Kebangsaan dalam Perspektif Alquran (Islam dan Kebangsaan)

sumber : www.sumbbu.com



 Oleh : Wibi Aulianto


Keberagaman budaya, etnis, agama, dan ras membuat Indonesia menjadi negara yang penuh akan sejarah. Perbedaan yang ada bukanlah menjadi sebuah masalah akan tetapi bisa menjadi anugerah Tuhan yang patut disyukuri. Indonesia memang terlahir dari  berbagai perbedaan, namun melalui perbedaan itu semua Indonesia dapat bersatu dari Sabang sampai Merauke dengan menyampingkan perbedaan dan mengedepankan persamaan.


Dewasa ini Indonesia sedang dihadapkan dengan berbagai macam isu yang ingin memecah belah NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) tercinta ini. Membentrokkan budaya, etnis, ras, bahkan agama, hal ini menjadi sebuah peringatan bagi rakyat untuk tetap bersatu dan jangan sampai mengulangi sejarah kelam Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit yang terpecah belah dan terhempas menuju kehancuran. Sudah sepatutnya kita rakyat Indonesia khusunya kaum mayoritas menaungi kaum minoritas dan sebaliknya kaum minoritas menghormati kaum mayoritas sehingga tercipta rasa aman dan damai dalam hidup bernegara dan berbangsa.


Dalam Alquran berbangsa diidentikkan dengan kata “syu’ban yang berarti “bangsa” menurut terjemahan yang disusun oleh Departemen Agama. Kemudian dalam tafsir Ibnu katsir dikatakan bahwasannya arti dari “syu’ban dinisbatkan kepada kabilah (suku atau bangsanya) agar saling mengenal antara sesama.
 

Alquran surah Al-Hujarat (49):13 : Wahai seluruh manusia, sesungguhnya kami telah menciptakan kamu dari seorang lelaki dan perempuan, dan kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang bertakwa. Sesungguhnya Allah maha mengetahui lagi maha mengenal. Dari ayat tersebut tertera jelas bahwa Islam sangat mendukung paham kebangsaan karena Allah telah menciptakan manusia bersuku-suku dan bebangsa-bangsa agar saling mengenal. Sebelum hadirnya hak asasi manusia, Alquran sudah lebih dulu membicarakan tentang itu. Hal tersebut dikarenakan Islam tidak pernah mengajarkan adanya sekat antara ras, budaya, etnis bahkan agamanya, namun yang membedakannya hanyalah ketaqwaan di hadapan Allah SWT.



Sedangkan kata “kauman setidaknya disebutkan sebanyak 322 kali dalam Alquran. Banyaknya pengulangan tersebut membuktikan bahwa Alquran mendukung paham kebangsaan. Alquran pula menyerukan agar menghindari perilaku menghina di antara kaum satu dengan yang lainnya, sebagai manifestasi jiwa kebangsaan dalam menjaga keutuhan umat. Termaktub pula dalam surah Al-Hujarat (49); 11. “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah satu kaum kelompok lelaki menghina kepada kelompok lelaki yang lain dan jangan pula satu kelompok perempuan menghina kelompok perempuan yang lain, karena boleh jadi mereka yang dihina lebih baik dari mereka yang menghina.


Sudah tidak bisa dipungkiri lagi Islam selalu menjungjung tinggi sifat kebangsaan dan tidak pernah anti kepada paham kebangsaan. Bahkan Indonesia merdeka pun tak lepas dari tangan para ulama yang jiwa kebangsaannya sangatlah tinggi untuk memerdekakan Indonesia. Hidup berdampingan dengan perbedaan ideologi, ras, budaya, etnis, dan agama tidaklah gampang namun dengan sikap tenggang rasa dan saling mengormati, dapat menjadikan negara ini terjaga keutuhanya sebagai negara NKRI. Mari bersama menjaga negara kita agar selalu damai, tentram, dan sejahtera. Khususnya untuk umat Islam sebagai kaum mayoritas yang menjadi garda terdepan untuk menjaga keutuhan NKRI, bersama-sama kita pahami makna kebangsaan dan kecintaan terhadap NKRI. Jangan sampai terbawa dengan isu-isu untuk memecah persatuan Indonesia tercinta ini.




Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar