Penikmat Hujan

Sumber foto: diviecea.wordpress.com

Oleh : Aditya Purnama Aji

Hentikan!
Aku, merunduk ketika mata terbelalak
Terlihap gelap, hanya awan hitam membentang di ufuk mata
Ah biarkan saja, hujan itu tak lagi sama

Aku,  ada bukan untuk siapa-siapa!
Aku,  diam bukan berarti tidak tahu apa-apa!
Bukankah, hujan itu selaras dengan air mata?
Oh, ataukah  itu hanya phatic semata?

Hujan!
Ibarat kata yang menemukan bahasanya,
Ibarat bahasa yang menemukan maknanya,
Ibarat makna yang menemukan pemiliknya,
Berirama, tetapi tidak bernada!
Bening, tetapi dapat dirasakan aromannya!

Apakah, setiap hujan menampakan lukanya?
Apakah, setiap hujan menentukan siapa penikmatnya?
Beribu kali aku memikirkan
Hanya bias yang kudapatkan

Jauh memang, saat raga enggan bersua
Lantaran hati, terperangkap dusta
Dilema, terasah dalam retorika
Ah, terlalu berat ku memikirnya

Gemercik hebat itu,
Menenangkan  jiwa,
Menghancurkan ribuan problematika!
Dapatkah, aku berkata-kata?

Siapa sebenarnya  dia?
Perangkai kata, penyuka sajak, ataukah pemburu senja?
Bukan!

Dia  adalah  aku, penikmat hujan pelipur lara.
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar