Dimana Keadilan?

Sumber gambar : http://corongonline.blogspot.co.id

Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa perkembangan teknologi informasi dan komunikasi di era globalisasi ini sangatlah pesat. Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang berjalan sangat cepat ini memaksa setiap orang untuk dapat menerima segala informasi dengan cepat dan instan. Dengan segala kecanggihan teknologi sekarang ini, seluruh orang di dunia ini dapat saling bertukar informasi dengan mudah. Segala informasi dapat menyebar dengan cepat ke seluruh penjuru dunia hanya dengan cara yang sangat sederhana. Seperti itu lah gerak dari perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang sangat dinamis.

Dinamisme perkembangan teknologi informasi dan komunikasi  ini memang membawa pengaruh dan dampak besar bagi seluruh orang di penjuru dunia. Sebagaimana pengaruh dan dampak yang ditimbulkan dari setiap fenomena yang ada pastilah terbagi menjadi dua, positif dan negatif. Begitu juga dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang sangat pesat ini pastinya membawa kedua pengaruh dan dampak tersebut. Dengan majunya teknologi informasi dan komunikasi membuat semua orang mudah untuk berinteraksi dan segala informasi juga dapat tersebar dengan mudah karenanya. Namun dengan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi tidak pula membuat oknum-oknum berhenti memanfaatkan kondisi ini untuk hal-hal yang negatif. Sebagai contoh pemanfaatan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi yang disalahgunakan adalah penyebaran berita-berita berisi kebohongan. Fenomena penyebaran berita berisi kebohongan di media-media belakangan ini menjadi semakin merajalela bahkan sampai meresahkan masyarakat.

Maraknya berita berisi kebohongan atau yang lebih akrab disebut berita hoax yang beredar di media-media mulai dari media cetak sampai media online membuat Dewan Pers mengambil kebijakan dengan melakukan program verifikasi terhadap perusahan pers. Verifikasi terhadap perusahaan pers ini dilakukan supaya perusahaan pers profesional menegakkan kode etik jurnalistik, kaidah jurnalistik serta keprofesionalan mereka dalam membuat karya jurnalistik. Selain itu verifikasi ini juga dimaksudkan untuk mendorong perusahaan pers bertahan di tengah kuatnya arus perkembangan teknologi informasi yang sangat pesat ini. Perusahaan pers didorong untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap kredibilitas mereka sebagai media pers profesional yang berpegang teguh pada Kode Etik Jurnalistik yang saat ini sudah mulai terserang serbuan hoax. Dengan adanya verifikasi tersebut akan terlihat mana media yang sudah memenuhi standar profesional, mana yang masih berproses memenuhi standar profesional, dan mana yang belum memenuhi standar profesional.

Pada Peringatan Hari Pers Nasional 9 Februari  2017 lalu Dewan Pers memantapkan pelaksanaan program verifikasi terhadap perusahaan pers sebagai tonggak awal pemberantasan berita hoax yang semakin hari semakin meresahkan masyarakat. Dewan Pers percaya bahwa program yang telah mereka rencanakan sejak tahun 2010 ini akan dapat membuat masyarakat sedikit tenang dari ancaman berita hoax. Kebijakan dari Dewan Pers tersebut tidak lepas dari pro dan kontra. Tentu saja kebijakan yang dilakukan oleh Dewan Pers tersebut  adalah sebagai upaya baik dalam memberantas hoax, namun banyak pula yang pihak yang merasa mendapat imbas dari kebijakan tersebut. Tidak terkecuali dari kalangan pegiat Pers Mahasiswa.

Sebagai pegiat pers walau hanya dalam skala kecil dan belum profesional, pers mahasiswa berusaha melakukan segala kegiatan kejurnalistikan berdasarkan kode etik dan kaidah jurnalistik. Walaupun bukan seperti wartawan maupun jurnalis profesional seperti pada perusahan pers atau media mainstream, pers mahasiswa memperkenalkan diri mereka sebagai bagian dari insan pers yang berpegang teguh pada kode etik jurnalistik. Sebagi bagian dari insan pers, pers mahasiswa tentunya juga memproduksi karya-karya jurnalistik. Walaupun masih dalam skala kecil, pers mahasiswa tetap berusaha mengahdrikan karya-karya jurnalistik yang sesuai dengan kode etik dan kaidah jurnalistik sehingga layak untuk dinikmati tidak hanya oleh kalangan mahasiswa dan civitas akademik kampusnya, tetapi juga oleh masyarakat pada umumnya. Oleh karena itu, dengan adanya kebijakan Dewan Pers terkait program verifikasi tersebut sedikit banyak berdampak bagi kelangsungan kegiatan pers mahasiswa dalam menghasilkan karya jurnalistik. Program verifikasi yang dibuat oleh Dewan Pers secara tidak langsung akan menimbulkan stigma dalam masyarakat bahwa hanya media-media yang sudah diverifikasi oleh Dewan Pers saja yang memiliki kredibilitas. Sementara media-media yang tidak mendapat verifikasi dari Dewan Pers adalah media yang tidak berkredibilitas atau yang lebih akrab disebut media abal-abal.

Stigma seperti ini lah yang kemudian berdampak bagi pers mahasiswa dalam menghasilkan karya-karya jurnalistiknya. Pers mahasiswa yang oleh Dewan Pers dianggap bukan bagian dari pers profesional seperti yang diatur dalam Undang-undang No. 40 tahun 1999 tentang Kebebasan Pers tentunya bukan termasuk kedalam media yang mendapat verifikasi dari Dewan Pers. Kondisi seperti ini yang kemudian dirasa oleh pers mahasiswa bahwa kebijakan tersebut sangat berimbas bagi mereka. Proses labeling oleh masyarakat akan tercipta. Karya-karya jurnalistik pers mahasiswa yang mereka hasilkan dengan segenap upaya tetap berpegang teguh pada kode etik jurnalistik tidak akan mendapat kepercayaan dari masyarakat dan hanya akan dicap sebagai karya jurnalistik abal-abal.


Penulis percaya bahwa dibalik kebijakan ini dewan pers tentunya mempunyai tujuan baik untuk memberantas serbuan berita hoax yang semakin merajalela, namun sebelum membuat kebijakan tentunya perlu dipikirkan terlebih dulu dampak apa yang akan ditimbulkan. Haruskah kami yang hanya berusaha untuk menghadirkan karya jurnalistik sesuai dengan kode etik dan kaidah jurnalistik agar layak dinikmati oleh masyarakat luas malah mendapat ketidakpercayaan dari masyarakat sebagaimana imbas dari kebijakan ini? Di mana keadilan? Mungkinkah keadilan juga bagian dari hoax? (KAF)
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar