Perihal yang Tidak Kamu Ketahui

Sumber gambar : https://hakimrodamas.wordpress.com
Oleh : Justika Imaniar
Hari ini aku kembali terguyur hujan. Ah bodoh sekali, padahal aku sendiri sudah mengetahui bahwa Kota Yogyakarta sedang labil-labilnya menurunkan rintik-rintik air dari langitnya. Dan dengan sifat keras kepalaku, aku tak pernah mau menyiapkan mantel hujan di dalam jok motorku. Namun, ya sudahlah bukankah hal itu sudah terjadi?

Mataku menatap sekeliling, berharap aku dapat menemukan tempat yang nyaman untuk untuk berteduh sambil menunggu hujan ini berhenti. Dengan penglihatan dari mataku yang memiliki ukuran tak seberapa dan derasnya hujan, hal itu sungguh tidak mudah. Namun setelah berkendara selama 15 menit, akhirnya aku menemukan sebauh kedai kopi yang terlihat sepi. Kuputuskan untuk menghabiskan waktuku disana.
            Kedai Kopi, 21:22.
            “Selamat malam mas, ada yang bisa saya bantu?”
            Aku menatap waitress yang berada dihadapanku sekilas, “Black Coffe satu. Dan oh iya, tanpa gula mbak”.
            “Hanya itu? Tidak ada tambahan lainnya?”
            Aku menggeleng pelan.

Waitress itu mengangguk dan mengambil menu yang sedaritadi tak kusentuh.

Aku menyukai setiap sudut kedai kopi ini. Hampir semuanya furniturenya menggunakan kayu dan dibeberapa dindingnya ada beberapa poster yang menggambarkan filosofi dari setiap jenis kopi. Sepertinya pemilik kedai ini sangat ahli dengan kopi atau entahlah bisa saja dia hanya meniru informasi yang ada di internet.  

Tak lama kemudian waitress itu membawa pesananku. Aku melirik kopi yang saat ini ada di hadapanku. Melihat kopi yang tergeletak di hadapanku, aku mengingat seseorang mengajarkanku tentang ritual sebelum menikmati kopi.

            5 tahun yang lalu

            “Kalau kamu minum kopi, hal pertama yang harus kamu lakukan adalah menghirup aromanya. Setelah itu baru kamu bisa merasakannya dengan lidahmu,” ucapnya kala itu.
            “Kalau aku menikmati kopi hitam tanpa gula, apa ritualnya akan sama?”

            Aku ingat saat itu, matamu melotot saat mendengar pertanyaanku, “Kamu itu punya asam lambung, gak boleh minum kopi tanpa gula!”

            Dan saat itu aku hanya menunduk sambil tertawa, aku suka ekspresimu saat itu.

            Kedai Kopi, 21:50
Aku meletakkan kembali secangkir kopi yang tadi tengah kunikmati. Dan mengambil rokok yang ada di sakuku. Dan ternyata seluruh batang rokokku hancur semua karena terkena guyuran hujan tadi. Aku melemparkan bungkus rokokku ke bak sampah yang kebetulan tak jauh dari posisiku.

Ahh kopi dan rokok, dua hal yang membuatku harus mengingatmu kembali.

            4 tahun lalu

            “Kamu nanti jangan pernah coba sentuh yang namanya rokok,”

            Aku menatapnya heran,”Gak boleh nyentuh, berarti boleh konsumsi dong. Kan nyentuhnya pake mulut,”

            Kamu kembali mendelik, “Kamu kok susah dikasih tau ya? Kamu mau jadi priaku yang baik kan? Ya setidaknya dituruti,”
            Aku tertawa kecil.

            Kedai Kopi, 22:30
            “Mas, ini kedainya sudah mau tutup,”
Aku melirik sumber suara yang mengacaukan lamunanku. Oh ternyata waitress yang tadi. Aku mengangguk kecil dan memberinya uang yang lebih banyak dari harga kopi yang kupesan, “Kembaliannya buat mbak aja. Terima kasih,”

Aku meninggalkan kedai kopi tanpa banyak bicara, karena yah jika aku masih disana, aku yakin ada adegan saling menolak antara aku dan waitress yang tadi. Dan aku tidak mau hal itu terjadi.

Hujan diluar sudah tidak seganas tadi, hanya rintik-rintik kecil yang jika aku lalui masih dalam kadar aman. Aku mengedarkan pandanganku ke langit.

            Hai, Bu

Maaf jika aku menyampaikan perihal yang aku tahu, kamu akan membencinya jika aku mengatakannya.

            Hanya saja, hari ini aku rindu.
            Rindu sekali.
            Hari ini banyak yang merayakan hari kasih sayang, Bu. Boleh aku meminta ibu yang menjadi partnerku hari ini? Bukankah ibu adalah wanitaku? Meskipun aku tahu itu tidak diijinkan di agama kita.

            Dan maafkan, aku masih belum bisa jadi priamu yang baik,

            Dari priamu yang tampan.
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar