa keadaan lingkungan di Indonesia ini sudah cukup parah,maka dari itu Greenpeace selaku penggiat yang aktif dalam bidang lingkungan berusaha meningkatkan kepedulian kepada masyarakat terhadap lingkungan dan dapat memberi pengaruh kepada beberapa kebijakan pemerintah, agar kepada kebikjakan yang dirancang oleh pemerintah tetap menjaga keseimbangan lingkungan, tak hanya itu Ratri juga memaparkan beberapa kegatan Greenpeace seperti kampanye ‘Kepo’, kegiatan tersebut diinisiasi agar kegiatan pelestarian lingkungan ini dapat diikuti oleh seluru elemen masyarakat khususnya anak muda.

Susamto Sonowiyarjo selaku pembicara kedua memaparkan pentingnya memperhatikan kuantitas dalam penggunaan bahan kimia, khususnya penggunaan pestisida dalam tanaman. “Pestisida itu racun, yang hanya akan mengancam kesehatan para generasi muda kita,” ungkapnya. Menurut beliau, selama ini hanya petani saja yang dididik untuk tidak menggunakan pestisida yang berlebihan, namun para konsumen tidak, hal tersebut mengakibatkan permintaan pasar yang masih tinggi terhadap produk tani berpestisida daripada yang tidak, maka dari itu pendidikan untuk konsumen merupan hal yang penting. “Saya bukan anti pestisida lo, pestisida tetap boleh digunakan, namun harus tetap memperhatikan waktu serta dosisnya”.

Hal senada juga dipaparkan oleh Dekan Fakultas Teknik UMY Jazaul Ikhsan, beliau melihat keadaan lingkungan negara ini dengan prespektif kedaan sungai. Menurut beliau untuk menyelematkan beberapa sungai kritis di Indonesia perlu adanya konservasi sumber daya air, pendayagunaan sumber daya air, dan pengendalian. “Untuk menilai suatu negara itu mudah, dilihat saja dari sungainya, kalau sungainya bersih ya berarti itu negara maju, tapi kalau sungainya kotor, ya itu berarti negaranya belum maju,” tutupnya.

Seminar tersebut juga menghadirkan pembicara yang memaparkan dari sudut pandang lain. Yaitu dari sisi pemerintah selaku pembuat kebijakan. Bagi Endro Waluyo ketidak teraturan kebijakan dewasa ini diakibatkan dari beberapa perubahan, seperti perubahan kepempinan yang kemudian akan menimbulkan perubahan kebijakan, hal tersebut akan memepengaruhi perubahan lingkungan. Namun, beliau berharap bahwa 30% kawasan hijau di DIY ini bisa terwujud.

Setelah keempat pembicara memaparkan penjelasannya, acara selanjutnya dibuka dengan sesi tanya jawab, yang kemudian selesai pada sekitar pukul 12.00 WIB dan ditutup dengan sesi foto bersama. (GYS)
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar