"Dinggo Seneng-Seneng Bareng"

Sumber gambar : ayobuka.com

DIA, seorang pemuda menghampiri saya ketika sedang duduk di kantin dekat parkiran kampus. Badannya berisi dan cukup tinggi, dengan muka yang bulat. “tak cariin dikantin kapitalis ga ada ternyata kamu disini,” katanya sambil menuju ibu kantin untuk memesan minuman.

Sapa juga yang bilang aku dikantin kapitalis. Mana pernah aku pesen dikantin situ,” kataku. 

“Nih rokok. Ada korek ngga?” katanya sambil melemparkan sebungkus rokok dan menarik kursi plastik. Aku sodorkan korek dari saku bajuku.
“Aku tadi pagi liat berita tentang kenaikan harga rokok. Katanya harga rokok di Indonesia termasuk murah, katanya perlu dinaikan. Ngga tanggung-tanggung opini yang dimuat harga rokoknya harus mencapai 50 ribu.supaya mengurangi jumlah perokok. Aku langsung tepuk tangan. Edan kali ya, dikiran rokok itu apaan enteng banget mau naikin harganya jadi 50 ribuan. Kalo efeknya Indonesia jadi negara maju gamasalah, kalo ga negara maju ya jadi lunas utangnya. Wis, Aku setuju lagipula kata termasuk murah emang udah diitung sesuai dengan pendapatan rata rata orang Indonesia. Kalo mereka ambil data di negara maju ya sontoloyo itu namanya,” sambil menghisap rokok.

Belum sempat aku menanggapi, dia terus nyerocos lagi, “tahun 2014,2015 rokok aja udah naik luar biasa ini mau naik lagi jadi ga kira-kira. Kalo memang rokok itu hal yang ga penting. Seharusnya pemerintah gausah repot-repot bikin aturan mengenai rokok kan. Nah buktinya ada aturannya. Artinya rokok punya pengaruh yang cukup besar. Apalagi untuk apa itulah devisa negara atau saku pegawai negara”.

“Ya trus harusnya gimana?” aku memotong.

“Ya gini, sebelum keputusan kenaikan disahkan sebaiknya dilakukan perundingan, pengecekan, dan berbagai hal lainnya yang memang dibutuhkan sebagai indikator untuk menentukan seberapa kenaikan harga cukai rokok yang baik. Bukan enaknya dinaikin berapa. Kalo enaknya berarti mereka dapet untung juga dong dengan menaikan harga cukai. Kalo mereka punya rasa cinta terhadap bangsa Indonesia bukan enaknya tapi baiknya. Karena semua keputusan diambil demi memajukan bangsa Indonesia”.

“Loh kan dengan mengurangi perokok di Indonesia kan menjadikan Indonesia Negara yang baik juga,” kataku.

“Kamu tau berapa perokok di Indonesia? Kamu mau bersihin pake apa? Naikin harga rokok? Efeknya malah akan negatif kalo kaya gitu. Nanti ada rokok illegal gimana coba? ribut lagi deh. Gimana kalo sampe mereka menggunakan segala cara buat dapet rokok? Aku ga masalah rokok naik yang penting kenaikannya rasional dan hasil kenaikan rokok bisa positif bagi Indonesia jangan dikantongin melulu duit hasil jualannya ya”.

“Aku setuju sama kamu. Masalah akhirnya ya sebenernya dipuncake duite digowo ngendi sakjane. Wong cilik yo ora ngerti lungane kui duit,” jawabku dengan bahasa jawa.

“Aku jadi gregetan sendiri lama-lama loh. Orang kecil semakin ga karuan hidupnya akibat aturan yang diberi celah buat tikus masuk. Yang tau jalannya ya cuma tikus. Kambing mana tau jalannya muat juga enggak,”katanya sambil tersenyum.

Aku tertawa mendengarnya. “Aku paham maksudmu. Jadi kalo mau bandingin harga rokok Indonesia dan luar negeri harus liat juga pendapatan rata-rata warganya. Kalo mau naikin harga rokok liat-liat dulu. Kalo udah setuju buat naik hasilnya jangan dikantongin sendiri tapi buat belanja dan seneng-seneng bareng. Gitu kan?” aku tertawa.

“Setuju buat beli kopi aja wis. Kamu yang bayarkan kopinya ini. Oya nih buku yang kamu titip kemaren harganya 50  ribu,” katanya sambil tertawa dan menyerahkan buku.
“buset harganya kaya rokok sebungkus,” kami tertawa bersama menghabiskan kopi kami dan pergi masuk kelas. (MUZK)
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar