Membentengi Diri di Era Informasi

sumber gambar : http://www.suduthukum.com/

Entah baru menjadi fokus pemerintah atau bagaimana, akhir-akhir ini pemerintahan Joko Widodo sedang giat-giatnya menyoroti media sosial terkait perilaku penggunanya. Ungkapan-ungkapan kebencian dan konten-konten provokatif yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya atau mungkin lebih familiar disebut hoax menjadi perhatian pemerintah. Ancaman hukuman atas pengunggah konten kebencian pun kembali digaung-gaungkan. Presiden Jokowi memerintahkan penegakan hukum yang tegas kepada pengguna media sosial yang terbukti menyalahgunakan media sosial dengan sengaja.

“Kafir!”, “Antek Komunis!”, “Pro Amerika!”, “Simpatisan ISIS!”, “Pro China!” dan ungkapan-ungkapan senada lainnya menjadi makanan setiap hari di jagat maya Indonesia. Belum lagi informasi-informasi yang tidak jelas dari mana asalnya yang begitu cepat menyebar. Saya heran kenapa masih banyak orang yang begitu gampang percaya dengan hal tersebut. Apa yang saya amati di dunia yang ‘tidak nyata’ alias maya itu sangat bertolak belakang dengan apa yang sering kita dengungkan sebagai orang yang menjunjung budaya ketimuran, sopan santun. Hinaan, cercaan, hingga ungkapan kebencian seakan sudah menjadi makanan sehari-hari netizen Indonesia, begitu sapaan akrab mereka.

Saya teringat kata-kata Zen RS yang mengatakan bahwa, “Hal yang berbahaya dari menurunnya minat baca adalah meningkatnya budaya berkomentar”. Apa yang ia katakan adalah potret kekinian karakteristik netizen Indonesia yang intensitas berkomentar di linimasa media sosial sangat tinggi tetapi tidak sejalan dengan etika yang seharusnya dijunjung. Sah-sah saja apabila komentar yang dimaksud adalah komentar yang kritis sekaligus solutif. Namun yang terjadi komentar yang muncul adalah komentar-komentar bernada hinaan, cacian, provokatif, serta tidak dapat dipertanggungjawabkan.

Sejenak menilik kembali konsep Jurgen Habernas pada abad 18 tentang ruang publik atau public sphere, maka ranah internet adalah konsep baru dari public sphere dalam bentuk yang berbeda. Internet memberikan dan menyediakan fasilitas bagi pengguna untuk menemukan cara baru dalam berinteraksi di berbagai aspek kehidupan seperti, ekonomi, politik, sosial, dan lain sebagainya. Kehadiran teknologi internet generasi 2.0 adalah dalang di balik karakteristik pengguna internet di Indonesia yang begitu masif berkomentar negatif di jagat maya. Tentu dengan tidak mengesampingkan sisi positifnya. Di satu sisi mendatangkan manfaat yang besar, di sisi lain juga membawa konsekuensi bagi mereka yang tidak bijaksana menyambutnya. Arus informasi tak mampu terbendung lagi, sebab setiap pengguna internet kini leluasa menciptakan dan saling berbagi konten di dunia maya (user generatef content). Konsekuensinya, terjadi overload informasi yang dikonsumsi sehingga kebenaran semakin sulit untuk dicari. Inilah kondisi yang disebut dengan era tsunami informasi (tsunami of information).

Jika pada era komunikasi massa masyarakat cenderung memiliki budaya partisipasi yang pasif terhadap konsumsi media, kini di era internet partisipasi aktif masyarakat sangat terlihat ketika mengonsumsi informasi. Perkembangan teknologi website generasi 2.0 telah mengubah gaya berkomunikasi masyarakat dunia maya yang dulunya pasif menjadi aktif berpartisipasi. Mereka dapat menciptakan konten serta saling memberikan feedback dan saling berdiskusi atas suatu informasi yang ia dapat di dunia maya mengenai berbagai macam isu. Masyarakat tidak lagi sebatas mengonsumsi informasi, tetapi juga aktif memproduksi informasi. Sayangnya, budaya menciptakan konten yang tinggi tanpa dilandasi dasar berpikir yang jernih dapat mendorong terbentuknya karakter netizen yang asal. Mereka dengan seenaknya memposting konten yang tidak dapat dipertanggungjawabkan serta berkomentar dengan tidak memperdulikan sopan santun. Maka tidak salah apabila New York Times dan media-media online besar lainnya di seluruh dunia mengambil kebijakan untuk memoderasi seluruh komentar yang masuk sebelum dimuat. Hal ini bertujuan untuk meliterasi pembaca agar tidak berkomentar negatif di kolom komentar.

Pentingnya literasi media sosial
Tingkat pemahaman masyarakat Indonesia dalam mengonsumsi media sangat bergantung dengan bagaimana mereka mampu berpartisipasi secara bijaksana dalam menyikapi suatu informasi yang sampai ke gawai-gawai mereka. Data terbaru dari Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia (APJII) pada akhir tahun 2016 lalu mencatat jumlah pengguna internet di Indonesia mengalami kenaikan tajam dari 88 juta pengguna di tahun 2015 menjadi 132 juta pengguna di akhir 2016. Tingkat penetrasi internet yang tinggi setiap tahun dengan bertambahnya pengguna internet di Indonesia harus diimbangi dengan gerakan-gerakan literasi media, khususnya media sosial. Saya masih ingat ketika mendapatkan tugas untuk melakukan gerakan literasi media dengan mendatangi sebuah sekolah menengah atas di Yogyakarta, Desember 2015 lalu. Ada dua sub materi yang kami sampaikan dalam kesempatan tersebut, pertama tentang literasi media televisi dan yang kedua tentang literasi media online. Fakta yang kami temukan di lapangan menunjukkan bahwa pengguna internet usia remaja, sebagai usia paling dominan dalam pengguna internet di Indonesia, lebih sering mengonsumsi informasi melalui media internet daripada harus menonton televisi. Etika dan sopan santun dalam bermedia sosial menjadi bahasan yang menarik waktu itu. Dari fakta tersebut dapat disimpulkan bahwa gerakan literasi media online juga harus dikampanyekan secara massif. Gerakan literasi ini sangat diperlukan agar statistik pengguna internet di Indonesia yang terus naik dapat berbanding lurus dengan kesadaran dan pemahaman masyarakat Indonesia, sehingga mereka dapat lebih bijak dan menjunjung sopan santun dalam mengonsumsi media baru internet sebagai bentuk partisipasi aktif. Budaya berkomentar di media sosial harus diarahkan kepada budaya positif masyarakat yang demokratis, bukan menebar kebencian. Selain itu, budaya verifikasi atas suatu informasi juga harus menjadi fokus sehingga berita hoax tidak lagi mudah tersebar dan kemudian menimbulkan kegaduhan. Pada akhirnya, selamat datang di era informasi, teruslah membentengi diri. (YA)
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar