Tebarkan Kedamaian bersama MGPS

Sambutan Tun Dr Mahathir.

Unversitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) kembali menyelenggarakan acara Mahathir Global Peace School #5 (MGPS #5) bekerjasama dengan Perdana Global Peace Foundation. Mengusung tema “Peace and Inter-religious Dialogue In Worldwide Education” kegiatan tersebut berlangsung dari tanggal 26 November – 5 Desember 2016 dan pada tanggal 5 Desember 2016 bertempat di Sportorium bersama dengan Tun Dr Mahathir Mohamad. Dalam acara tersebut juga diluncurkan sebuah buku berjudul discovering piece. Acara tersebut diikuti oleh berbagai elemen dari mulai tamu undangan, TNI/Polri, Sipil, dan Mahasiswa Baru 2016 UMY.

Bambang Cipto selaku Rektor UMY mengatakan pada sambutannya untuk memperhatikan setiap perkataan dari Mahathir karena Mahathir adalah orang yang sering menginspirasi banyak orang. Begitu pula dengan Wakil Gubernur DIY yang turut memberikan sambutan memberikan apresiasi besar terhadap Mahathir.

Mantan ketua Majelis Ulama Indonesia, Din Syamsudin juga turut berpartisipasi dalam acara tersebut. Syamsudin mengatakan bahwa agama memegang peranan penting dalam menjaga perdamaian di suatu negara dan perdamaian antar negara dengan pendidikan juga sangat penting untuk mencapai hal tersebut. Syamsudin ini juga mengulas permasalahan penistaan agama yang sedang marak dibicarakan. Menurutnya untuk meciptakan sebuah perdamaian dalam suatu negara tidak boleh ada seseorang yang melakukan tindakan penistaan agama. “Secara harfiah penistaan agama adalah melakukan penghinaan terhadap agama, nilai-nilai yang ada dalam agama, melakukan penghinaan terhadap ulama yang menafsirkan nilai agama. Jalan terbaik untuk menyelesaikan hal tersebut adalah dengan penegakan hukum dan hukum yang digunakan adalah hukum yang adil dan mempertimbangkan berbagai aspek dalam masyarakat,” ujarnya.

Sedangkan Tun Dr Mahathir Mohamad mengatakan bahwa agama islam telah mengajarkan nilai perdamaian dengan bentuk memberikan salam ketika bertemu dengan orang lain. “Islam is a way of life

Menurut Mahathir kenyataan yang terjadi ternyata sebaliknya hingga hari ini muslim masih membunuh orang muslim lainnya. Hal tersebut menandakan sebuah ketidakstabilan yang terjadi. Saat itulah peran agama dibutuhkan dalam rangka menumbuhkan nilai-nilai agama mengenai perdamaian. Realita yang terjadi saat ini adalah ketika ada sebuah permasalahan antar negara maka akan ada kesempatan bagi dunia industri senjata untuk masuk dan membuat sebuah doktrin sehingga kedua negara tersebut memilih jalan berperang. Ketika berperang maka tidak ada yang namanya kemenangan karena negara yang kalah akan rata dengan tanah dan perang hanya menghabiskan banyak uang untuk membeli senjata, maka yang untung adalah industri senjata. Mahathir juga menyampaikan bahwa memecahkan permasalahan dengan perang adalah cara yang primitif. Cara yang modern adalah dengan cara berdialog bersama.(MUZK)
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar