Rasio Jumlah Mahasiswa dan Dosen UMY, Idealkah ?

Sumber gambar : poetsandquants.com

Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) masih menghadapi problematika dalam pelaksanaan sistem akademik di kampus. Problem ini mengenai rasio jumlah mahasiswa dan dosen yang belum ideal. Jumlah mahasiswa di UMY sendiri ada sekitar 21.588 orang, dan jumlah dosennya sendiri ada sekitar 580 orang. Sehingga perbandingan rasio antara dosen dengan mahasiswa adalah 1:39. Perbandingan ini sangat tidak ideal jika melihat peraturan Menteri mengenai rasio perbandingan. Untuk kampus swasta, jumlah perbandingannya adalah 1:30 untuk program studi bidang eksakta dan 1:45 untuk bidang sosial-humaniora.

Ketidakidealan ini disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya adalah banyak jumlah mahasiswa yang tidak lulus dan menunggak pengerjaan tugas akhir hingga bertahun-tahun. Masalah rasio ini sudah menjadi perhatian dari pihak rektorat dan jajarannya. Untuk itu, saat ini diberlakukan peraturan ketat terhadap mahasiswa yang menunggak atau mahasiswa lama yang tidak kunjung wisuda.

Peraturan dilakukan dengan sistem drop out (DO) tiap semester. Hal ini sesuai dengan Surat Keterangan (SK) Rektor Nomor: 015/SK-UMY/IX/2015 yang menggantikan Keputusan Rektor Nomor: 172/SK-UM/XII/2011 mengenai Drop Out dan Pengunduran Diri Mahasiswa. Dampaknya, sebagai contoh pada semester genap tahun ajaran 2015/2016, UMY men-DO 978 mahasiwanya dari berbagai fakultas.

Rasio ketidak seimbangan ini memberikan dampak lain bagi proses akademik kampus. Antara lain dengan jumlah yang tidak ideal banyak kelas yang harus dibuka. Sedangkan dengan jumlah dosen yang tidak seimbang mengakibatkan kelas harus dilaksanakan hingga larut malam. Lebih lanjut, dengan adanya hal tersebut, maka di akhir semester pengumpulan nilai akhir juga akan memakan waktu lebih lama.

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) menjadi salah satu yang over capacity. Menurut Dekan Fisipol, Ali Muhammad, ketidakidealan ini terjadi karena berbagai faktor, “Fisipol sendiri memang belum ideal. Di Hubungan Internasional (HI) rata-rata 1 banding 60, Ilmu Pemerintahan (IP) 1 banding 66, Ilmu Komunikasi (IK) 1 banding 52. Mengapa? Karena memang UMY melakukan pengembangan homebase dosen dari yang hanya di S1 menjadi S2 dan S3. Konsekuensinya adalah dosen yang dulu di S1, homebase-nya dipindah ke S2 dan S3. Ada ketidakidealan karena ada pemindahan homebase tadi”.

Namun, pihak rektorat dan fakultas sendiri sudah melakukan upaya untuk mengurangi angka rasio ini. Ali menerangkan, “Universitas sebenarnya sudah menyadari ada ketidakidealan rasio. Selama ini, ada banyak mahasiswa yang terdaftar, tapi tidak aktif. Jadi untuk mengurangi jumlah yang kelihatannya banyak tapi tidak ada itu dilakukan Drop out (DO) bertahap. Langkah kedua adalah mengendalikan jumlah mahasiswa masuk, Dan langkah ketiga yaitu jumlah dosen ditambah. Di HI merekrut 10 dosen dan di IP sekitar 6-7 dosen”.

Penyebab lain untuk Fisipol, terjadi karena dosen-dosen yang melanjutkan studi ke universitas dalam dan luar negeri. “Ada sekitar 23 dosen yang meneruskan pendidikan di dalam dan luar negeri. Ada yang 3 di Inggris, Australia 1, Jerman 1, Malaysia 2, Spanyol 1, dan lainnya di dalam negeri. Fisipol sendiri mengharuskan para dosennya untuk bergelar S3. Dosen Fisipol sendiri ada sekitar 82 orang," jelas Ali kepada reporter Nuansa.


Wakil Rektor I, Gunawan Budiyanto menyampaikan upaya mencegah rasio ini adalah dengan merekrut sekitar 139 tenaga pengajar baru. Namun, tidak semua tenaga pengajar tersebut dapat mengajar ke mahasiswa secara langsung. Semua dosen baru harus mengikuti workshop selama sekitar satu tahun, agar mereka dapat mengerti cara mengajar dan perilaku mahasiswa. Itu pun tidak semuanya bisa langsung lulus. Bahkan ada yang harus mengulang hingga dua sampai tiga kali untuk dapat mengajar. Inilah yang menjadi penyebab lamanya dosen baru mengajar di kelas.  (RKh,  RYS, Apr, Che)
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar