Tamat tapi Berlanjut

Sumber gambar : http://riaumandiri.co

Televisi merupakan salah satu media yang paling banyak di konsumsi oleh masyarakat, dari kalangan bawah hingga kalangan atas, sebagai sumber informasi maupun sebagai sarana hiburan. Beragam program siaran muncul di televisi, seperti reality show,sinetron, adu pencaraian bakat dan lain sebagainya.  Namun, sayangnya stasiun televisi saat ini lebih memprioritaskan rating untuk mendapatkan keuntungan, meskipun terkadang rating yang didapat tidak sesuai dengan kualitas dalam program televisi tersebut. 

Salah satu tayangan yang mendapatkan rating tinggi yaitu tayangan sinetron “Anak Jalanan”. Sinetron ini telah memenangkan beberapa penghargaan, salah satunya penghargaan di ajang Panasonic Global Awards  2016 pada 11 Oktober 2016 lalu.  Sinetron “Anak Jalanan” menceritakan tentang perselisihan  geng montor  Warrior yang dipimpin oleh Boy ( Stefan William) dengan geng montor Serigala yang dipimpin oleh (Immanuel Caesar Hito) akibat kesalahpahaman mengenai Reva (Natasha Willona).  Dalam tayangan tersebut juga menampilkan romansa percintaan anatara  Boy dan Reva  karena memiliki  masalah keluarga dan melampiaskan rasa frustasinya di jalanan.
Sinetron in lebih digemari oleh para remaja, padahal ada beberapa adegan dalam sinetron tersebut tidak layak untuk dipertontonkan. Dikutip dalam kpi.go.id, program sinaran “Anak Jalanan” mendapat teguran dari KPI sebanyak dua kali. Teguran pertama pada tanggal 11 Jnuari 2016, KPI telah menemukan pelanggaran Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3 dan SPS) KPI tahun 2012 pada Program Siaran “Anak Jalanan” yang ditayangkan oleh stasiun RCTI pada tanggal 31 Desember 2015 pukul 20.09 WIB .Program tersebut menayangkan adegan seorang laki-laki berkelahi melawan sekelompok geng motor, pengeroyokan sampai pingsan. Selain itu, pada tanggal yang sama terdapat adegan seorang pria mengucapkan kata “tolol” dan “bego”. Tidak hanya itu saja, pada tanggal 27, 28 dan 29 Desember 2015 serta 3 Januari 2016,  KPI juga masih menemukan banyak adegan perkelahian antar geng motor.
Teguran kedua pada tanggal 12 Februari 2016, dimana  pada tanggal 27 Januari 2016 pukul 19.13 WIB masih menemukan adegan perkelahian secara eksplisit yang dilakukan oleh sekelompok pria. KPI Pusat memutuskan bahwa program tersebut telah melanggar Pedoman Perilaku Penyiaran Komisi Penyiaran Indonesia Tahun 2012 Pasal 14 dan Pasal 21 Ayat (1) serta Standar Program Siaran Komisi Penyiaran Indonesia Tahun 2012 Pasal 15 Ayat (1) dan Pasal 37 Ayat (4) huruf a. KPI juga menyampaikan bahwa KPI menerima banyak keluhan masyarakat baik dari organisasi, instansi, dan orangtua yang mengkhawatirkan dampak tayangan tersebut terhadap perilaku anak-anak dan remaja yakni: konflik dan perkelahian, perilaku negatif mengebut di jalan raya, serta freestyle.
Atas dasar rasa kekhawatiran dampak dari sinetron ini, Gerakan Peduli Generasi Muda Indonesia juga membuat petisi online melalui website change.org meminta kepada KPI untuk memberhentikan sinetron “Anak Jalanan” karena dianggap memberi dampak dan menjadi contoh yang tidak baik bagi generasi muda, mulai dari hal kekerasan hingga cerita yang menampilkan generasi muda menjalin hubungan diluar batas kenormalan dalam adat dan budaya timur sehingga menjadi contoh dan menimbulkan efek bagi generasi muda yang menontonnya. Hingga saat ini, sudah ada 26.672 orang yang mendukung petisi ini.(https://www.change.org/p/kpi-pusat-officialrcti-hentikan-tayangan-anak-jalanan diakses 12 November 2016)
Saat ini sinetron “Anak Jalanan” memang sudah tamat, namun tayangan pengulanganya mulai ditampilkan sejak 31 Januari 2017 lalu  setiap Senin hingga Jumat pukul 12.00 WIB. Dalam undang-undang UU No.32 tentang Penyiaran pasal 4 ayat 1 menjelaskan penyiaran sebagai komunikasi massa mempunyai fungsi sebagai media informasi, pendidikan, hiburan yang sehat, control, dan perekat sosial.

 Lantas, apakah tayangan sinetron “Anak Jalanan”  termasuk dalam lima fungsi penyiaran    yang  tersebut? (TYS)

Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar