Dicoret dari Kartu Keluarga

Sumber gambar : http://www.icf.org.hk/

Oleh : Muhammad Muzzaki

Rasa lelah dan kantuk mulai menyelimuti setelah aku menyelesaikan ujian dan pekerjaanku mengecat body mobil. Sore mulai menjelang, azan asar pun berkumandang pertanda aktivitasku dan teman-teman satu kelas harus disudahi. Sudah seperti tradisi sebelum merapikan tempat praktikum, kami berkumpul dan mengobrol. Aku jongkok menyandar tembok sedangkan teman-temanku dan satu instruktur kami yang ramah melingkariku. Seluruh mata tertuju padaku dan menahan tawa.

“Kenapa? Kok malah pada ketawa liat aku?” aku bertanya penasaran.

“Mukamu itu loh, muka kasihan. Udah rambut acak-acakan gondrong, mata bengkak kayak belum mandi,” temanku yang gemuk sangar menjawab.

Aku meringis menandakan yang dikatakannya memang benar. Aku belum mandi dan belum tidur sejak tadi malam, membuat tubuhku lemas dan mukaku pucat karena belum makan. Aku berpikir kalau aku tidak mengalihkan pembicaraan, maka bully-an akan menghujani. Sambil mengambil minum aku ingat bahwa nanti malam adalah tahun baru. Kebetulan instruktur yang ada di depanku adalah lulusan sarjana hukum islam, maka aku mulai bertanya.

“Gimana, nanti malam jadi apa nggak ini acara kita?” aku menanyakan kepada teman-temanku yang katanya ingin bakar ayam ketika malam tahun baru.

“Jadilah, itu udah dibeli kok ayamnya. Udah pada iuran juga,” lagi-lagi temanku yang paling sangar macam preman menjawab.

Aku bertanya seperti itu untuk memancing sang instruktur berkomentar tentang perayaan tahun baru yang sedang marak didiskusikan saat ini. Apalagi dengan maraknya pergerakan kaum pemuda islam saat ini.

“Mau ngerayain tahun baru dengan apa kalian?” sang instruktur mulai bertanya.

“Niatnya sih bakar ayam, Mas. Oya, Mas, tanya boleh? Menurut Mas sendiri boleh gak sih, Mas, ngadain perayaan tahun baru?” aku mulai mengerucutkan pembicaraan.

“Ya boleh. Kenapa gak boleh? Memangnya pemerintah melarang? Memangnya kenapa?” dia bertanya balik sembari tersenyum.

“Tapi kan Mas, kalo kita meniru perilaku suatu kaum kita akan dianggap kaum itu,” aku memperjelas maksud pertanyaanku.

“Iya memang. Tapi perayaan tahun baru memangnya ga boleh? Ya boleh-boleh saja. Yang gak boleh itu kalo perayaan tahun baru tapi berbuat kejahatan, melakukan perbuatan yang dilarang, seperti mabuk-mabukan, berbuat mesum. Kalo perayaan tahun baru dengan cara yang baik, misalnya, membaca Alquran bersama-sama, diskusi bersama untuk membuat sebuah resolusi tahun depan, doa bersama, kenapa tidak?”

“Oh, jadi kembali kepada bentuk perayaannya ya, Mas?”

“Yoi, brother.”

Aku setuju dengan jawaban tadi. Kalau dinalar, permasalahan tahun baru, dalam Islam pun ada Tahun Baru Islam, di Konghucu dan Kristen juga ada tahun baru. Sepertinya boleh tidaknya perayaan tetap saja tergantung kepada bentuknya. Parah juga kalau sampai bentuk perayaannya salah, bisa jadi gawat.

“Nah, nanti malam mungkin kalian bisa sisipi acara bakaran kalian dengan doa bersama. Ini ada teman kalian yang pintar mengaji ini,” sembari menepuk temanku yang kurus tinggi sambil tersenyum meledek.

“Wah, ini…. Ini yang namanya pernyataan mitos,” sambil mengacung-ngacungkan jari ke instruktur kami. Pecahlah tawa saat itu. Kondisi tawa bersama itulah yang sering kami sebut sebagai bahagia itu simple.

Saat itu aku berdoa semoga teman-teman sedikit tersadarkan dan nanti malam mungkin bisa digalakan sebuah doa bersama atau diskusi bersama untuk tahun 2017. Tahun yang merupakan tahun terahir kami semua bersama di sini karena kami akan menginjak semester 6 yang artinya semester akhir bagi kami.

“Eh, aku pulang dulu ya, nanti malam aku datengnya nyusul. Ini disuruh pulang sama Kanjeng Mamih,” dia minta izin sambil menunjukkan handphone-nya sebagai bukti.

“Lah. Nanggung banget. Besok aja kenapa?” aku mencoba untuk menahan pulang salah satu temanku

“Gak bisa. Ini urgent kalo sampe aku gak pulang bisa bisa dicoret aku dari kartu keluarga. Ra ulih gaji bulanan neh modyar aku,” dia bersikeras.

Jawaban temanku mengingatkanku tentang kampung halamanku. Sudah hampir enam bulan aku tidak pulang. Tak pernah ayah-ibuku meminta untuk pulang, yang mereka minta hanyalah aku belajar dengan baik dan menjadi anak yang pintar. Semoga saja aku bisa pulang akhir semester ini melepaskan rindu kepada kedua orangtuaku.
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

1 comments: