Derita Paksa Wanita

sumber : http://pontianak.tribunnews.com

Oleh: Gilang Sigit Trinanda

Telah menjadi tetap dan selamanya akan begitu “bahwa sang empunya hidup” membedakan kita menjadi dua jenis, ada kau yang bernama pria dan kau pula yang bernama si wanita. Jika pun ada yang menjadi moderat diantaranya bukanlah kapasitas diri ini untuk menghakimi itu. Bumi ini menjadi kelihatan begitu menggelitik sekaligus suram ketika adanya ketimpangan antara kedua jenis manusia, sedikit beruntung kalian yang masuk dalam kategori pria, bukannya sejak dulu kau ada satu tingkat dari wanita? Dan menjadi benang kusut dalam tempurung kepala kapankah fenomena itu dimulai? Siapa yang bertanggung jawab dari padanya?

Dan kau wanita, makhluk apa sebenarnya kau ini? Kau yang kelihatannya lemah bisa pula kau hadirkan peradaban yang sebegini luas. Kau relakan tersobek bagian badanmu hanya untuk menghadirkan manusia di bumi ini, ah sungguh mulailah engkau. Biarkan semesta yang membalas itu, malangnya nasibmu tidak seberuntung pria, dari dulu kau sudah menjadi muara penindasan.. Penindasan oleh mereka yang haus akan manfaat dari mu..kau di kungkung, kau di madu, dan masih tak habis pikir olehku telah sanggup lah engkau mengabdi pada seorang suami yang tak pernah kau cintai..rela kau menyiapkan sarapan untuknya, mengurus segala keperluannya dan malamnya kau layani ia pada urusan ranjang. Bahkan sejarah bercerita jadilah kau budak sex seperti yang dialami oleh wanita-wanita muda pribumi saat pendudukan jepang 1942-1945 dan biasa disebut Jugun Ianfu.

Rasanya perlu aku ceritai kau mengenai Jugun Ianfu, istilah itu di peruntukkan bagi korban perbudakan sex yang dilakukan oleh serdadu jepang kala itu. Dan asal kau tau tindakan yang jauh dari kata moralitas ini bukan dilakukan oleh perorangan melainkan negara. Artinya ada organisasi yang jelas dalam menjalankan kebusukan ini, fiuh pikirku. Untuk hal biadab seperti ini pun masih perlu yang namanya Organisasi..Dampaknya jelas bukan hanya kerusakan fisik bagi tubuh mereka (alat reproduksi) melainkan juga kerusakan mental yang harus pula ditanggungnya selama jiwa masih dalam raga.

Begitu banyaknya derita lain yang kau alami, wanitaku, rembulanku. Pemerkosaan, kematian saat melahirkan, aborsi paksa, bahkan telah dijadikannya kalian tulang punggung dan dengan segala apapun yang ada pada pria pinta maafku untuk kalian kaum kartini.

Karena suatu lain hal harus lah pula kau mengenali si nyai Ontosoroh, ya hanya seorang nyai. Jika belum tau kau mengenai apa itu nyai akan coba ku jelaskan walau barang sepatah kata, nyai adalah sebutan bagi wanita pribumi yang  menjadi gundik atau istri tidak sah bagi tuan-tuan eropa dan tak jarang jadinya gundik bukan atas kemauannya, tak lain telah “dijual” lah ia oleh orang tuanya sendiri, persis seperti apa yang telah dialami nyai Ontosoroh itu, apapun alasan dan latar belakangnya semoga tak pernah kau alami peristiwa kejam sedemikian. Kau harus merdeka atas dirimu..tuangkan konsep emansipasi yang di kobarkan ibumu, ibuku, dan ibu kita semua, mulialah engkau, Kartini.

Sayangnya dibeberapa kalangan bahkan di kaum terpelajar sekalipun masih banyak yang mengenyampingkan tindakan “Emansipasi”. Mereka lupa bagian utama dari Emansipasi-lah yang menghadirkan umat manusia.

Teruntuk kalian para wanita! menjadi sadarlah atas penindasan-penindasan yang dulu atau bahkan sedang kalian alami..lahirkanlah para kartini itu, baik dalam fisik ataupun fikir. Dengannya kemuliaanmu akan menjadi lengkap dan tatkala jadilah ia sumber progresif atasmu. uh betapa kita semua rindukan sosok-sosok itu. Keluarlah dari konsep nyamanmu dan lembah mandalawangi siap untuk kau kunjungi, duduklah melingkar sembari menuangkan ide-ide progresif bagi kaum mu,bukanlah siapapun yang mampu merubah ini semua terkecuali kalian sendiri karena dirimu pula lah yang mengalami itu semua dan menjadi pahamlah kalian sampai pada akarnya. 
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar