Remaja dan Krisis Identitas

Sumber gambar : https://rambutponi.wordpress.com/category/tulisan/ini/

Dewasa ini, hampir semua kalangan khususnya para remaja tidak bisa terlepas dari media sosialnya.  Rasanya ada yang kurang, jika sehari saja tidak mengecek media sosial. Menurut data Kementrian Komunikasi dan Informatika bersama UNICEF (United Nations International Children's Emergency Fund) mengungkapkan 30 juta anak-anak dan remaja di Indonesia merupakan pengguna internet. Selain itu, hasil studi menemukan bahwa 80 persen responden yang disurvei merupakan pengguna internet. Misalnya, di Daerah Istimewa Yogyakarta, Jakarta, dan Banten, hampir semua responden merupakan pengguna internet. Mayoritas dari mereka yang disurvei  telah menggunakan media online selama lebih dari satu tahun.

Efek media sosial pun sangat besar bagi remaja, media sosial dianggap menjadi sebuah trend setter hingga tempat untuk berbagi. Masih ingatkah kasus tentang  pasangan remaja dimana perempuanya memakai jilbab mencium ketiak pasangan yang melepas baju? Perbuatan itu dianggap wujud kasih sayang pasangan yang menerima apa adanya, hal itu pun diikuti oleh beberapa remaja lainnya.

Tidak hanya itu saja, dilihat dari salah satu postingan akun instagram selebgram yaitu Rachel Venya, saat  Rachel beserta sang kekasih pergi berlibur bersama, dilihat  dari komentar di akun tersebut  yang mayoritas  masih remaja  menganggap hal itu adalah relationship goals.  Pergi berdua dengan sang kekasih dengan waktu yang cukup lama dianggap menjadi sebuah tujuan dari suatu hubungan dan mereka ingin hal itu terjadi di kehidupan mereka.

Gambaran diatas menunjukkan bahwa remaja saat ini telah mengalami krisis identitas. Apakah semua remaja mengalami krisis identitas? Tidak, tidak semua remaja mengalami krisis identitas. Remaja yang tidak mengalami krisis identitas adalah remaja yang memiliki orientasi hidup yang benar, tujuan hidup yang jelas, dan nilai-nilai yang kuat.


Masa remaja memang masa dimana sedang mencari jati diri dan senang mencoba hal yang baru, namun dengan adanya terpaan media sosial yang bersifat negatif mampu membuat remaja menjadi krisis identitas. Krisis identitas  sangat tergantung bagaimana mereka dibesarkan, baik oleh orangtua di rumah maupun guru di sekolah, apa yang paling sering mereka perhatikan, terpaan media yang paling sering mereka terima serta ajaran utama dari buku-buku, guru-guru, orangtua, dan lingkungan. (TT) 
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar